Legomoro, Air Terjun Tersembunyi di Hutan Tengkorak Banyuwangi

SABTU, 21 JANUARI 2017

BANYUWANGI — Gemuruh banjuran dua air terjun kembar dari satu sungai itu lamat-lamat memecah keheningan siang di tengah belantara hutan pinus. Dari ketinggian 10 meter, dua banjuran mata air terjun menghantam deras ke satu dari empat tingkat susuan batuan di bawah. Banjuran air yang semula turun deras, pelan-pelan mengalir ke tingkatan yang lebih rendah.  
Air terjun dengan satu banjuran di lokasi Air Terjun Kembar Legomoro
Sebelum mengalir turun ke anak-anak sungai berikutnya, air dari ketinggian itu terkumpul ke dalam kolam buatan seluas lapangan bola voli yang dipagari tumpukan karung pasir. Aneka pahatan bebatuan berbentuk kepala naga, kepala macan, dan kepala manusia, muncul di sela empat tingkat susunan batuan itu.  
“Ini namanya Air Terjun Kembar Legomoro yang baru dibuka dua bulan lalu,” ujar Misri kepada Cendana News, Sabtu (21/1/2017). 
Menurut Misri, penamaan objek wisata itu berdasarkan banjuran dua mata air terjun yang muncul dari satu aliran sungai. Selain itu, kata Misri, seorang mandor Perum Perhutani KPH Banyuwangi selatan turut andil menyematkan nama ‘Legomoro’. 
“Warga yang tua-tua setuju saja,” Misri menambahkan.
Misri, pria sepuh berusia 65 tahun asal Dusun Sumbermulyo, Desa Margomulyo, Kecamatan Glenmore, itu kebetulan salah satu dari sedikit penduduk sekitar yang ikut merintis pembukaan Air Terjun Kembar Legomoro. Aliran air terjun Legomoro berasal dari salah satu sumber mata air yang muncul di sekitar kaki Gunung Raung. Ia pun berinisiatif memahat batuan menjadi aneka rupa bentuk patung di sana. 
“Saya juga ahli bikin patung dari batu.”
Menurut Misri, sesepuh dusun sejatinya sudah lama mengetahui keberadaan air terjun yang semula bernama Awet Ayu. Tapi, kata dia, warga belum tercetus ide menggarap potensi destinasi wisata tersembunyi di balik belantara hutan pinus itu.
Ide mengelola objek wisata air terjun baru muncul setelah sesepuh dusun berkeluh-kesah mencari solusi bagaimana memanfaatkan potensi lokal demi mendatangkan pundi-pundi rupiah. 
“Kami yang tua-tua ingin ada sumber penghidupan bagi warga desa,” ujar Misri.
Ide  direspons positif oleh seorang warga desa setempat bernama Wawi. Menurut Misri, sosok Wawi dikenal sebagai orang yang berpengalaman mengelola tempat pariwisata di Bali. Tak ingin kecolongan momentum, Wawi lekas menggelontorkan dana untuk membuka area semak belukar di sekitar air terjun tersebut.
Warga dusun yang terdiri atas 15 orang pun antusias bergotongroyong membuka akses ke lokasi air terjun kembar. Misri mengingatkan warga mesti menebas aneka jenis tumbuhan semak dan meratakan gundukan lahan yang semula menutupi banjuran air terjun.
Air Terjun Kembar Legomoro di kaki Gunung Raung, Kabupaten Banyuwangi
Terpaut seratus meter dari air terjun kembar itu, warga juga membuka jalan setapak menuju ke lokasi air terjun lainnya. Titik lokasi dua air terjun ini sebenarnya cuma terpisah punggungan bukit dengan sumber mata air yang berlainan. Hanya, berdasarkan pantauan Cendana News, satu goa muncul di balik air terjun dengan satu mulut banjuran yang menghantam deras ke bawah. Air terjun ini lebih jernih dan segar ketimbang dua mata air terjun kembar.
Toh, warga bersepakat penamaan ketiga mata air terjun itu sebagai Air Terjun Kembar Legomoro. 
“Sebelum membersihkan semak-semak, saya minta restu kepada penunggu goa agar memberikan keselamatan bagi pengunjung,” kata Misri menceritakan ulang secuil pengalamannya.
Misri mengakui air terjun dengan satu banjuran lebih kental beraroma mistis. Ia menyarankan pelancong tidak sendirian ketika berkunjung ke air terjun semacam itu. Adapun seorang penjaja warung di sana, Sulastri mengatakan, warga sekitar kerap menamakan daerah hutan pinus Air Terjun Kembar Legomoro sebagai daerah tengkorak.
Tapi Misri berharap, keberadaan destinasi wisata baru dua lokasi air terjun tidak membawa malapetaka bagi pelancong. Dua bulan setelah dibuka, Misri mengatakan pendapatan kotor rata-rata masih Rp 700 ribu setiap pekan. Duit ini berasal dari sumbangan sukarela pelancong.
Warga memang belum mengutip duit karcis resmi karena menunggu dasar hukum pengelolaan dari Perum Perhutani.  Pelancong hanya diminta menyumbang sukarela untuk tiket masuk. “Yang pasti, nantinya uang hasil pengelolaan ini dibagi untuk kepentingan desa dan Perhutani,” ujar Misri.
Di Kabupaten Banyuwangi, pamor Air Terjun Kembar Legomoro belum semoncer objek wisata seperti Pantai Pulau Merah, Pantai Boom, Gunung Ijen, Wisata Waduk Sidodadi, atau Teluk Ijo. Maklum, air terjun ini baru dibuka pertengahan November 2016 lalu. Namun, kasak-kusuk Air Terjun Kembar Legomoro pelan-pelan mulai menyita perhatian warga Banyuwangi.
“Memang belum banyak yang tahu. Warga dari Kecamatan Genteng, Rogojampi, dan Gambiran, malah yang kepengin tahu air terjunnya,” ujar Sulastri. Menurut dia, banyak warga kecamatan tetangga yang justru penasaran terhadap objek wisata Air Terjun Kembar Legomoro.
Selain merasakan banjuran air dari ketinggian, pelancong bisa berenang di kolam buatan. Warga menyediakan ban pelampung dengan harga sewa tiga hingga lima ribu rupiah per ban pelampung.
Ada dua akses utama menuju lokasi Air Terjun Kembar Legomoro yang terletak di pelosok Desa Margomulyo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi. Anda bisa turun di Stasiun Glenmore atau Stasiun Sumber Wadung bila menggunakan jasa kereta api kelas ekonomi rute Surabaya-Banyuwangi. Jasa ojek menjadi opsi tunggal untuk mengantarkan pelancong ke lokasi air terjun.
Adapun bila menggunakan angkutan umum bus yang melintasi jalan provinsi ruas Jember-Banyuwangi dan sebaliknya, Anda sebaiknya turun di simpang tiga Kecamatan Glenmore atau pertigaan dokaran, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore. Dari titik ini, Anda mesti menyewa jasa ojek menuju lokasi karena jenis angkutan umum lain belum tersedia.
Jalan makadam menuju ke lokasi air terjun
Letak air terjun yang di pelosok desa membuat akses ke lokasi sedikit menyita energi. Anda mesti melewati secuil jalan makadam yang membelah hutan pinus mulai simpang tiga perbatasan antara Desa Bumiharjo dan Desa Margomulyo. Kontur jalan semacam ini justru menambah sensasi adventure menuju objek wisata baru di kaki Gunung Raung itu.

Jurnalis : Diananta P Sumedi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Diananta P Sumedi

Lihat juga...