Agar Diminati, Pengusaha Angkutan Umum Harus Berinovasi

JUMAT, 27 JANUARI 2017

MATARAM — Hidup Segan, Mati Tak Mau. Peribahasa itulah sekiranya yang pantas diberikan kepada kendaraan angkutan umum, terutama Angkutan Kota (Angkot) dan Angkutan Desa (Angdes) di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Saat ini, kondisi kedua jenis angkutan umum tersebut cukup memprihatinkan.

Seorang sopir bemo Angkutan Kota tampak sedang menunggu penumpang di Jalan Langko Kota Mataram

Kendaraan angkutan umum, hampir menjadi angkutan transportasi terpinggirkan di tengah pesatnya pertumbuhan transportasi eksklusif dan kendaraan pribadi yang belakangan semakin banyak diminati masyarakat daripada angkutan umum. Bahkan, angkutan umum saat ini semakin cenderung ditinggalkan oleh sebagian masyarakat, karena  lebih memilih untuk beralih menggunakan kendaraan pribadi. “Penumpang sekarang sepi, masyarakat banyak beralih menggunakan kendaraan pribadi,” kata Hisamudin, Sopir Angkot Kota Mataram kepada Cendana News, Jum’at (27/1/2017).

Akibat sepinya penumpang itu, Hisamudin mengaku pendapatan yang diperolehnya setiap hari menjadi tidak pasti, karena penumpang sudah jauh berkurang, meski seharian berkeliling mencari penumpang.

Salah-satu sopir angkutan umum yang lain, Amir, membandingkan ketika masa jaya dulu ketika masyarakat banyak menggunakan angkutan umum. Menurutnya, saat itu, pendapatan dari mengoperasikan angkutan umum lumayan menggembirakan dibandingkan dengan sekarang. “Dulu, dalam sehari pendapatan dari mengoperasikan angkutan umum bisa mencapai tiga hingga lima ratus ribu rupiah. Sekarang untuk mendapatkan seratus ribu saja susah kalau hanya mengandalkan dari penumpang,” keluhnya.

Kondisi demikian, menyebabkan banyak di antara para sopir angkot beralih mengoperasikan angkot bemo kuning untuk mengangkut sayuran pedagang di pasar tradisional secara borongan, karena tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendapatan dari jasa penumpang. Bahkan, tidak sedikit di antara sopir angkot juga berhenti dan beralih profesi sebagi buruh bangunan dan pekerjaan lain, termasuk menjadi TKI ke luar negeri.

Sementaraa itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) NTB, Lalu Bayu Windiya, mengatakan, dibutuhkan inovasi dan kreativitas tersendiri dari organisasi kendaraan yang menaungi angkutan umum untuk mendesain angkutan umum, agar bisa disukai masyarakat. “Harus berinovasi kalau ingin tetap diminati masyarakat, terutama dari sisi pelayanan, keamanan dan kenyamanan penumpang, karena keamanan dan kenyamanan paling utama dalam jasa transportasi,” jelasnya.

Lalu juga mengatakan, jika tarif harus disesuaikan dan jangan sampai terlalu mahal, karena hal tersebut menjadi salah-satu pertimbangan masyarakat yang hendak menggunakan angkutan umum.

Jurnalis : Turmuzi / Editor : Koko Triarko / Foto : Turmuzi

Lihat juga...