MALANG — Ribuan ikan nampak bergerombol memenuhi dinding Gedung Dewan Kesenian Malang (DKM). Ikan-ikan tersebut berkerumun mengikuti ikan yang berada di depannya, tanpa mengetahui mau ke mana dan apa tujuan mereka bergerombol. Padahal, tanpa harus berkumpul, mereka justru bisa menunjukkan jati diri mereka sebenarnya.
Iok, dan lukisan yang dipamerkannya.
Setidaknya, demikian sekilas gambaran yang dapat ditangkap dalam puluhan lukisan karya Harry Budy Tjahjono (46), yang dipamerkan di Gedung DKM, Jalan Majapahit, Kota Malang. “Pameran ini merupakan pameran tunggal drawing saya yang sudah kesekian kalinya diadakan, dan kali ini mengambil tema ‘Are you swarm enough?’,” jelasnya kepada Cendana News, Rabu (11/1/2017).
Menurutnya, tema tersebut sengaja dipilih sebagai satir atau sindiran kepada masyarakat, yang dinilainya selama kurun waktu 5 tahun ini lebih suka berkerumun atau bergerombol ke mana-mana dan tanpa tujuan. “Seperti yang saya gambarkan, pada lukisan yang berjudul followers. Mereka hanya menjadi pengikut, tapi tidak tahu siapa yang sebenarnya mereka ikuti. Orang-orang ini yang biasanya hanya terus mengikuti yang ada di depan tanpa mau melihat yang di belakang maupun melihat kiri-kanan, tapi tiba-tiba jatuh. Mereka tidak sadar kalau mereka hanya tinggal menunggu giliran untuk jatuh,” tutur pelukis asli Malang tersebut.
Atau bisa juga dengan bergerombol, lanjutnya, mereka masuk ke suatu tempat. Padahal, di dalam tidak ada apa-apanya, mau keluar juga harus berdesak-desakan. “Apa untungnya mereka hanya bergerombol ke mana-mana, tapi tidak pernah jelas arah tujuan dan maksudnya, seperti yang saya gambarkan dalam lukisan berjudul Are you swarm enough?#1,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Harry yang saat ditemui mengenakan sweater merah, dan akrab disapa Iok ini, terlihat semangat menjelaskan pesan-pesan tersirat yang ingin disampaikannya kepada pengunjung lewat karya-karyanya tersebut. Antara lain, melalui lukisan berjudul Think Big dan (Dont) Feel Big.
“Lukisan berjudul Tink Big, dan (Don’t) Feel Big memiliki pesan, bahwa kita boleh kecil, tapi jangan berpikiran kecil, harus mau untuk berpikir besar. Apapun hasil yang dihasilkan, pasti tidak seremeh yang dibayangkan,” tuturnya.
Selain itu, lanjutnya, tidak usah terlalu senang berpikir, bahwa kita ini besar, jangan hanya kita dekat dengan orang-orang yang besar atau punya kekuatan, lalu kita ikut-ikutan merasa besar. “Kita memang kecil, tapi kita harus berpikir bagaimana karya yang kita buat tidak sekecil apa yang dipikirkan orang”, tandasnya.
Sementara itu disebutkan, dalam pameran tunggalnya yang digelar selama 11 hari (7-17 Januari 2017) tersebut, Iok memamerkan sebanyak 182 karya yang terbagi menjadi 10 judul yang berbentuk 6 panel dan 4 single.
Sejak 2011, Iok telah berkomitmen minimal satu kali dalam setahun menggelar pameran di kotanya sendiri, yaitu di Malang. “Karena saya orang asli Malang, jadi saya ingin orang-orang di Malang tahu, bahwa saya juga masih tetap ada di sini dan berusaha untuk menghidupkan kesenian yang ada di Malang dengan kemampuan yang saya miliki,” pungkasnya.
Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : Koko Triarko / Foto : Agus Nurchaliq