Sate Diperkirakan Sudah Ada Sejak Mataram

JUMAT 16 DESEMBER 2016

SOLO — Melacak sejarah sate (pedagang sate pertama) di Solo cukup sulit. Para pakar sejarah juga mengaku kesulitan menelisik tahun berapa dan siapa penjual sate pertama kali di Solo. Ini dikarenakan minimnya literatur historis yang menyebutkan sejarah sate di Solo maupun di Indonesia.
Pakar Sejarah Dr. Susanto, M.Hum.
Dr. Susanto, M.Hum salah satu Dosen Sejarah di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) menyebutkan, minimnya literatur yang ada membuat sejarah sate hanya bisa diurai dari sejarah etniksitasnya, yakni Madura. “Jika sate erat dengan Madura, ini bisa kita lacak melalui etniksitasnya. Kalau untuk asli Solo, kita kesulitan, dan  belum pernah menemukan,” ucapnya kepada Cendana News.
Etnis Madura ini diyakini sudah ada sejak jaman Kerajaan Pajang. Ini dikuatkan dengan berbagai buku sejarah yang menyebutkan adanya prajurit yang dipakai Raja Pajang, Aryo Panggiri yang berasal dari Goa, Bali, Madura, hingga Makasar. “Setelah akhir-akhir Pajang dan berdirilah Mataram, munculah kampung-kampung di Solo seperti kampungBali yang kemudian disebut Kampung Mbalen, Kampung Sampangan (Sampang – Madura), Kampung Banjar (Banjarmasin-Kalimantan), Kampung Arab dan lain sebagainya,” paparnya.
Hubungan Kerajaan Mataran dengan etnis Madura ini dalam sejarah juga kuat. Ini dibuktikan dari sejarah menyebutkan putra-putra raja banyak yang disusukan kepada perempuan dari Madura.”Tak hanya itu, pada Mataram juga sudah banyak pernikahan antara bangsawan dengan orang Madura. Ini yang kemungkinan hubungan etniksitas Madura ini telah sangat lama terbentuk,” telisiknya.
Catatan sejarah terhadap etnisitas Madura ini hingga berlangsung setelah kerajaan Mataran pindah menjadi Kerajaan di Kartasura. Menurut Pakar Sejarah ini,mulai dari Mataram hingga Kerajaan Kartasura, etnis Madura ini mendapat tempat dan posisi yang cukup tinggi. Bahkan, pada masa kerajaan di kartasura, untuk etnis Madura mendapat sebutan Cakraningrat.
“Kenapa ada Cakraningrat ini tentunya memberikan penghargaan yang tinggi bagi Etnis Madura. Ini terjadi pada saat di Kartasura ada sebutan Cakraningrat. Selain itu ada sebutan Pugeran yang itu nantinya akan menjadi Pakubuwono (PB) yang akan menjadi raja Keraton,” tandasnya.
Jika dilihat dari historis tahunnya, hubungan Etnis Madura dengan kerajaan di Jawa (meskipun Madura masih bagian dari Jawa bagian paling timur) sudah ada sejak tahun 1745 atau 1746. Selanjutnya pada masa Kerajaan Mataram yang diperkuat hubungan keduanya tersebut terjadi di pertengah abad 18.
“Untuk catatan terakhir, pindahnya kerajaan dari Kartasura menuju Solo ini menjadikan pusat perekonomian juga pindah. Termasuk segala bentuk aktivitas masyarakatnya, baik yang berdagang, maupun lainnya. Maka historis adanya kampung-kampung seperti Sampang, Mbalen, Banjar, Arab juga semakin kuat,” tekannya.
Diperkembangannya, masyarakat Solo yang sangat majemuk tidak menutup kemungkinan banyak yang “meniru” berbagai makanan. Ini bisa dilihat dari berbagai makanan khas Solo yang merupakan hasil dari tiruan dari makanan luar.”Seperti Bistik sendiri sebenarnya berasal dari kata Biefstuk yang merupakan makanan utama orang-orang Belanda.”
“Ini terjadi juga pada makanan Selat yang berasal dari Salat. Artinya ini sangat memungkinkan sekali juga pada sate. Karena jenis masakan ini populer, siapa pun bisa meniru,” ungkapnya.
Satu hal yang menurut Susanto harus digali lebih mendalam makanan sate tersebut. Yakni, teknik memasak sate merupakan trobosan besar dalam hal untuk mengawetkan makanan agar daging tidak cepat busuk.”Dengan dibakar jadi daging bisa lebih awet. Ini juga seperti Dendeng Ikan, dan Abon yang  membuktikan secara tradisional mempunyai cara mengawetkan makanan,” tambahnya.
Satu kebudayaan menyimpan ini hanya dimiliki masyarakat petani. Budaya menyimpan ini hanya ada di masyarakat petani, masyarakat berkelanan di hutan tidak mungkin menyimpan. “Dia hanya mencari ubi atau buruan. Setelah habis mereka akan mencari tempat lain. Kalau petani beda, ia tinggal di lokasi itu  dan ketika menunggu selang panen, ia memanfaatkan hewan peliharaan untuk dikonsumsi,” pungkasnya. 
Jurnalis: Harun Alrosid/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Harun Alrosid
Lihat juga...