Posdaya Jingga, Gagas Kampung Hijau, dan Lanjutkan GNOTA

KAMIS, 15 DESEMBER 2016

JAKARTA — Pos Pemberdayaan Keluarga atau disingkat Posdaya adalah bentukan Yayasan Damandiri untuk memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat sesuai daerah tempat tinggalnya. Salah satu Posdaya di wilayah Kelurahan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta, bernama Posdaya Jingga.

Ketua Posdaya Jingga, Hj. Suwartini Djuwarno.

Posdaya Jingga tepatnya berkedudukan di Gang Abah No.41 Cilandak KKO, RT 05/RW 05, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Posdaya Jingga dikelola 13 orang pemberdaya utama dengan Ketua Dra. Hj. Suwartini Djuwarno, Sekretaris Drs. Sunaryana Eko Pamungkas, FX, Bendahara Murniasih Martono, ditambah 10 orang pengurus harian yang membidangi operasional pemberdayaan lima aspek pembangunan yang dikembangkan Posdaya Jingga, yakni aspek kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan dan keagamaan.

“Aspek pembangunan yang dikedepankan Yayasan Damandiri yaitu kesehatan, lingkungan, pendidikan dan kesehatan. Namun Posdaya Jingga juga mengembangkan sekaligus menambahkan satu aspek pembangunan lagi, yaitu pembinaan aspek keagamaan,” terang Suwartini, Ketua Posdaya Jingga kepada Cendana News.

Pengembangan aspek pembangunan keagamaan Posdaya Jingga dilakukan terintegrasi dengan aspek pendidikan dan kesehatan dalam bentuk edukasi serta penanganan para remaja dari keterlibatan atas narkoba, kenakalan remaja, sampai bagaimana memahami bahaya HIV AIDS yang dapat tertular melalui kegiatan seks bebas maupun penggunaan narkoba berupa jarum suntik dan sejenisnya. Agama harus menjadi tiang kuat yang menyaring beragam fenomena pergaulan ramaja di zaman modern. Itulah cara pandang Posdaya Jingga.

Embrio Posdaya Jingga sebenarnya sudah terbentuk sejak tahun 1999, saat masih menjadi sebuah komunitas pemerhati lingkungan dan permasalahan sosial yang terjadi di wilayah sekitar RW 05 Kelurahan Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kegiatan semakin berkembang ketika komunitas ini melebur dalam sebuah yayasan bernama Yayasan Kesuma Jaya Mandiri. Yayasan diketuai Suwartini dibantu rekan-rekannya yang sudah sejak lama berusaha membangun ketahanan masyarakat sekitar dalam hal pendidikan, kesehatan dan pelestarian lingkungan hidup.

Kiri atas: Posdaya Jingga. Kanan atas: Penghijauan di lingkungan Posdaya Jingga untuk Program Kampung Hijau.
Kiri bawah: Penghijauan di pekarangan rumah lingkungan sekitar Posdaya Jingga. Kanan bawah: Lapangan olah raga sebagai ruang publik.

Salah satu kegiatan awal Yayasan Kesuma Jaya Mandiri adalah membentuk Kampung Hijau dari 15 RT (Rukun Tetangga) yang berada di wilayah RW 05 dengan RT 08 dan RT 15 sebagai percontohan untuk menghijaukan wilayahnya. Penanaman pohon ditambah pengadaan ruang publik seperti lapangan olah raga bagi Karang Taruna adalah usaha bersama yang direalisasikan.

Komunitas Yayasan Kesuma Jaya Mandiri melakukan intervensi dengan coba mengintegrasikan program GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) yang terbentuk di era pemerintahan Presiden Kedua RI, H.M. Soeharto, pada 29 Mei 1996. Yayasan Kesuma Jaya Mandiri menggabungkan visi dan misi GNOTA dengan program internal yayasan berupa Beasiswa Pendidikan bagi anak-anak yang berasal dari strata ekonomi menengah ke bawah di masyarakat.

“Yayasan kami terbentuk tahun 2000 bertepatan dengan menggiatnya Pokja Kesuma (Kelompok Kerja Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat) dari pemerintah kala itu. Dan sejak tahun itu pula kami menggelontorkan bea siswa antara Rp 300 ribu  sampai Rp 600 ribu  per tahun bagi anak-anak tidak mampu,” lanjut Suwartini. Menurutnya, dana yang dihimpun yayasan berasal dari swadaya masyarakat  sekitar Cilandak KKO serta donatur yang diambil dari komunitas ibu-ibu PKK setempat yang memiliki kemampuan ekonomi berlebih.

“Yayasan ini adalah organisasi nirlaba jadi memiliki kesulitan dana baik yang mengendap maupun dana yang didapat melalui proses penghimpunan dana. Akan tetapi dengan usaha serta tekad kuat semua lancar. Tentunya dibantu atas kemurahan hati para donatur yang peduli nasib sesamanya,” tambahnya lagi.

Pada 2012, Yayasan Kesuma Jaya Mandiri bergabung dalam komunitas pemberdayaan Yayasan Damandiri melalui Haryono Suyono Center. Suwartini beserta rekan-rekannya sangat antusias dengan masuk ke dalam gerakan pemberdayaan masyarakat di bawah naungan Yayasan Damandiri. Menurut mereka, visi dan misi Yayasan Damandiri sesuai dengan perjuangan mereka selama ini.

“Bersama Yayasan Damandiri kami merasa semakin terwadahi. Kebetulan juga kami sudah memiliki program rutin pendidikan yang dulu digalakkan Presiden Soeharto seperti Wajib Belajar 9 tahun dan Belajar program Kejar Paket A, B maupun C sehingga semua semakin berjalan baik bersama Yayasan Damandiri,” kenang Suwartini mengenai bergabungnya mereka ke dalam komunitas pemberdayaan masyarakat di bawah Yayasan Damandiri.

Yayasan Kesuma Jaya Mandiri atau sekarang dikenal dengan Posdaya Jingga di lingkungan komunitas pemberdayaan masyarakat di bawah naungan Yayasan Damandiri semakin berkembang seiring berjalannya waktu. Untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, pada 2014 Posdaya Jingga masuk dalam program Tabur Puja milik Yayasan Damandiri di bawah binaan Koperasi Sudara Indra. Status Posdaya Jingga dari anggota biasa langsung melejit sebagai Posdaya Tabur Puja Mandiri.

“Kami melaksanakan program demi program secara mandiri, sampai akhirnya Tabur Puja masuk sebagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang membawa kami mengembangkan administrasi simpan pinjam menggunakan sistem komputerisasi secara online. Bahkan beberapa Posdaya dari provinsi lain kerap melakukan kunjungan studi banding ke sini saat ada Mukernas atau Musyawarah Kerja Nasional Posdaya,” tutup Suwartini.

Posdaya Jingga memiliki keistimewaan, karena sebagian besar pengelolanya sudah masuk dalam golongan usia indah (usia senja). Namun begitu, baik semangat maupun tekad kuat mereka tetap membara layaknya generasi muda. Contoh ini menjadi tamparan keras bagi generasi muda yang belum mengambil keputusan untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat.

“Posdaya Jingga, salah satu Posdaya Tabur Puja Mandiri binaan kami, yang kerap menjadi percontohan baik untuk studi banding atau aplikasi pengintegrasian program bagi posdaya lainnya,” kata petugas lapangan Koperasi Sudara Indra bernama Jay, yang selalu memantau kegiatan di Posdaya Jingga.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...