Rewangan Saat Warga Muslim Membantu Membuat Kue Umat Kristiani di Lampung

JUMAT 23 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Sepekan menjelang hari raya Natal 25 Desember kesibukan mulai terlihat di sejumlah rumah umat Katolik di Dusun Sumbersari Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Penduduk desa menganut  beragam agama, Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, hidup secara berdampingan sejak puluhan tahun lalu.Umat Katolik datang bersama sama dengan umat Islam dari Pulau Jawa untuk menempati kampung tersebut sebagai transmigran. 
Fransisca (kiri), Aminah dan Sumini saat bersama sama membuat kue tape ketan hitam dan ketan putih untuk perayaan Natal
Kehidupan yang berdampingan tersebut bahkan ditunjukkan dengan adanya Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus Stasi Pasuruan yang berhadapan nyaris seperti Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Kehidupan harmonis juga terlihat dalam persiapan masa Natal dan Lebaran Idul Fitri oleh para kaum wanita yang menyiapkan kue-kue serta hidangan untuk para tamu.
Aminah (35) dan Sumini (25) keduanya warga Muslim sejak pagi sudah sibuk berkumpul di rumah Fransisca (45) penganut Katolik. Sejak pagi ketiganya sibuk mempersiapkan bahan bahan kue mulai dari tepung terigu, telur, coklat serta bahan lainnya untuk membuat roti bolu yang menjadi sajian khas setiap keluarga Katolik.
Kue bolu ini  melengkapi dengan sajian lain yang akan diberikan kepada para tamu saat kunjungan (open house). Selain makanan semi modern yang dibuat berkat saling tukar ilmu antar para ibu untuk membuat kue kue dengan inovasi alat, bahan dan resep terbaru, para wanita tersebut juga membuat makanan tradisional di antaranya tape ketan hitam hasil fermentasi.
“Awalnya kami tidak tahu cara membuat tape ketan hitam tapi ibu Fransisca yang mengajari kami saat menjelang Natal selalu membuat tape ketan hitam sehingga kami belajar dan saat lebaran Idul Fitri kami juga membuatnya,”ungkap Aminah, warga Muslim di Desa Pasuruan yang sibuk membantu membungkus bahan tape ketan hitam serta ketan putih yang akan difermentasi sebelum menjadi tape, Jumat (23/12/2016).
Kebersamaan dalam membuat kue atau dikenal dengan rewangan (saling membantu dalam memasak) merupakan aktivitas rutin di Desa Pasuruan, termasuk saat membuat kue kue menjelang perayaan Natal maupun Idul Fitri. Bagi Aminah kegiatan rewangan untuk membuat kue kue atau hal hal lain tak memperhitungkan perbedaan agama maupun hal hal lain.  Menurut Aminah semua keluarga yang ada di Desa Pasuruan merupakan satu kesatuan saudara sejak dari asalnya  wilayah Yogyakarta di Jawa, meskipun mereka  berbeda agama.
Proses pembuatan kue kue yang dikerjakan secara bersama tersebut bahkan selalu dilakukan secara bergantian di mana saat menjelang Idul Firtri, beberapa wanita dari umat Katolik ikut membantu membuat kue dan sebaliknya. Kecanggihan zaman dengan beragam alat cetak untuk proses pembuatan kue kue kering bahkan membuat sejumlah kaum ibu di desa tersebut mulai membuat kue secara kolektif dengan cara bersama sama membuat kue sistem urunan.
Urunan dilakukan oleh beberapa perempuan untuk membeli bahan beberapa kilogram bahan selanjutnya saat kue jadi akan dibagi bagikan kepada para ibu yang ikut urunan. Kue kue yang dibuat di antaranya nastar, putri salju, bolu karamel serta kue kue kering lain yang sudah dipersiapkan sepekan sebelum hari raya Natal maupun Idul Fitri.
Patungan dalam membuat kue kue tersebut akan meringankan setiap keluarga yang akan menyajikan hidangan Natal selain itu kerapkali pembuatan kue justru dilakukan di salah satu rumah warga Muslim karena keterbatasan tempat. Keterbatasan tempat tersebut di keluarga Katolik karena sebagian besar keluarga dari tempat jauh sudah mulai berdatangan untuk merayakan liburan dari luar daerah untuk merayakan Natal bersama keluarga dan melakukan tradisi “mudik” Natal dan Tahun baru.
