Belum Ada Paguyuban, tapi Ada Gang Sate Ponorogo

JUMAT 16 DESEMBER 2016

PONOROGO – Ponorogo selain terkenal dengan reog juga terkenal dengan satenya. Ratusan pedagang sate tersebar merata di Ponorogo. Meski usaha sate ini digeluti banyak masyarakat, tapi tidak sedikit yang meyakini rejeki sudah ada yang mengatur. 
Seorang pedagang Sate Ponorogo, Yatno saat sibuk membakar sate.
Sayangnya, sampai saat ini belum ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo untuk membentuk paguyuban sate. Pedagang sate di Ngepos, Yatno (53 tahun) menjelaskan usaha ini sudah ia geluti sejak tahun 1990 an. Dari penghasilannya ini ia mampu menghidupi keluarganya bahkan mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.
“Tidak setiap hari ramai, tapi untungnya selalu saja ada yang beli, rejeki berapapun saya terima dengan ikhlas,” jelasnya kepada Cendana News saat ditemui di warungnya di Jalan Soekarno-Hatta, Jumat (16/12/2016).
Bapak dua orang ini mengaku hingga saat ini belum terbentuk paguyuban sate, padahal ia ingin masuk menjadi salah satu anggota. Karena menurutnya, paguyuban itu penting. Seperti paguyuban pedagang kaki lima yang ada di Alun-alun Ponorogo, saat akan direlokasi oleh Pemkab, anggota paguyuban mampu menyelesaikan masalah ini secara bersama-sama.
“Di Ponorogo, pedagang satenya individu, jadi tidak ada yang membentuk paguyuban. Padahal saya ingin sekali masuk ke dalam paguyuban,” harapnya.
Tidak adanya perhatian dari pemerintah, menurut Yatno, tidak membuatnya patah semangat. Namun ia menyayangkan kurangnya perhatian ini, seperti perhatian terhadap kesejahteraan pedagang sate, sentra kuliner sate maupun bantuan lainnya.
“Ponorogo selain terkenal karena reog tentunya karena satenya.“Belum ada perhatian dari pemerintah saat ini, kami pedagang hanya berusaha saja menjajakan dagangan kami,” cakapnya.
Beruntung meski banyak pedagang sate di Ponorogo, sampai saat ini belum ada perebutan lahan atau rebutan pelanggan. “Karena semua kan sama-sama cari nafkah buat keluarga, jadi adem ayem saja,” tuturnya.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Ponorogo, Sapto Djatmiko membenarkan ucapan Yatno, memang hingga saat ini belum ada paguyuban sate di Ponorogo. Indakop yang biasanya membentuk paguyuban pedagang, saat ini hanya ada paguyuban pedagang kaki lima dan pedagang pentol di wilayah Ponorogo.
“Saat ini belum ada paguyuban sate baik dari Indakop maupun inisiatif pedagang ya,” paparnya.
Ditanya terkait kapan pembentukan paguyuban, Sapto menegaskan dirinya belum tahu. Namun jika ada warga yang berinisiatif dan membentuk paguyuban, Disbudparpora tentunya mendukung.Selain paguyuban, hak paten masakan lokal sate sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa hingga saat ini belum dilakukan. Karena Disbudparpora masih menelusuri dan mengumpulkan informasi terkait sate Ponorogo ini.
“Karena saat ini sate ayam banyak macamnya, jadi belum dipatenkan,” tukasnya.
Gang Sate Ponorogo
Sebuah gang di Ponorogo dinamakan Gang Sate karena di dalam gang ini banyak sekali pedagang sate yang berkumpul dan masih satu keluarga dengan Sobikun, penjual sate terkenal di Ponorogo. Gang yang berada di Kelurahan Nologaten, Kecamatan Ponorogo, Jawa Timur yang sepanjang jalannya dipenuhi puluhan warung makan penjual sate ayam. Sekitar 18 penjual sate berderet dari ujung barat hingga ujung timur gang.
Uniknya setiap penjual sate yang memiliki nama belakang Sobikun merupakan keluarga asli Sobikun, termasuk Tukri Sobikun yang memiliki depot sate paling luas dan terkenal di Ponorogo. Meski berada di dalam satu tempat, para pedagang ini tetap optimis dagangannya laku. Karena menjaga cita rasa dank has sate masing-masing yang ditonjolkan, terutama saat musim libur panjang, banyak wisatawan luar kota yang mampir ke gang sate ini.
Pengunjung yang memasuki gang sate pertama disuguhi dengan gapura bertuliskan gang sate, memasuki gang sate. Banyak pedagang sate yang menjual sate di depan rumah mereka, khas dengan angkringan gendongan. Namun tidak semuanya buka saat hari biasa, biasanya paling banyak saat akhir minggu dan musim libur panjang.
Gang sate sendiri baru diresmikan tahun 2015 lalu, oleh mantan Wakil Bupati Ponorogo, Yuni Widyaningsih alias Ida. Namun sayangnya setelah diresmikan perhatian pemerintah sepertinya masih kurang untuk mempromosikan gang sate ini.
Seperti misalnya wisatawan yang membawa bis besar, tidak bisa masuk dekat dengan depot karena akses jalan masuk sempit. Padahal jika ada perhatian lebih dari pemerintah, akses gang sate bisa diperlebar, karena sebagian tempat masih berupa lahan kosong milik warga.
Pernah ada rombongan bis besar yang harus memarkir kendaraannya di jalan raya besar karena tidak bisa masuk, sehingga wisatawan yang ingin menyantap sate di gang sate harus berjalan sekitar 500 meter. Baru jika menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dan motor, pelanggan sate bisa masuk dengan leluasa ke gang sate.
Kadisbudparpora Ponorogo, Sapto.
Jurnalis: Charolin Pebrianti/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Charolin Pebrianti
Lihat juga...