Merawat Pohon Bambu, Cara Menjaga Keseimbangan Alam Warga Desa Penglipuran Bali

MINGGU, 11 DESEMBER 2016
BALI —? Bagi banyak orang, pohon bambu mungkin tak memiliki nilai ekonomis. Padahal, pohon bambu bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Namun, tak ada yang pernah memikirkan untuk membudidayakan pohon yang menjulang tinggi tersebut. Kendati begitu, pemandangan berbeda nampak di Desa Penglipuran.
Hutan bambu di Desa Penglipuran Bali.
Desa ?wisata yang terletak di Kelurahan Kubu, Desa Bangli, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, sudah sejak zaman dahulu kala membudidayakan pohon bambu secara turun-temurun. Desa yang telah ada sejak abad ke-13 Masehi itu memiliki puluhan hektar hutan bambu yang terawat baik sejak dulu hingga sekarang.
Mungkin saja, Desa Penglipuran merupakan satu-satunya desa yang masih memiliki luasan hutan bambu dan membudidayakannya secara turun-temurun dari 1.488 Desa Adat  yang ada di Bali.
Bendesa Adat (Kepala Desa Adat) Penglipuran, ?I Waya?n Supat (49)?, dtemui Minggu (11/12/2016), menuturkan, Desa Penglipuran memiliki luas 112 Hektar. Dari jumlah itu, 9 Hektar digunakan untuk pemukiman yang terbagi dalam 76 kapling atau petak, 55 Hektar Tegalan, dan sisanya fasilitas umum, dan 45 Hektarnya adalah hutan bambu.
“Hutan bambu ini warisan leluhur kami. Mungkin hutan bambu ini jauh lebih dulu ada ketimbang desa ini. Mungkin bambu itu dibabat untuk membangun pemukiman,” ujarnya.
Menurut Supat, hutan bambu itu rupanya juga merupakan perbatasan dengan desa lain. Perbatasannya sekitar 200 Meter. Di selatan berbatasan dengan Cempaga, di barat dengan Desa Cekeng, di utara Desa Kayang dan di Timur Desa Kubu.
Selain warisan leluhur, Supat menyebut jika hutan bambu merupakan falsafah hidup warga di Desa Penglipuran. Dalam aturan desa adat di Bali, diwajibkan adanya daerah resapan. Dan hutan bambu di Desa Penglipuran merupakan pengeja-wantahan dari kearifan lokal tersebut.
Wisatawan hutan bambu Penglipuran Bali.
“Ini manfaat ekologis hutan bambu. Untuk mencapai yang harmoni, damai, dan sejahtera. Jangan berprinsip material saja. Sebaliknya, harus memikirkan manfaat ekonomis dan ekologis. Inilah yang disebut palemahan, yakni hubungan harmonis manusia dengan alam,” paparnya.
Masih menurut Supat, sejak dahulu warga di Desa Penglipuran memiliki budaya membuat rumah beratap bambu. ?Jadi, ada hubungan antara memelihara dan memanfaatkan. Penglipuran sendiri artinya pelestarian?. Sejak dahulu pula, Desa Penglipuran memiliki aturan tata guna lahan yang wajib atas persetujuan desa. Warga desa tak boleh menjual tanah selain kepada warga Desa Penglipuran sendiri.?
“Warga tidak boleh menjual tanah kepada orang yang bukan warga di sini.? Aspek lingkungan kami punya aturan, yaitu melestarikan rumah adat. Bagi kami, prinsipnya pariwisata untuk penglipuran, bukan sebaliknya,” ujar Supat, sembari menambahkan jika Desa Penglipuran dinobatkan menjadi desa wisata oleh Pemerintah Pusat sejak tahun 1993.
Dalam memanfaatkan hutan bambu, warga juga tak bisa serta-merta seenaknya menebang pohon. Ada aturan main yang harus diperhatikan. ?Ada sistem tebang yang telah disepakati. Sistem tebang hari baik saat kemarau atau kering, karena dalam satu rumpun pohon bambu  ada tiga generasi, yaitu rebung, kakaknya atau bambu muda dan bambu yang siap tebang.
Supat mengatakan, berdasarkan penelitian dari Kebun Raya Bedugul, ada 13 jenis pohon bambu di hutan Desa Penglipuran. Di antaranya adalah ?bambu jajang aya, jajang Bali, jajang panteg, jajang taluh, jajang papah, jajang batu, tambang gading, tambang, petung buluh, buluh tali suet, tali, gadung dan ampel.
Menurut Supat, hutan bambu yang dimiliki desanya juga berfungsi wisata. Dulu, wisatawan yang mengunjungi Desa Penglipuran bisa berkeliling hutan bambu menggunakan delman yang telah disediakan. Rute pun telah disiapkan menggunakan jalan paving. Sayang, wisata hutan bambu itu tak berjalan mulus dan akhirnya kini tak berjalan. Padahal, mengunjungi hutan bambu Desa Penglipuran benar-benar sejuk. Anda ?ingin mencobanya? Silakan kunjungi Desa Penglipuran.

Jurnalis : Bobby Andalan / Editor : Koko Triarko / Foto : Bobby Andalan

Lihat juga...