SENIN, 23 JANUARI 2017
SOLO — Tinggal di daerah dataran tinggi yang jauh dari perkotaan tidak membuat warga Dusun Pempel, Desa Anggrasmanis, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah, berputus asa untuk tetap berkarya memajukan daerahnya. Dengan bermodalkan pemandangan alam yang masih hayati, membuat warga yang ada di lereng Gunung Lawu tersebut menciptakan ide kreatif, menangkap potensi alam yang luar biasa.
![]() |
| Rumah Pohon, salah satu wahana alternatif di area Jembatan Selfi. |
Ya, inilah Jembatan Selfi, hasil karya masyarakat Anggrasmanis yang jauh dari pusat kota Kabupaten Karanganyar. Karena untuk menuju lokasi wisata yang belum lama dibuka ini perlu waktu hampir 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor dari pusat kabupaten. Tapi jangan khawatir, perjalanan tidak akan terasa lama. Karena di sepanjang jalan, pengunjung akan disuguhi dengan kerindangan pepohonan, hutan karet, sungai, dan sejuknya lahan sawah hijau yang membentang luas.
“Jembatan Selfi ini baru kita buat pada Oktober 2016 lalu. Ide ini muncul dari teman-temen mahasiswa yang melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata), untuk memaksimalkan potensi alam yang sangat indah. Baru setelah itu, kita coba buat dengan merakit jembatan dari bambu,” ucap pengelola Jembatan Selfi, Warsito, kepada Cendana News, Senin (23/1/2017).
Untuk bisa sampai di objek wisata ini, baru bisa dilalui sepeda motor, karena jalur yang ada baru kecil dan licin. Bahkan, seringkali untuk antisipasi agar tidak tergelincir, ada petugas yang membantu dengan ganjel ban. “Ini untuk antisipasi agar tidak terjatuh. Apa yang ada di wisata ini murni swadaya masyarakat,” jelas pria yang menjabat sebagai kepala dusun tersebut.
![]() |
| Warsito. |
Meski tergolong masih baru, objek wisata Jembatan Selfi sudah mulai ramai didatangi pengunjung. Terutama dari kalangan anak muda dan remaja yang saat ini tengah tren selfi. Dengan hanya mengeluarkan Rp 6 ribu, pengunjung sudah dapat menikmati berbagai fasilitas untuk memanjakan mata menikmati suasana pegununan kawasan Lawu tersebut. “Itu sudah termasuk uang parkir sepeda motor,” sebutnya.
Di Jembatan Selfi ini, pengunjung tidak hanya melihat pemandangan alam yang masih sangat alami. Sebab, pengelola wisata juga membuat rumah pohon yang tingginya sekitar 5 meter dari tanah. Tak hanya itu, untuk yang ingin bersantai, pengelola juga telah membuat gazebo-gazebo di sekitar bukit yang berada di belakang kampung Tempel itu.
Pesona Jembatan Selfi banyak menarik kalangan muda karena berada di ketinggian 1.500 di atas permukaan laut. Tak jarang, jika berada di Jembatan Selfi dan rumah pohon, kencangnya angin selalu menghampiri siapa saja yang berada di lokasi tersebut. Objek wisata ini ramai dikunjungi setiap akhir pekan. “Kita buka mulai pupul 07.00 sampai 18.00 WIB,” imbuhnya.
![]() |
| Vita. |
Diakui Warsito, sejak dibuka pada Oktober 2016 lalu, manfaatnya sudah mulai dirasakan warga. Sebab, ekonomi di desa yang jarang dikunjungi tersebut, mulai ramai dan ekonomi mulai bergeliat. Dari warung makan yang bermunculan, tukang ojek, serta pekerjaan sambilan warga lainnya.
“Jadi warga tidak hanya ke ladang saja. Sekarang sudah ada 9 warga yang membuka warung, belum tukang ojek dan lainnya. Ini kita kembangkan, murni swadaya warga untuk kesejahteraan bersama,” tandasnya.
Bagi pengunjung banyak yang mengaku penasaran dengan Jembatan Selfi yang ada di lereng Lawu sisi barat laut tersebut. Sebab, di media sosial sudah banyak yang menikmati pesona wisata alam tersebut. “Penasaran, karena banyak yang sudah upload fotonya. Ternyata memang sangat bagus. Puas rasanya bisa foto-foto di sini,” ucap salah salah pengunjung, Vita.
Selain Jembatan Selfi, duduk di rumah pohon mempunyai sensasi tersendiri karena angin selalu berhembus kencang. Suasana tersebut, menurut Vita, dapat menjadi tantangan tersendiri karena untuk naik ke rumah pohon harus naik anak tangga tanpa adanya pengaman satu pun. “Adrenalinnya bisa tertantang, karena memang belum banyak pengamannya,” imbuh warga Sragen, Jawa Tengah, tersebut.
![]() |
| Pesona Jembatan Selfi. |
Kendati pesona alam yang disajikan sudah cukup menjual, sebagian besar pengunjung berharap akses menuju lokasi dapat diperbaiki. Sebab, sampai saat ini jalan yang ada masih berbatu dan licin. Tak hanya itu, adanya potensi lokal masyarakat itu harus didukung Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Ini untuk mengangkat potensi lokal yang ada demi kesejahteraan masyarakat.
Jurnalis: Harun Alrosid / Editor: Satmoko / Foto: Harun Alrosid


