KAMIS, 22 DESEMBER 2016
PONOROGO — Siapa yang mengira, berawal dari hobi kini pekerjaan merawat burung perkutut menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga. Tidak memerlukan tempat yang luas, hanya kandang, dan area terbuka saja, usaha ini digeluti Bonari Hadi (40), warga Dusun Krajan, Desa Gambong, Kecamatan Slahung sejak tahun 2003 silam. Meski sudah 13 tahun berjalan, pekerjaan ini cukup menjanjikan. Dalam sebulan, ia mampu meraup keuntungan sebesar Rp 1,2 juta. Kini, ia mempunyai 10 indukan perkutut dan puluhan anakan perkutut.
![]() |
| Bonari yang tekun memelihara burung perkutut dari sekadar hobi menjadi menopang penghasilan keluarga. |
“Awalnya hobi, semakin lama perkutut saya berkembang biak. Kemudian ada salah satu tetangga saya yang tertarik dan ingin membeli, dari situ saya tekuni hingga sekarang,” jelasnya kepada Cendana News di depan rumahnya, sembari melihat kandang burung perkutut, Kamis (22/12/2016).
Menurut Bonari, perawatan burung perkutut termasuk mudah. Seperti pemberian pakan misalnya, dalam sebulan hanya menghabiskan Rp 40 ribu saja untuk seluruh perkutut yang ia punya. Pemberian pakan pun dilakukan dalam satu kali dalam seminggu.
“Pembersihan kandang biasanya saya setiap 15 hari sekali baru saya bersihkan,” ujarnya.
Pakan yang diberikan Bonari pun, pakan khusus untuk burung perkutut. Tidak ada pakan lain yang diberikan Bonari terhadap perkutut peliharaannya, karena ia harus menjaga kualitas suara dari burung perkutut jualannya.
“Kan perkutut itu yang diambil suaranya, jadi harus benar-benar dijaga pakannya,” imbuhnya.
Perkutut jarang terkena penyakit, paling sering hanya penyakit cacingan. Itu pun cara pengobatannya mudah, hanya dengan memberikan obat cacing, cacing yang ada di tubuh perkutut bisa langsung keluar dan burung perkutut kembali sehat.
Pembelian burung perkutut, lanjut Bonari, biasanya dilakukan secara borongan. Misalnya, beli 7-8 burung dihargai Rp 150-200 ribu.
“Kalau beli 1-2 ekor saja nanti harganya beda tergantung ukuran dan suaranya,” cakapnya.
Satu ekor burung perkutut siap jual setelah berusia 1,5 bulan, masa hidupnya pun panjang asal burung tidak sakit dan kandang selalu bersih. Bahkan ada beberapa pelanggan Bonari menerangkan burung perkutut peliharaannya tetap hidup meski sang pemilik sudah tiada.
“Pembeli saya paling jauh berasal dari Tasikmalaya, selebihnya dari tetangga dan orang yang sudah kenal saya saja,” pungkasnya.
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti