Harga Karet Anjlok Petani Lampung Ubah Lahan Tanam Untuk Tanam Jagung

RABU 4 JANUARI 2017
LAMPUNG—Para pemilik perkebunan karet di wilayah Kabupaten Lampung Selatan memilih menebang lahan karet yang telah mereka budidayakan selama beberapa tahun. Penebangan pohon karet seluas beberapa hektar tersebut dilakukan menyusul anjloknya harga komoditas perkebunan khususnya karet di wilayah tersebut. 
Tanaman karet yang dirombak untuk ditanami jagung.

Meski penebangan masih dalam skala kecil namun menurut petani setempat, Andi (40) penebangan karet di Desa Gandri Kecamatan Penengahan yang dilakukannya setelah karet yang dibudidayakannya tidak memberi keuntungan secara ekonomi dan memutuskan memilih mengganti tanaman yang mereka miliki dengan tanaman jagung. Ia bahkan mengakui keputusan untuk menebang pohon karet miliknya dilakukan secara perlahan menyisakan satu hektar dari sebanyak lima hektar lahan yang dimilikinya.

Faktor lain yang memaksanya memutuskan melakukan penebangan tanaman budidaya karet diantaranya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi segera sementara tanaman karet yang ditanamnya kurang produktif. Semenjak awal panen ia bahkan mengaku mulai menjual getah karet dari kisaran harga Rp9.000,- perkilogram hingga semakin turun diangka hanya Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Harga yang cukup memberatkan bagi kebutuhan hidup petani seperti dirinya yang mengaku harga beras perkilogram saat ini paling murah sekitar Rp7.800 perkilogram sehingga harga karet tidak bisa digunakan untuk membeli beras.

“Awalnya kami menanam dengan harapan untuk investasi jangka panjang namun karena sudah sekitar beberapa tahun tidak menghasilkan kami memilih kembali menanam jagung yang hasilnya bisa kami peroleh dengan cepat dibandingkan karet,”ungkap Andi saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (4/1/2017)
Harga getah karet yang dibudidayakannya pun terkadang mengalami kenaikan meski hanya sedikit dimana dari harga Rp4.000 per kilogram menjadi Rp7.000 per kilogram. Harga tersebut juga masih harus ditentukan oleh pengepul berdasarkan kadar air yang ada pada getah karet semakin tinggi kadar air maka akan semakin rendah harga jual getah karet yang mereka miliki. Meski sempat naik dan turun lagi dengan biaya produksi yang juga tidak sedikit untuk proses penyadapan serta pembuatan lembaran karet berikut transportasi diakui Andi petani justru tidak memperoleh keuntungan sehingga memutuskan untuk menebang tanaman karet yang mereka miliki.
Setelah tanaman karet yang ditebang, kayu kayu karet tersebut selanjutnya dijual ke perusahaan untuk pembuatan palet, triplek serta kebutuhan lain. Saat ini Andi mengakui harga jual kayu karet dengan jumlah sekitar satu truk yang berisi sekitar 10 batang pohon karet hanya dibeli Rp1,3 juta. Sementara saat diubah menjadi triplek dapat dijual dengan harga Rp55ribu-Rp60ribu per lembar.
“Terpaksa kami tebang dan rencananya selama musim rendengan ini akan kami gunakan untuk menanam jagung yang hasilnya bisa kami peroleh setelah empat bulan,”terang Andi optimis.

Lahan karet yang masih dipertahankan masyarakat.

Pemilik kebun karet lain yang masih mempertahankan tanaman karet miliknya, Sulitiono, mengaku masih mempertahankan tanaman karet miliknya dengan harapan harga akan membaik. Meski menanam karet untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dirinya masih tetap memiliki kebun jagung dan kebun pisang. Ia bahkan berharap harga getah karet akan kembali bergairah minimial di atas Rp10 ribu per kilogram getah karet.

Meski kenaikan harga karet masih tetap diharapkan namun Sulsitiono mengakui sebagian petani memang harus menyisati dalam upaya melakukan pengolahan tanah. Bagi yang memiliki lahan cukup luas masih bisa digunakan untuk penanaman berbagai jenis tanaman namun bagi pemilik lahan terbatas sebagian justru memilih menjadi buruh tanam jagung di wilayah tersebut.
“Harga memang bisa naik namun kenaikan harga getah karet tersebut juga belum seimbang dengan harga kebutuhan pokok sehari hari yang terus meningkat,”ungkap Sulistiono.
Selain merombak tanaman karet menjadi tanaman jagung sebagian masyarakat juga enggan menanam tanaman singkong akibat harganya yang terus merosot  hingga Rp500 per kilogram dari semula Rp700 per k ilogram. Beruntung sebagian masyarakat masih bisa mengelola lahan pertanian mereka untuk ditanami sayuran dan juga tanaman palawija lain diantaranya kacang panjang, cabe merah yang bisa dipergunakan untuk kebutuhan hidup  sehari hari dan sebagian dijual ke pasar.

Proses pengolahan tanah untuk penanaman jagung.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...