Bogor, Menjadi Kota yang Ramah Pejalan Kaki

KAMIS 12 JANUARI 2017

BOGOR—Satu lagu daerah tentang kota Bogor punya lirik yang berbunyi: Bogor lumigar mekar beber layar tarik jangkar,  Bogor naratas jalan pangwangunan karaharjan. Kurang lebih artinya begini Bogor seperti bunga yang siap mekar,  mengembangkan layar menarik jangkar (siap untuk berlayar maju), Bogor menyiapkan jalan pembangunan kesejahteraan.  Itu antara lain kesan yang didapat Cendana News ketika menelusuri pedestrian Kota Bogor di sejumlah ruas jalan. Sejak pertengahan tahun lalu Pemkot Bogor melakukan revitalisasi trotoar (sidewalk) atau jalur untuk pedestrian (pejalan kaki). 
Salah satu ruas Pedesterian di Bogor  yang sedang dibersihkan. 
Perlahan kota ini kembali menjadi kota yang manusiawi bagi pejalan kaki.  Kota yang dahulunya merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Padjajaran, secara geografis,  berada di sebelah selatan Jakarta, dan dilalui oleh dua sungai besar Cihaliwung (Ciliwung) dan Cisadane.  Seiring dengan berjalannya waktu,  Bogor menjadi daerah pemukiman, daerah singgah,  dan daerah wisata. Data sensus Badan Pusat Statistik 2010 mengungkapkan jumlah penduduk kota Bogor sebanyak 4.771.932 jiwa. 
Secara kualitatif dapat dikatakan bahwa jumlah angkutan kota di Bogor lebih banyak daripada jumlah kendaraan pribadi.   Banyaknya kendaraan ini menjadikan kebutuhan bagi pejalan kaki menjadi begitu mendesak.  Itu sebabnya sejak pertengahan 2016 lalu jalur bagi pedesterian mengalami pembenahan terutama yang mengelilingi Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor.  Tampaknya kota ini siap untuk menjadi kota yang ramah untuk warganya,  dan wisatawan yang berkunjung ke Bogor. Salah satu bentuk keramahan Bogor adalah pedestrian baru yang mengelilingi Istana Bogor.  
Lebar pedestrian ini sekitar kurang lebih 5 meter, Pemerintah kota Bogor juga menyediakan tempat sampah di beberapa titik di pedestrian tersebut, harapannya agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan.  Jalur untuk pedestrian ini mengelilingi Jl.  Ir.  H. Juanda,  Jl.  Si Jalak Harupat,  Jl. Padjajaran dan Jl.  Otto Iskandar Dinata. 
Tentu tidak semua ruas bagi pedestrian ini memberikan kesejukan.  Ada beberapa ruas trotoar yang terkadang terkena sinar matahari langsung seperti di jalan Si Jalak Harupat tepat di jembatan sungai Ciliwung, kemudian berlanjut  di Jalan Otto Iskandar Dinata yang menuju Lawang Seketeng,  dan di depan Balai Besar Industri Argo.  
“Sebetulnya panasnya Bogor nggak sepanas Jakarta,” kata Benediktus Setio,  guru pendidikan jasmani dan kesehatan SMA Regina Pacis, Bogor ketika ditemui di sela-sela memberikan pengajaran Selasa (11/1) silam.  
Pria yang akrab dipanggil Beni ini memandang positif keberadaan pedestrian itu.  “Bogor,  sebagai paru-paru kota, perlu punya kawasan untuk pedestrian, selain untuk berolahraga juga dapat digunakan sebagai sarana rekreasi.  Sepanjang perjalanan Cendana News bersama Beni (11/1) silam, tidak menemukan keberadaan pedagang kaki lima  di trotoar tersebut. “Oh, sudah tidak boleh,  ini untuk pejalan kaki!” tutur Beni.

Karina Maharani aktivis sebuah LSM di Bogor juga mengakui perubahan itu. Perubahan yang mencolok khususnya seputaran Kebun Raya dan Istana Bogor.

“Trotoar lebih luas, untuk aktivitas berjalan jauh lebih enak. Lalu ada tempat duduk di beberapa spot membantu sekali untuk yang kelelahan Selain berjalan suka dipakai juga untuk skateboard, sepatu roda khususnya di area sepanjang Pajajaran karena trotoar cukup luas,” kata Karina dihubungi Cendana News dalam kesempatan terpisah, Kamis (12/1). 

Perlu Konsistensi Pemerintahan Kota 

Alfred Sitorus dari komunitas Koalisi Pejalan Kaki (KPK) memberi tanggapan positif dengan adanya revitalisasi pedestrian ini. Saat ini revitalisasi pedestrian lebih terfokus pada daerah protokol dan dekat pusat pemerintahan, serupa seperti yang terjadi di Bandung.  Namun ada titik-titik yang perlu dibenahi seperti sebagian ruas sekitar stasiun, sekitar Yasmin, Kedung Halang.

Selain itu dia berharap konsistensi pemerintah.  Menurutnya ada lebih dari sepuluh instansi pemerintahan yang menangani hal itu di antaranya Perusahaan Daerah Air Minum, Penerangan Jalan Umum (PJU),  Dinas Perhubungan dan Kepolisian.   Namun semuanya harus berkordinasi dan bersinergi.

“Estetika pada saat membagun atau merevitalisasi trotoar urban plannernya akan sulit menggeser rambu atau yang lain karena sektor lain belum terkoordinasi dan ego antar instansi masih tinggi,” ujar Alfred dalam kesempatan yang berbeda.
Lebih lanjut lagi,  Alfred menilai perlu ada pihak yang mampu untuk membentuk sinergi antara instansi terkait. Yang paling utama duduk bersama semua instansi yang punya kepentingan di fasilitas pejalan kaki,

“Misalnya saja kalau ada instansi yang ingin membangun jairngan kabel optik atau instansi yang ingin bangun saluran air, trotoar jangan sampai dibongkar begitu saja,” kata Alfred. Dia juga meminta agar kepentingan lansia, ibu hamil, kaum disabilitas  juga diperhatikan.

Sebuah jalur pedestrian di Bogor yang sudah direvitalisasi. 

Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugroho
Lihat juga...