Dosen ISI Yogya Berbagi Ilmu Teknik Cetak Foto Vandyke Brown Print di ITN Malang

JUMAT, 16 DESEMBER 2016

MALANG — Dalam dunia fotografi banyak teknik yang dapat dilakukan untuk mencetak sebuah foto agar hasilnya bisa dinikmati, salah satunya dengan teknik cetak foto Vandyke Brown Print yang ditemukan Sir John Herschel pada 1842. Meskipun teknik cetak Vandyke sudah terbilang cukup tua, namun sekarang teknik tersebut mulai diminati kembali oleh para fotografer.

Irwandi menunjukkan hasil cetakan foto Vandyke Brown Print.

“Vandyke Brown Print adalah salah satu teknik cetak fotografi pada abad ke-19. Sesuai dengan namanya, hasil foto dengan menggunakan teknik cetakan ini akan bernuansa coklat tua,” jelas Irwandi, Dosen Jurusan Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, saat memberikan materi workshop di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Jumat (16/12/2016).

Tidak hanya memberikan materi, dalam workshop yang dibantu beberapa mahasiswa tersebut, Irwandi langsung mempraktikkan teknik cetak foto Vandyke Brown Print di depan para peserta.

“Untuk mencetak foto memggunakan teknik Vandyke Brown Print dibutuhkan bahan peka cahaya yang terdiri dari silver nitrat, ferric amonium sitrat, dan tartaric asid,” terangnya.

Proses pencampuran bahan kimia peka cahaya.

Semua bahan-bahan tersebut kemudian dicampur menjadi satu dan dioleskan di atas kertas. Setelah dioleskan di atas kertas, selanjutnya dikeringkan menggunakan pengering rambut. Kemudian di atas kertas tersebut diberi film yang ingin dicetak.

“Proses pengolesan bahan peka cahaya tersebut sampai dengan pemberian film harus dilakukan di ruangan dengan pencahayaan yang redup,” jelasnya.

Proses selanjutnya, kertas yang telah diolesi bahan peka cahaya dan diberi film, kemudian disinari dengan sinar matahari secara langsung selama kurang lebih 15 menit. Usai disinari, dilanjutkan dengan proses pencucian dengan air kemudian dikeringanginkan. Setelah itu, barulah proses cetak foto dengan teknik Vandyke Brown Print bisa dikatakan selesai dan hasilnya sudah bisa dilihat.

Proses pengeringan.

“Jika sinar mataharinya terik, waktu yang dibutuhkan untuk penyinaran cukup 10-15 menit. Tapi, jika mendung, waktu penyinaran bisa lebih lama, 20-30 menit,” urainya.

Lebih lanjut, pria yang juga merupakan pembina Keluarga Old Photographic Processes (KOPPI) ISI Yogyakarta ini menyampaikan, dalam perkembangannya, selain bisa dicetak di atas kertas, teknik Vandyke Brown Print sudah bisa dicetak di atas media kaca, keramik, kayu, dan kain.

“Untuk mencetak di atas media selain kertas, dibutuhkan bahan tambahan berupa gelatin sebagai pengikat dan formalin sebagai pengeras,” urainya.

Dalam acara workshop tersebut, Irwandi mengaku sengaja mengajak beberapa mahasiswa dari ISI Yogyakarta sebagai salah satu proses pembelajaran bagi mahasiswanya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: Agus Nurchaliq

Lihat juga...