Siapa Penjual Sate Pertama di Solo?

JUMAT 16 DESEMBER 2016

SOLO — Tak mudah mencari pedagang sate tertua di Solo, Jawa Tengah. Ini karena sejumlah pedagang sate yang saat ini ramai pembeli belum tentu tua yang melanjutkan usaha turun temurun dari keluaga. CendanaNews sempat kesulitan, mencari sosok pedagang sate yang benar-benar masih generasi pertama di tengah banyaknya kuliner sate di Solo.

Bu Bejo dengan aktivitasnya di warung
Sebagian besar pedagang sate di Solo saat ini merupakan generasi ke tiga maupun ke empat dari pemantik usaha bakar daging tersebut. Ada 4-5 pedagang sate yang direferensikan ke CendanaNews yang masuk ketegori tua. Sayangnya sebagian besar dari mereka, penjual asli atau yang pertama yang membuka usaha sudah tidak berada di warung karena terkendala usia maupun kesehatan.
Beruntung di salah satu sudut Kota Bengawan ini, ada sebuah warung sate yang masih ada orang ke dua, atau  orang yang berama-sama memulai merajut usaha berjualan sate. Ya, ini adalah warung sate kambing Bu Hj Bejo, yang beralamat di kampung Lojiwetan, Kelurahan Kedunglumbu, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.
Di warung yang cukup besar ini tampak seorang perempuan tua yang masih aktif. Sesekali nenek itu terlihat sibuk mengambil piring dan menuangkan nasi putih sembari menata butiran nasi apakah porsinya sudah tepat atau tidak. “Sudah lama sekali, lupa tahunnya,” ucap nenek Sukiyem mengawali obrolan bersama Cendana News.
Namun di usianya yang sudah memasuki senja, membuat perempuan ini tidak bisa berlama-lama  untuk cerita. Telebih di warungnya yang tengah ramai pembeli, ia lebih memilih melayani pelanggan yang sudah mulai banyak yang mengantre. Hanya beberapa kalimat saja yang disampaikan. “Arep go opo (mau untuk apa),” tanya perempuan 80 tahun tersebut.
Salah satu putranya menceritakan jika sate Bu Bejo ini merupakan usaha temurun dari almarhum ayahnya, Pak Bejo. Di Solo sendiri usaha yang dirintis dari nol ini sudah berlangsung sekitar 45 tahun. “Untuk tahun berapa lupa, sampai saat ini sudah 45 tahun. Awal dulu bapak yang buka,” jelas Rita Widiawati.
Dari cerita keluarga, usaha ini berjualan sate berawal dari membantu salah satu suadara perempuan dari Pak Bejo. Sebelum berhasil menetap, usaha ini dirintis dengan berjualan dari kampung ke kampung. Bahkan, berjualan sate ini sudah dilakoni Pak Bejo saat masih lajang. “Berlanjut hingga menikah dengan ibu,” cerita Rita.
Warung Sate Bu Bejo.
Untuk menghidupi keluarga, berjualan sate pada awalnya memang sangat sulit. Sebab, untuk mencukupi kebutuhan istri beserta1 0 anaknya, hanya dengan mengandalkan berjualan sate keliling itu sangat tidak mudah. Berbagai rintangan dan hambatan dalam usaha ini pun selalu datang, hingga akhirnya saat ini anak-anaknyalah yang merasakan buah manisnya.
Diungkapan Rita, jika ayahnya memang bukan asli orang Solo, melainkan berasal dari kampung Dongsono, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Di Solo, sate Bu HJ Bejo selain menjadi salah satu pioner sate juga menjadi salah satu perintis sate buntel, varian sate yang dagingnya digiling dan dibungkus dengan lemak.
“Untuk bumbunya kita memang menggunakan bumbu kacang sebagai ciri khas. Di Solo banyak yang jual sate, tapi tidak semua gunakan bumbu kacang,” urainya.
Untuk menjaga cita rasa sate, putra ke 10 pasangan Bejo dengan Sukiyem itu menyebutkan jika hingga saat ini seluruhnya masih diawasi langsung oleh Bu Bejo. Ini tampak dalam keseharian warungnya, Bu Bejo selalu mengawasi 6-8 karyawan yang ada di warung. “Secara keseluruhan resep sudah diwariskan kepada anak-anaknya. Tapi tetap hingga saat ini ibu yang mengawasi langsung,” imbuhnya.
Teknik memasak sate milik Bu Bejo ini masih menggunakan cara seperti pada umumnya. Yakni menggunakan alat pemanggang sate dan berbahan bakar arang.”Untuk cara memasakknya sama dengan sate umumnya. Tapi untuk menjaga daging selalu segar kita tiap hari menyembelih kambing sendiri,” ungkapnya. 
Suasana Warung Sate Bu Bejo.
 Jurnalis: Harun Alrosid/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Harun Alrosid
Lihat juga...