Pengembangan Buah Durian Lokal di Lampung Menghadapi Banyak Kendala

MINGGU, 11 DESEMBER 2016
LAMPUNG — Musim durian di sebagian wilayah sedikit terlambat akibat musim hujan panjang di Lampung. Meski demikian, salah-satu pendamping hutan dari Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK) Lampung, Idi Bantara, terus melakukan pengembangan secara intensif terhadap durian lokal yang ada di beberapa wilayah di Kabupaten Pesawaran Lampung.
Salah-satu buah durian hasil pengembangan di Lampung.
Meski sebagian petani telah mengembangkan durian lokal Lampung dengan sistem vegetatif dengan cara cangkok dan pola pembibitan modern untuk mendapatkan bibit durian yang lebih baik, namun hingga kini masih lebih banyak petani buah durian lokal Lampung yang melakukannya dengan penggunaan bibit biji. Selain itu, keberadaan buah durian lokal hutan saat ini masih banyak yang belum terkoleksi sebagai sumber pengembangan bibit unggul durian lokal.
Fenomena masyarakat di sejumlah Kabupaten penghasil buah durian seperti di Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Lampung Selatan, Kecamatan Lampung Timur, yang banyak menebang pohon durian, menurut Idi Bantara, semakin menmbah ancaman kepunahan bagi pengembangan buah durian lokal Lampung. 
“Kita tak dapat memungkiri, saat ini banyak pasokan durian dari Thailand, Brunei Darussalam, Malaysia atau negara lain yang menggeser buah durian lokal, dan ini harus diwaspadai, terutama bagi petani lokal,” ungkap Idi Bantara, kepada Cendana News, Minggu (11/12/2016).
Panen buah durian di Lampung.
Banyaknya buah impor yang membanjiri sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya durian di Lampung, membuat pendamping kehutanan tersebut merasa miris. Ia pun tak tinggal diam, dan terus mengidentifikasi buah durian lokal yang tumbuh di hutan-hutan di Lampung, di antaranya di Kawasan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Pesawaran, KPHL Gunung Rajabasa, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan hutan-hutan kerakyatan lainnya di Lampung.
Sejauh ini, Idi bersama pegiat rimbawan di Lampung melakukan pendataan dengan memetakan sejumlah kawasan yang masih ditumbuhi buah durian lokal di Lampung. Data tersebut antara lain mencatat lokasi, koordinat tanaman, warna buah, warna kulit, rasa (manis, pahit, hambar, legit dan sebagainya) yang kemudian didokumentasi serta pohon yang ditemukan dipelihara untuk dijadikan indukan dengan sistem pencangkokan.
Pasca 3 bulan setelah buah habis di pohon, Idi bersama tim melakukan proses duplikasi indukan dan perbanyakan dengan teknik vegetatif (cangkok) yang akan digunakan sebagai pohon pangkas. Selama ini, jenis-jenis buah durian lokal unggul Lampung dari berbagai varian mampu menghasilkan buah sekitar 500-600 buah pertahun perpohon, sehingga mampu memasok kebutuhan lokal terhadap buah durian.
Idi Bantara, Pendamping Kehutanan dari Kementerian LHK.
Sementara itu, selama melakukan proses pengumpulan data dan bibit, Idi mengaku telah berhasil mengoleksi indukan dari jenis durian kempet batu serampok Kabupaten Lampung Selatan, durian koplak sukmo ilang Kabupaten Pesawaran, durian orange Taman Hutan Rakyat Wan Abdurahman Sumber Agung. Menurutnya, koleksi tersebut akan terus dilakukan sembari melihat sumber-sumber bibit dari kabupaten lain yang ada di Lampung.
Idi yang juga merupakan pendamping petani gaharu, pengumpulan beragam bibit durian lokal itu juga dilakukan petani di kawasan hutan dan pengembangan sektor kehutanan, agar sumber daya genetik tidak punah.
“Secara khusus pengembangan durian lokal dilakukan karena di kawasan pengelolaan hutan di Lampung memiliki banyak variasi buah-buahan, di antaranya durian,” terang Idi.
Menurut Idi, Durian lokal Lampung memiliki spesifikasi rasa, bentuk, warna dan keunggulan lain yang menjadi ciri khas unggulan hutan Lampung, dan mampu bersaing dengan pekebun dari luar Lampung termasuk dari luar negeri.
Secara konkrit, beberapa langkah pun telah dilakukan oleh relawan rimbawan dan juga Tim KLHK dengan melakukan koleksi genetik unggul, perbanyakan kebun pangkas, perbanyakan bibit, pembuatan kebun masyarakat, sekaligus pelatihan perbanyakan bibit yang diarahkan sebagai ekowisata dan produksi bibit.
“Buah durian lokal unggul asal Lampung harus dilestarikan. Itulah niat kita, jangan sampai punah dengan banyaknya penggunaan kayu durian untuk bangunan tanpa disertai pelestarian bibit, dan jangan sampai durian unggul Lampung menjadi kenangan,” ungkapnya.
Potensi hasil hutan dan perkebunan di Lampung masih sangat terbuka untuk dikembangkan, di antaranya tanaman buah-buahan, khususnya buah durian, yang selama ini banyak terdapat di Lampung. Sayangnya, selama ini aplikasi teknologi belum banyak diterapkan oleh petani buah lokal, sehingga daya saing buah lokal masih kalah bersaing dengan buah impor.
Namun demikian, pendampingan terhadap petani hutan terus dilakukan Idi untuk memberi semangat kepada petani agar bisa menjadi pengusaha mandiri dan tidak terjajah oleh masuknya buah impor. Selain itu, Idi juga terus mendorong agar Pemerintah memberi perhatian terhadap pengembangan buah lokal, karena bisa menjadi cara untuk meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Koko Triarko / Foto : Henk Widi

Lihat juga...