Hektaran Sawah di Penengahan Diserang Hawar Daun Padi

SELASA, 17 JANUARI 2017

LAMPUNG — Ratusan petani pemilik hektaran sawah di Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, dikejutkan dengan kondisi tanaman padi yang menguning pada bagian pucuk daun pasca angin barat berhembus kencang dan melanda kawasan lahan pertanian padi. Menurut salah satu petani di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan, Rahmat (34), serangan penyakit kresek, hawar daun bakteri sudah terjadi sejak beberapa hari terakhir dan merata menyerang tanaman padi milik petani di wilayah tersebut. Gejala yang terlihat di antaranya pucuk daun padi mulai menguning. Selanjutnya menjalar melalui pinggir daun hingga ke pangkal. Khawatir kondisi tersebut semakin menyerang ke semua tanaman yang dimilikinya, Rahmat mulai melakukan penyemprotan pupuk cair jenis corynebacterium untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri (HDB) tersebut.

Rahmat menunjukkan telur keong mas yang menyerang tanaman padi miliknya.

Rahmat mengungkapkan, penyakit yang dikenal dengan kresek daun tersebut, mulai menyerang saat tanaman padi yang ia miliki berusia sekitar 50 hari. Sebagian besar tanaman padi miliknya bahkan sebagian daun mulai menguning dan terlihat mengering meski kondisi tulang daun pada tanaman padi masih terlihat segar. Kondisi tersebut jika tidak segera diatasi, menurut Rahmat, akan berakibat pengisian malai akan sampai pada ujungnya saja dan mengurangi produktivitas padi yang ia tanam.

“Saya gunakan pupuk cair untuk memulihkan kondisi tanaman padi yang mulai menguning pada bagian daun, setelah sebagian besar daun mulai menghijau, pemberian pupuk secara normal dengan ditaburkan,” ungkap Rahmat saat ditemui Cendana News di lahan sawah miliknya, Selasa (17/1/2017).

Selain diserang penyakit hawar daun bakteri tersebut, varietas tanaman padi yang ditanamnya berupa padi Ciherang serta IR 46 tersebut, mulai diserang hama keong mas yang bertelur pada bagian batang padi. Khusus untuk penanganan hama keong mas, ia mengaku, secara rutin melakukan pengecekan di setiap rumpun padi  untuk membersihkan telur-telur keong mas yang menggunakan batang padi sebagai tempat bertelur dan setelah bertelur akan memakan daun padi yang masih muda.

Petugas penyuluh pertanian Unit Pelaksana Teknis, Dinas Pertanian di Desa Pasuruan, Sutrisno, mengungkapkan, serangan penyakit hawar daun bakteri atau dikenal dengan penyakit kresek tersebut disebabkan oleh bakteri xanthomonas oryzae pv. Dampak dari bakteri xanthomonas oryzae pv tersebut di antaranya mengakibatkan kerusakan tanaman dan menurunkan produksi bahkan dalam serangan berat dapat mengakibatkan puso (gagal panen). Selain itu, penyakit hawar pelepah dan busuk batang yang berawal dari hawar daun bakteri tersebu, menyebabkan tanaman mudah rebah sehingga mengganggu proses pengisian gabah dan bulir tidak terisi serta mengurangi produktivitas padi saat panen.

“Angin kencang yang berakibat daun-daun saling bergesekan dan mengakibatkan luka pada daun mengakibatkan daun padi menguning dan cepat menyebar ke tanaman padi lain. Bakteri tersebut ada oleh karena persebaran angin,” ungkap Sutrisno.

Penularan penyakit tersebut, ungkap Sutrisno, didukung oleh angin dan kondisi cuaca yang kurang baik akibat musim hujan sehingga penyakit berkembang dengan cepat. Angin barat yang cukup kencang akhir- akhir ini, menyebabkan daun tanaman padi saling bergesekan dan menimbulkan luka pada bagian hidatoda (pori-pori) daun. Ia mengimbau kepada petani untuk mengurangi penggunaan pupuk nitrogen berlebihan. Selain itu proses pengeringan berkala dan penerapan sistem jajar legowo bisa meningkatkan kemampuan bertahan tanaman terhadap penyakit.

Pucuk daun padi menguning akibat hawar daun bakteri atau dikenal dengan kresek menyerang daun padi sehingga layu.

Selain penggunaan pupuk cair anti bakteri, ia juga mengimbau untuk meningkatkan ketahanan tanaman padi di lapangan dengan menambahkan pupuk kalium. Penambahan pupuk kalium organik akan meningkatkan ketahanan tanaman padi dari serangan penyakit kresek/hawar daun bakteri.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...