Selain bisa mempererat persaudaraan antar tetangga, beberapa resep resep baru maupun ilmu ilmu pembuatan kue pun bisa saling ditukarkan tanpa memandang peberdaan. Salah satu hal yang masih dipegang para wanita yang sebagian merupakan keluarga para petani tersebut adalah kebersamaan dan rasa senasib sepenanggungan sebagai sama sama petani.
“Kalau hari biasa ya kami sama sama kerja di sawah jadi buruh tanam dan menyiangi padi di sawah saat libur seperti ini sama sama bikin kue, sudah lama sejak puluhan tahun lalu kami hidup berdampingan,” ungkap Fransiska tuan rumah yang sedang membuat kue tape ketan hitam.
Hasil kue kue yang telah dibuat secara bersama tersebut bukan saja akan dinikmati oleh si pemilik bahan atau yang sedang akan merayakan hari raya. Aminah bahkan terasa ikut merayakan Natal karena sebagian besar kue yang dibuat secara bersama oleh keluarga Kristiani yang dibantunya dibawa pulang, seperti bolu, keripik pisang, keripik singkong, bolu kering serta kue kue lain.
Aminah bahkan ikut menyajikan kue kue tersebut di rumahnya meskipun dirinya sedang tidak merayakan Natal. Meski demikian ia tetap menyiapkan kue kue tersebut karena sebagian besar kerabatnya juga memeluk Katolik dan saat libur Natal dan Tahun Baru baru bisa berkumpul.
“Kalau para ibu membuat kue terkadang anak anak kami juga ikut membantu membuat pohon Natal karena mereka juga terlihat akrab dan bangga bisa membuat pohon Natal dan goa Natal,” ungkap Aminah.
Proses pembuatan kue yang menunjukkan kebersamaan tersebut bukan akhir dari sebuah kebersamaan antara Muslim dan Katolik di Desa Pasuruan. Saat tradisi rewang selesai dan kue kue siap dihidangkan dan gema malam Natal dan perayaan Natal mulai terdengar di gereja maka tradisi kunjungan (open house) pun mulai berlangsung. Biasanya tradisi kunjungan di Desa Pasuruan yang secara wilayah gerejawi masuk dalam stasi Pasuruan Unit Pastoral Bakauheni Keuskupan Tanjung karang akan dilangsungkan selama beberapa hari.
Hari pertama paska perayaan malam Natal dan hari Natal maka kunjungan akan dilakukan pada tanggal (25/12) seusai perayaan misa Natal di gereja setiap rumah umat Katolik akan dikunjungi warga Katolik dari wilayah lain. Selanjutnya saling bergantian mengunjungi wilayah lain. Meski sebagian besar tradisi kunjungan tersebut dilakukan oleh keluarga Katolik bukan berarti tak ada umat Muslim yang berkunjung, bahkan pada hari kedua setelah Natal kunjungan umat Muslim ke keluarga Katolik akan terlihat semakin ramai. Kue kue yang dihidangkan pun akan menjadi santapan yang merupakan buatan kaum ibu di desa tersebut.
Kebersamaan dan keberagaman terjaga sejak puluhan tahun lalu tersebut  berlangsung hingga saat ini. Nyaris tanpa sekat, tanpa ada jarak dan yang lebih mempersatukan adalah persaudaraan sebagai sama sama perantau dari Yogyakarta dan hidup di Lampung sebagai orang Jawa. Proses membuat kue, tempat ibadah yang berdampingan menjadi salah satu wujud toleransi yang ada di bumi Lampung saat gereja dan masjid berhadapan tak hanya sekedar bangunan namun masyarakatnya pun saling menghormati saat hari raya masing masing agama baik Idul Fitri maupun Natal.
Kue kue yang dibuat secara bersama oleh pata ibu untuk hidangan Natal.
 Jurnalis: Henk widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...