JUMAT 6 JANUARI 2017
PONOROGO—Menelusuri bangunan tua di Ponorogo, bangunan Masjid Jami’ yang berada di Dusun Gendol, Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo ini dibangun oleh Kyai Ageng Muhammad Bashari pada 1742. Meski masjid ini sudah berdiri sejak tiga abad lalu, perawatannya masih tetap terjaga dengan baik.
![]() |
| Bagian dari Masjid Tegalsari yang sudah berdiri lebih dari tiga abad. Sebagian tampak sudah dibangun. Tetapi bagian jendela dan atap arsitekturnya dipertahankan. |
Masjid ini merupakan salah satu saksi sejarah, banyak tokoh nasional pernah mengenyam pendidikan agama Islam di kawasan pondok pesantren milik Kyai Besari sebutan bagi Kyai Ageng Muhammad Bashari. Tokoh nasional tersebut yakni Pakubuwono II alias Sunan Kumbul, penguasa Kartasura, Bagus Burham alias Raden Ngabehi Ronggowarsito seorang pujangga besar tanah Jawa dan tokoh pergerakan Nasional HOS.Cokroaminoto.
Masjid yang menyatu dengan pondok pesantren ini memiliki luas 4.500 meter persegi ini dikelilingi pagar setinggi 1,5 meter. Setiap kali adzan dikumandangkan warga sekitar berduyun-duyun datang untuk sholat berjamaah. Masjid Tegalsari ini, kini merupakan salah satu obyek wisata reliji di Kabupaten Ponorogo. Bahkan, masjid tersebut dipercaya sebagai masjid cikal bakal pusat penyebaran Islam di bumi reog. Masjid ini pernah dikunjungi mantan Presiden RI, HM Soeharto dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Juru kunci kompleks makam Kyai Ageng Muhammad Besari, Mbah Sujak menjelaskan Kyai Ageng Muhammad Besari seorang ulama sakti dan berbudi luhur yang konon merupakan keturunan kesebelas Nabi Muhammad SAW. Masjid ini tiap hari dikunjungi ratusan orang untuk ngalap berkah (mencari berkah.red).
![]() |
| Interior masjid tetap dipertahankan sesuai aslinya. |
Mbah Sujak juga menceritakan keunikan kubah yang digunakan di Masjid Jami berasal dari tanah liat seperti gerabah. “Kubah ini menurut cerita pada zaman Pendudukan Belanda pernah diberondong peluru pasukan Belanda, namun tidak hancur,” jelasnya kepada Cendana News di lokasi, Jumat (6/1/2017).
Keunikan lainnya, di teras masjid terdapat batu pijakan. “Ada juga peninggalan Batu Tangga peninggalan Kerajaan Majapahit berukuran 1 x 0,6 meter dan ruang pertemuan Dalem Njero yang merupakan tempat peristirahatan Kyai Ageng Muhammad Besari yang berada di seberang jalan masjid,” ujarnya.
Secara arsitektural, masjid ini memiliki langgam Jawa kuno. Terdiri dari tiga bangunan yang saling berhimpit, berorientasi barat-rimur, bangunan masjid beratap tajug tumpang riga terletak paling barat. Di dalam interior terdapat empat buah saka guru, 12 sakarawa, dan 24 saka pinggir penyangga atap tajug yang dipasang dengan sistem ceblokan.
Struktur atap tajug diekspose, sehingga dapat diketahui bahwa ujungnya merupakan jenis atap tajug peniung atau payung agung, karena usuknya disusun secara sorot.
![]() |
| Bagian atap/langit-langit menunjukan keapikan arsitek masjid ini dalam merancang. |
Selain itu, juga juga terdapat mimbar kayu berukir, yang sebetulnya merupakan replika dari mimbar asli yang telah rusak. Mihrabnya merupakan sebuah ceruk yang dibingkai kayu ukiran dengan bentuk dan stilirasi dari kalarnakara.
“Masjid Kyai Muhammad Besari selesai dipugar dan diresmikan oleh Presiden RI Ke 2 HM. Soeharto pada 2 Maret 1978 silam,” imbuhnya.
Masjid ini terus ramai didatangi Jemaah dari luar kota terutama saat bulan Ramadhan. Masjid beraksitektur lama ini tetap dijaga kebersihannya oleh ratusan santri yang masih ada di pondok pesantren. Kawasan ini juga mendapat perhatian dari pemerintah Kabupaten Ponorogo.
![]() |
| Batu pijakan. |
![]() |
| Bagian masjid yang sudah modern, |
Jurnalis: Charolin Pebrianti/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Charolin Pebrianti



