KAMIS 15 DESEMBER 2016
JAKARTA—Pada posisi paling selatan Kepulauan Kei Maluku Tenggara, Tanimbar Kei adalah sebuah pulau kecil yang menyimpan tradisi asli tak lekang oleh zaman. Dengan lama perjalanan kurang lebih empat jam dari pelabuhan Debut Pulau Kei Kecil, maka surga itu terpampang berupa hamparan pasir putih sehalus sutra. Belum lagi panorama terumbu karang eksotis terhampar di bawah laut yang memiliki air sebening kristal. Tanimbar Kei menyimpan sejuta misteri peradaban manusia yang selalu menggelitik keingintahuan para peneliti tentang rahasia kehidupan.
![]() |
| Peta wilayah Kei |
Derasnya arus modernisasi dan hasrat politis tertentu cenderung menggerus orisinalitas sebuah peradaban khususnya di bumi nusantara ini. Namun di Tanimbar Kei, ada sebuah kampung bertengger di atas bukit dimana ajaran/adat istiadat sebuah peradaban masa lampau masih tersimpan rapi.
Wawat adalah sebuah kepercayaan masa lampau nenek moyang bangsa nusantara telah dianut selama turun temurun oleh sekitar 500 orang penduduk Tanimbar Kei yang dipercaya sebagai masyarakat asli Pulau Kei. Ajaran ini diajarkan secara turun temurun dengan prinsip harmonisasi manusia dengan alam. Masyarakat penganut Wawat percaya ajaran ini diturunkan oleh Duad (Tuhan) melalui Mitu (Dewa) dari langit. Orang pertama yang mendapat ajaran itu adalah Lar Midan yang terdiri dari 2 suku kata yakni Lar yang berarti darah dari langit dan Midan adalah kebenaran.
Namun keaslian ajaran ini nyaris saja punah andai Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) cabang Maluku Tenggara tidak mendaftarkannya sebagai salah satu bagian dari PHDI. Maka sejak tahun 2011 tepatnya tanggal 13 bulan Juni ajaran Wawat secara resmi didaftarkan di Kementerian Departemen Agama Maluku Tenggara dib awah PHDI. Melalui perjuangan yang panjang PHDI mulai membangun rumah ibadah berupa pura sejak 2007 silam. Pura itu kini bernama Wuar Masbaat yang berarti gunung yang dudukannya terbuat dari emas.
![]() |
| Sebuah upacara adat di Kei. |
Kebijakan PHDI dalam melestarikan ajaran Wawat bukanlah tanpa alasan, selain agama Hindu menghargai nilai-nilai lokal ajaran ini, kearifan Wawat memiliki keterselarasan dengan agama Hindu, yakni : 1). Percaya kepada Mitu-mitu (Brahman), 2). Percaya kepada Kavinin (Atman/Roh), 3). Percaya adanya Vadrev Vut (Karma Phala), 4). Percaya adanya Her Il Mandok (Punarbhawa), 5). Percaya adanya Nba Il Ti Mel Hi Laa (Moksa), serta Dewa-dewa sebagai manifestasi dari Duad (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Seperti agama Hindu yang mempunyai banyak Dewa yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa ( Duad) begitupun dengan Wawat karena persamaan inilah yang semakin menguatkan mereka untuk menjadi bagian dari integral agama Hindu.
Bergabungnya para penganut ajaran Wawat di Tanimbar Kei dalam kelembagaan PHDI serta merta menjadikan para penganut asli Wawat terhindar dari program misi maupun dakwah agama Nasrani maupun Islam yang selama ini menghambat perkembangan ajaran ini. Namun setelah dalam naungan PHDI, para mantan penganut ajaran Wawat yang telah berpindah agama baik ke dalam ajaran Islam maupun Kristen masih memegang teguh ajaran ini dengan tunduk pada aturan Pamali, yakni aturan yang mengikat dalam adat istiadat Wawat Tanimbar Kei. Sehingga sampai saat ini kehidupan sosial masyarakat Tanimbar Kei sangat unik dalam bingkai kerukunan lintas agama. (bersambung)
![]() |
| Rumah adat Kei. |
*Pimpinan Redaksi Cendana News.com
Editor: Irvan Sjafari/ Foto-foto Jeffri Tankei

