SELASA 24 JANUARI 2017
BANDUNG—Musisi balada dewasa ini boleh dibilang bak barang antik di tengah gandrungnya musik seperti K-Pop, Rhythm and Blues (RnB), Hip-hop juga Electronic Dance Music (EDM). Adalah Ferry Curtis salah satu musisi yang setia mengusung jalur balada sejak dekade 1990-an.
![]() |
| Ferry Curtis. |
Pria kelahiran Purwakarta, Jawa Barat 20 Oktober 1969 ini sudah merampungkan lebih dari 200 karya lagu. Juga telah mengemas 3 album solo, 6 album kolaborasi dan 1 album anak.
Ferry menilai industri musik konvensional saat ini boleh dibilang tak banyak membantu, khususnya bagi para musisi di genre non mainstream. Karena itu, sebagai pelaku seni dituntut cerdas dalam mengemas karyanya.
“Industri kita harus ciptakan sendiri kita tidak bisa mengandalkan mayor lebel unyuk menampung kita,” kata Ferry.
Pada periode 1990-an hingga 2000-an awal, bentuk fisik karya musik masih banyak diperjualbelikan. Di mana musisi pun mendapat keuntungan dari penjualan kaset maupun CD garapan mereka. Yang terjadi saat ini, budaya digital merajarela. Masyarakat lebih memilih mengunggah lagu via internet daripada harus merogoh dompet.
Menurut Ferry, kemajuan teknologi bukanlah sesuatu yang harus dicegah. Artinya, musisinya sendirilah yang harus memutar otak guna mencari formulasi jitu, agar karyanya mendapatkan pengakuan.
“Dengan saya mengisi materi workshop dan kita manggung itu bagian dari terobosan. Karena menurut saya sekarang bukan zamannya lagi orang datang ke toko kaset, tapi seberapa banyak kita menggelar pertunjukan, melakukan workshop,” katanya.
Memang dewasa ini banyak bermunculan jenis musik anyar. Namun Ferry tidak merasa kehilangan pasar. Dikatakan, musik balada tetap memiliki penggemar.
“Karena balada seperti barang antik jadi yang sukanya juga orang-orangnya khusus. Dan jangan salah harganya pun khusus juga,” pungkasnya.
Jurnalis: Rianto Nudiansyah/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Rianto Nudiansyah