Saung Pontren Latih Jiwa Wirausaha Santri Pontren Ushuluddin Lampung Selatan

KAMIS 22 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Sebuah rest area atau tempat peristirahatan bagi pengendara di Jalan Lintas Sumatera KM 66 tepatnya di Desa Belambangan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan terlihat teduh dan hijau. Selain dominasi warna hijau dalam ornamen dan cat bangunan rest area yang dikenal dengan saung Pontren tersebut juga di sekitarnya ditumbuhi pohon pohon rindang yang bisa digunakan untuk berteduh. Saung Pontren merupakan salah satu warung kuliner serta lokasi pisat pembayaran cepat (quick payment center) untuk pembayaran berbagai keperluan warga di antaranya tiket perjalanan, tagihan listrik, serta pembayaran lain secara online (daring).
Saung Pontren yang dikelola para santri Pontren Ushuluddin Lampung Selatan.
Menurut Juhadi mendampingi kepala Pondok Pesantren (Pontren) Ushuluddin, H.Ahmad Rafiq Udin, rest area yang diberi konsep Saung Pontren tersebut merupakan bagian dari kegiatan pondok pesantren yang ada di pinggir Jalan Lintas Sumatera dengan memberikan pelayanan kepada para pengendara. Tingginya arus transportasi dengan berbagai kendaraan dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera dan sebaliknya bahkan menjadi faktor didirikannya saung pontren tersebut. Juhadi mengaku sang pendiri melihat selama ini di sepanjang Jalinsum keberadaan rest area masih cukup minim dan fasilitas pendukung masih minim sehingga Pesantren Ushuluddin membuat saung Pontren.
“Kita sediakan sarana yang lengkap termasuk untuk istirahat, makan, ibadah serta lokasi parkir yang cukup karena setiap arus liburan banyak pengendara yang mampir dan dalam waktu sepekan ini juga semakin meningkat karena masih masa liburan,” terang Juhadi selaku pengelola Saung Pontren saat ditemui Cendana News, Kamis (22/12/2016).
Selain memanfaatkan peluang bisnis di lintasan jalan di penghujung Pulau Sumatera tersebut terang Juhadi, pengelolaan yang dilakukan oleh para santri merupakan upaya pesantren untuk melatih jiwa wirausaha. Bahkan sebagian santri yang sudah purna atau selesai bersekolah di Pesantren Ushuluddin memiliki kesempatan untuk berwirausaha dalam pengelolaan warung kuliner serta wirausaha lain di antaranya sistem pembayaran tertentu bagi masyarakat. Selain Saung Pontren, di dalam area Ponpes Ushuluddin para santri juga diberi kesempatan untuk melakukan pengelolaan koperasi, warung keperluan para santri.
Saung Pontren yang dikelola para santri Pontren Ushuluddin Lampung Selatan.
Saung Pontren Ushuluddin tersebut menurut Juhadi bahkan mengalami peningkatan kunjungan atau pengendara yang mampir saat musim liburan. Selain untuk beristirahat ia mengaku sebagian pengendara dan penumpang bisa membeli oleh oleh khas buatan para santri diantaranya keripik tempe, keripik pisang, keripik singkong serta berbagai makanan oleh oleh lainnya. Selain itu Saung Pontren juga menjual kelapa muda yang merupakan hasil kebun di pesantren tersebut dengan harga yang cukup terjangkau.
Khusus santri yang bertugas mengelola Saung Pontren ungkap Juhadi merupakan siswa yang sudah purna sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar. Selain bertugas mengolah kuliner kuliner lokal yang bisa disantap pengunjung, cara melayani konsumen, proses transaksi serta pengelolaan manajemen diterapkan. Harapannya para santri yang pernah bertugas mengelola saung Pontren Ushuluddin bisa menerapkan ilmunya saat keluar dari pondok pesantren.
Selain melatih jiwa wirausaha, saung pontren juga menyajikan dan melestarikan kuliner tradisional khas daerah diantaranya Pecel Lele, Pecel Ikan Mas, Pecel Ayam, Soto Lamongan, Soto Babat, Bakso Soni serta kuliner tradisional lain dengan harga bersahabat dari Rp5 ribu hingga Rp 20 ribu per porsi.
Berada di kawasan pesantren yang dekat dengan Jalan Lintas Sumatera juga membuat nyaman pengunjung karena Pontren Ushuludin juga menyiapkan masjid yang cukup besar untuk beribadah selain itu beberapa saung yang bisa digunakan oleh pengendara yang akan beristirahat dan tanpa dimintai uang parkir meski tetap mendapat penjagaan dari petugas keamanan.
Selain keberadaan Saung Pontren tersebut, pelatihan jiwa wirausaha juga diberikan kepada para santri diantaranya pembuatan kerajinan berbahan kain bagi santri wanita, sementara bagi santri laki laki sebagian dilatih mengelola kolam ikan dan beternak kambing. Meski sebagian santri merupakan siswa jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) namun berbagai pelatihan untuk kemandirian bagi para santri telah ditanamkan sejak dini. Menurut Juhadi selain dibekali nilai nilai keagamaan, nasionalisme dan pelajaran pelajaran umun sekolah para siswa juga dilatih mengembangkan jiwa wirausaha agar bisa berguna saat kembali ke tengah masyarakat.
Salah satu menu yang ditawarkan saung pontren.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...