Pendidikan Kebencanaan dan Sejarah Tsunami Harus Ada di SD

RABU 21 DESEMBER 2016

ACEH—Komunitas Demokrasi Aceh Utara (KDAU) menilai, sejauh ini pendidikan kebencanaan di sekolah-sekolah hanya sebatas teori saja. Pendidikan tersebut menjadi sangat tidak efektif, di tengah kondisi daerah Indonesia yang dikenal rawan bencana.
Bisma Yadhi Putra, Sekretaris KDAU.
“Karena daerah kita adalah daerah yang rawan bencana alam, maka sudah sepatutnya pendidikan kebencanaan di sekolah-sekolah itu menjadi suatu hal yang cukup penting tidak hanya cukup tahu saja,” ujar Bisma Yadhi Putra, Sekretaris KDAU kepada Cendana News, Rabu (21/12/2016).
Selama ini Bisma memandang, pendidikan kebencanaan di sekolah-sekolah hanya sebatas teori. Anak-anak atau siswa katanya hanya sebatas diberi informasi dan membaca dari buku-buku bacaan yang ada di sekolah-sekolah. “Sementara pendalaman seperti praktik hamper tidak ada,” katanya.
Selain itu, salah satu hal yang cukup penting, kata Bisma adalah sejarah dan pengetahuan tentang tsunami. Menurutnya, sejarah bencana besar yang melanda Aceh pada 2004 silam itu sangat penting untuk diketahui terutama generasi yang lahir setelah tsunami.
“Anak-anak sekarang yang lahir paska tsunami itu kan mereka tidak tahu apa itu tsunami atau mereka hanya sebatas tahu bahwa tsunami pernah ada, pernah ada gempa besar lalu ada tsunami dan banyak orang meninggal,” katanya.
Namun, lanjut Bisma, banyak yang tidak tahu bagaimana menghadapinya. Ia mencontohkan, cerita orang yang meninggal karena mengutip ikan ketika air surut paska gempa 2004 silam. Kala itu, cukup banyak anak-anak dan orang dewasa yang berlomba mengutip ikan karena air laut sedang surut.
Padahal tak lama kemudian, katanya, air laut kembali muncul dan menjadi tsunami. “Karena itu juga akibat ketidaktahuan kita, nah tu harus menjadi pengetahuan untuk anak-anak sekarang, agar kalau air laut surut tiba-tiba bisa mewaspadai diri dengan baik.”
“Kalau melihat 2004, sebenarnya menurut sejarah tsunami pernah terjadi di daerah Simeulu tahun 70 an, tapi disebut Smong waktu itu bukan tsunami, karena tidak ada pendidikan dan pengetahuan tentang Smong, akhirnya korban masih banyak saat terjadi tsunami 2004 silam,” papar Bisma.
Ia berharap, ada perhatian serius dari pemerintah untuk menjadikan pendidikan kebencanaan ini menjadi salah satu program penting. Jadi, lanjutnya tidak hanya sebatasa pengetahuan biasa yang hanya tertera sedikit ceritanya di buku-buku sekolah.
Jurnalis: Zulfikar Husein/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Zulfikar Husein
Lihat juga...