Moko di Jalinsum Lampung Raup Laba Besar Saat Libur Panjang

SENIN 12 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Sebuah mobil berhenti di pertigaan Jalan Lintas Sumatera pertemuan antara Jalan Lintas Sumatera dan Jalan Lintas Timur, sebuah lokasi strategis yang dimanfaatkan para penyedia jasa transportasi seperti  para tukang ojek dan pencari penumpang untuk mobil travel ke berbagai jurusan di wilayah Lampung. Lokasi yang merupakan jalur larangan mendirikan bangunan mengakibatkan lokasi strategis tersebut  tidak dibangun toko,warung atau bangunan untuk berjualan.
Pelayan moko menghidangkan sajian pesanan pembeli.
Meski demikian bagi pemilik ide untuk memanfaatkan lokasi strategis menjadi peluang, lokasi yang tak memungkinkan digunakan berjualan menjadi sebuah kesempatan yang dimanfaatkan oleh salah seorang warga Kenyayan Bakauheni, Sutoyo (49) yang menyiapkan kendaraan sebagai sarana untuk berjualan. Jualan dengan mobil toko (moko) dilakoni pria ini sejak lima bulan terakhir dengan mempekerjakan satu karyawan dan menjual berbagai keperluan pengguna jalan di antaranya makanan, minuman ringan serta berbagai keperluan lain.
Ia mengaku awal mulanya melihat para penjual asongan yang menggunakan modal kardus serta termos masih tetap bisa berjualan kopi di sepanjang jalan dan sebagian di terminal dan pelabuhan Bakauheni sehingga keinginan untuk berjualan secara keliling dilakukannya dengan melihat peluang yang ada tersebut. Selain berjualan di tempat khusus dalam kesempatan tertentu dirinya melihat peluang akhir pekan dengan membawa mobilnya ke lokasi tempat wisata untuk mencari pembeli yang sedang berkunjung ke tempat wisata diantaranya objek wisata Menara Siger atau beberapa wilayah pantai. Lokasi Menara Siger bahkan menjadi tempat favorit untuk berjualan saat libur panjang dengan jumlah pengunjung yang meningkat.
“Secara kebetulan anak saya bekerja di sebuah perusahaan pembuatan mobil toko dan saya sekaligus menjadi konsumen untuk pembuatan moko yang dijual dan lebih praktis untuk menjalankan wirausaha,” terang Sutoyo sang pemilik mobil toko di wilayah Bakauheni saat ditemui Cendana News, Senin (12/12/2016).
Tutur Sutoyo bisnis berdagang menggunakan mobil bukanlah hal baru. Ada yang menggunakan untuk berjualan  tahu bulat keliling,  ada yang menjadikannya untuk toko baju keliling, dan beberapa penjual bibit tanaman dan bunga yang menggunakan mobil terbuka. Namun konsep moko yang dijalankan oleh Sutoyo memiliki kepraktisan dan fleksibilitas cara berdagang dibandingkan dengan memiliki toko. Ia bahkan mengakui dengan berjualan secara nomaden atau tidak menetap lebih murah dibandingkan beli atau menyewa rumah toko.
Omzet Mencapai Rp2 Juta Per Hari Saat Arus Mudik
Keramaian pada masa masa liburan di lokasi wisata bahkan diakui Sutoyo menjadi momen mengumpulkan omzet lebih besar dibandingkan hari biasa. Peluang yang diambil oleh Sutoyo bahkan dengan situasi perlintasan jalan lintas Sumatera yang ramai oleh pengendara sejak libur panjang akhir pekan ditambah dengan hari libur keagamaan Maulid Nabi Muhammad.
Menu ikan bakar yang dijual di moko sesuai pesanan pembeli.
Secara umum moko yang dipesan oleh Sutoyo di Bandung tersebut merupakan mobil boks pada umumnya, namun bila boks belakang dan samping dibuka maka akan terlihat rak dan etalase yang disusun rapi terbuat dari kaca dan alumunium dan kayu. Ia mengaku merogoh kocek sebesar Rp65 juta untuk membeli moko tersebut belum termasuk proses perizinan peruntukan mobil tersebut.
“Konsep yang sudah didesain oleh anak saya ini sengaja diperuntukkan untuk berjualan dengan menggabungkan tenda agar pembeli tidak kepanasan dan disediakan kursi khusus,” terang Sutoyo.
Sutoyo mengakui memilih moko untuk bisnis kuliner dan keperluan para penyedia jasa transportasi sebab kebutuhan akan kuliner masih menjadi kebutuhan yang tak pernah berhenti. Selain menyediakan hidangan makanan sarapan hingga makan siang dirinya bahkan menyediakan kebutuhan lain seperti kopi dan minuman ringan lain.
Meski sebagai pedagang kaki lima,ia mengakui tetap memperhatikan kebersihan tempat ia memarkirkan moko yang digunakan sebagai lokasi berjualan. Tempat yang strategis sebagai lokasi parkir dadakan kendaraan bus dan travel menunggu penumpang membuat potensi keramaian tersebut mengalirkan pundi pundi uang rata rata Rp500 ribu-Rp1 juta per hari tergantung tingkat keramaian. Pada saat arus mudik dirinya bahkan mengakui omzetnya bisa mencapai Rp2  juta per hari.
Saat saat moko tempatnya berjualan ramai dikunjungi biasanya saat pagi hari dan siang hari ketika beberapa pekerja sekitar pelabuhan dan terminal serta SPBU di dekatnya berada mencari sarapan dan makan siang. Selain menyiapkan menu menu sederhana dengan dilayani oleh karyawan menu menu khusus seperti ikan bakar serta camilan ringan pun disiapkan.
“Para pengemudi travel bahkan terkadang betah berlama lama di sini sehingga kami siapkan banyak meja dan kursi agar mampu menampung banyak pembeli”terangnya.
Meski berjualan dengan cara tidak menetap, ia mengakui aspek kebersihan tetap diperhatikannya diantaranya dengan menyiapkan tempat sampah khusus yang akan dibawa pulang dan tidak ditinggalkan selain itu persiapan air bersih untuk mencuci alat makan juga telah disiapkan sejak dari rumah.
Proses berjualan yang efektif membuatnya berencana menambah satu lagi mobil toko yang direncanakan akan ditempatkan khusus di lokasi wisata. Selain memiliki desain yang menarik dengan adanya moko diakuinya tidak menimbulkan kesan semrawut pada tempat wisata terutama dengan adanya tenda tenda dadakan yang merusak pemandangan bahkan moko pun bisa digeser pada lokasi yang tidak mengganggu kepentingan umum. Ia juga mengakui tak pernah berjualan di lokasi yang dilarang dan mengganggu lalu lintas pengendara kendaraan.
Jurnalis: Henk Widi/Editor:Irvan Sjafari/Foto:Henk Widi
Lihat juga...