Tradisi Pergantian Tahun, Tingkat Konsumsi Tinggi Sokong Perekonomian Pelaku Usaha

JUMAT, 30 DESEMBER 2016

Oleh Henk Widi

CATATAN KHUSUS — Akhir tahun 2016 tinggal menghitung jam dengan beragam acara untuk merefleksikan kebahagiaan atas masa 360 hari terlewat dan harapan akan tahun baru yang akan dihadapi. Berbagai kegiatan untuk merayakan tahun baru bagi masyarakat pedesaan di antaranya berkumpul bersama keluarga, bancakan bagi masyarakat pesisir pantai di antaranya di Lampung Selatan. Salah satu kegiatan mengisi malam pergantian tahun baru tersebut bagi sebagian pelaku usaha kecil akan menjadi sumber penghasilan tersendiri di antaranya para penjual ornamen-ornamen perayaan pergantian tahun baru seperti penjual terompet, penjual kembang api, bando menyala, serta bagi para penjual ikan laut dan penjual ayam potong.

Pedagang ikan juga alami peningkatan jelang tahun baru.

Bagi masyarakat, pergantian tahun seolah menjadi tradisi untuk diisi dengan kegiatan yang lebih meriah dari hari biasa. Tradisi atau kebiasaan yang sudah bertahun-tahun dilakukan tersebut merupakan sebuah peluang bagi beberapa pemilik usaha kecil termasuk para pedagang ikan yang selama ini memenuhi kebutuhan ikan masyarakat untuk konsumsi ikan dan menjelang pergantian permintaan akan ikan tersebut semakin meningkat. Sejumlah pedagang ikan di pasar higienis dermaga Boom Kalianda bahkan merasakan peningkatan permintaan ikan sejak tanggal 30 Desember 2016, meski sebagian masyarakat akan menyimpan ikan yang dibeli tersebut dengan cara menyimpan di dalam kulkas. Pembelian pada satu hingga dua hari sebelum konsumsi tersebut dilakukan untuk menghindari kelangkaan ikan yang akan semakin banyak diminta masyarakat.

Tradisi yang dari tahun ke tahun masih berlangsung tersebut seolah menjadi sebuah harapan cerah bagi para pelaku usaha kecil di bidang penjualan ikan serta para pelaku usaha kecil lainnya yang menangkap peluang menjelang malam pergantian tahun. Jumlah permintaan yang diakui beberapa pedagang di pasar higienis Kalianda bisa meningkat sekitar 60 persen dibandingkan hari biasa. Beberapa jenis ikan yang mengalami peningkatan permintaan rata-rata didominasi ikan-ikan yang akan dibakar dengan ciri khas memiliki kulit tebal seperti jenis ikan tengkurungan, ikan kakap, ikan tongkol serta beberapa jenis ikan lain jenis kacangan serta simba. Stok ikan yang semula dipenuhi dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dermaga Boom Kalianda yang masih kurang bahkan harus dipenuhi dari beberapa pelelangan ikan lain seperti TPI Way Muli Kecamatan Rajabasa, TPI Ketapang Kecamatan Ketapang, serta TPI Muara Piluk Kecamatan Bakauheni.

Bagi para pelaku ekonomi kecil, para penjual terompet, para penjual ikan, momen pergantian tahun baru yang nyaris disebut dengan tingkat konsumsi yang tinggi merupakan sebuah peluang. Tingkat konsumsi yang dikeluarkan baik dalam bentuk hiburan bahkan meski hanya dengan membakar kembang api, menggunakan terompet sekali pakai terus dibuang, mengkonsumsi ikan dengan hanya dibakar menggunakan arang juga mempengaruhi tingkat daya beli masyarakat. Perputaran uang yang semakin tinggi tersebut terlihat dari beberapa warung penjual panggangan ikan, warung penjual arang batok dan arang kayu hingga para penjual ikan di pinggir jalan serta penjual di pasar ikan.

Belum cukup dengan konsumsi yang bersifat hiburan, beberapa hunian hotel, penginapan dan sejumlah cafe, restoran pun berlomba-lomba menggaet konsumen dengan menawarkan keistimewaan, diskon serta memberi kemudahan merayakan atau menikmati malam pergantian tahun. Beberapa cottage (penginapan) berkonsep tradisional hingga modern di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Pesawaran, dan Kabupaten Tanggamus, berdasarkan catatan penulis mulai menawarkan hunian yang mereka miliki bahkan satu bulan sebelum pergantian tahun dengan harga yang kompetitif. Harga yang ditawarkan untuk hunian hotel standar dari mulai Rp 250.000,- per malam jauh hari sebelum digunakan akan meningkat menjelang satu hari pergantian tahun dan tahun baru.

Semua pelaku usaha memanfaatkan momen pergantian tahun baru tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk mendulang rupiah. Meskipun sebagian menganggap pergantian tahun tidak harus dirayakan dengan hura hura, meriah atau bahkan foya foya dengan menghambur-hamburkan uang, namun dengan adanya media sosial, penawaran-penawaran menarik mau tak mau membuat tingkat konsumsi meningkat. Pelaku usaha bahkan mulai menjadikan momen pergantian sebagai tahun tutup buku, tahun cuci gudang dengan memberi harga istimewa, mengalami kerugian sedikit tidak masalah dengan harapan tahun yang baru akan memperoleh ganti.

Beberapa tempat wisata mulai berbenah, sebagian fokus menggaet pengunjung saat malam pergantian tahun di antaranya sejumlah pantai di Lampung Selatan, wisata Menara Siger dengan kegiatan penyalaan kembang api, tiup terompet bersama. Sementara sebagian fokus pada saat tahun baru, tujuannya satu: ekonomi. Pemasukan ekonomis tersebut diperoleh dari biaya masuk pengunjung, biaya parkir, atau kebutuhan lain selama perayaan tahun baru di antaranya hiburan serta menjual jasa di antaranya fasilitas perahu, ban-ban yang disewakan. Pergantian tahun baru dan tahun baru seolah semuanya hendak mencari keuntungan dalam hingar bingar masyarakat yang akan mengakhiri tahun yang lama memasuki tahun yang baru.

Terlepas dari berbagai pendapat untuk merayakan pergantian tahun baru atau tidak, namun kegiatan tersebut seolah menjadi tradisi. Para penjual makanan, minuman serta hal hal yang dibutuhkan masyarakat saat malam tahun baru dan tahun baru dari yang dilarang maupun tak dilarang dihadirkan. Tingkat konsumsi yang tinggi pada puncak pergantian tahun dan tahun baru terjadi di banyak sektor, baik bagi keperluan manusia maupun keperluan pendukung di antaranya Bahan Bakar Minyak (BBM), listrik yang memaksa semua pihak yang menyediakan harus mengantisipasi kebutuhan BBM dan listrik pada momen setahun sekali tersebut.

Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) juga telah mengantisipasi jauh-jauh hari akan stok BBM dengan meningkatnya penggunaan kendaraan yang berbanding lurus dengan permintaan bahan bakar. Perayaan malam tahun baru dan tahun baru yang sebagian besar jauh dari rumah memaksa konsumsi bahan bakar meningkat termasuk kebutuhan listrik yang akan digunakan sepanjang malam karena sebagian besar masyarakat memilih untuk tidak tidur pada malam pergantian tahun baru. Berbagai kegiatan dan kesibukan tersebut berimbas ke banyak sektor dan tingkat konsumsi yang tinggi.

Bakar ikan menjadi tradisi saat pergantian tahun.

Petugas keamanan pun dikerahkan sepanjang hari di sejumlah pusat konsentrasi massa, mengamankan ribuan bahkan jutaan orang di sejumlah tempat yang akan merayakan malam pergantian tahun dan tahun baru. Tradisi yang tidak terulis tersebut, setidaknya telah menghidupkan perekonomian di kalangan bawah hingga pelaku ekonomi tingkat tinggi. Pergantian tahun baru seolah menjadi universal tanpa memandang perbedaan yang menyatu dengan harapan akan meninggalkan tahun yang telah silam dan memasuki tahun baru. Bagi para pelaku usaha tradisi, merayakan tahun baru menjadi kesempatan masyarakat untuk menghamburkan uang atau sebaliknya menangguk uang.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...