Kampung Wisata Wuring di Kabupaten Sikka, Keindahan Rumah Kolong di Balik Menggunungnya Sampah

MINGGU, 11 DESEMBER 2016
MAUMERE – Kampung Wuring sejatinya merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Sikka. Eksotisme kampung Wuring terlihat dari pemukiman tradisional masyarakatnya  yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, dan mendirikan rumah-rumahnya di atas laut, dengan tiang-tiang kayu setinggi 2-3 meter dan berdinding bambu belah atau halar atau kayu.
Pemandangan kampung wisata Wuring dengan rumah panggung dilihat dari laut.
Rumah-rumah yang dibangun di atas laut yang sering disebut  rumah panggung atau rumah apung ini di bagian kolongnya sering ditambatkan sampan-sampan yang digunakan menangkap ikan. Jalan yang menghubungkan setiap rumahnya dibuat dari bambu menyerupai jembatan-jembatan yang saat air pasang terlihat seperti mengapung.
Namun sangat disayangkan, eksotisme kampung Wuring Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, ini belum tergarap maksimal. Sampah menjadi sebuah persoalan besar di sini. Tak ada bak sampah yang diletakkan di darat di dua jalan aspal di kampung tersebut. Parahnya lagi, di depan rumah panggung dan jembatan bambu, tak satu pun tempat sampah diletakkan.
Otomatis sekitar  4.000 penduduk Kampung Wuring dengan jumlah Kepala Keluarga sekitar 1.500 ini membuang sampah ke kolong-kolong rumah panggung miliknya yang digenangi air laut saat sedang pasang.
Keprihatinan ini memantik Wenefrida Efodia Susilowati dari Yayasan Bank Sampah Flores, yang kemudian mengadakan bakti sosial bertajuk aksi bersih. Susi, sapaannya, kepada Cendana News, Minggu (11/12/2016), mengatakan, pihaknya ingin agar kampung Wuring menjadi bersih, karena selalu disambangi wisatawan.
“Kami lakukan aksi bersih, sebab hari ini merupakan peringatan hari difabel, karena Bank Sampah Flores juga merupakan sebuah wadah tempat kaum difabel berkarya dengan sampah, baik melakukan pengumpulan atau mendaur ulangnya,” ungkap Susi.
Untuk itu, tutur perempuan yang kerap dijuluki “Ratu Sampah” ini, Aliansi Peduli Difabel Kabupaten Sikka menggandeng Bank Sampah Flores, Lanal Maumere, Kodim Sikka, Polres Sikka, SAR Maumere, BLH Sikka, Bea Cukai Maumere, SMK Taruna Nusantara, para anak buah kapal yang sedang bersandar di Pelabuhan Wuring serta masyarakat Wuring untuk menggelar aksi bersih kampung.
Jalan dan jembatan di kampung Wuring yang menghubungkan setiap bangunan.
“Karena sampahnya sudah menumpuk, jadi kita hanya bertugas membersihkan untuk kesehatan dan keindahan. Sebab, tempat ini menjadi salah-satu destinasi wisata di Sikka. Selain untuk kesehatan, juga untuk ekologi laut, karena sampah akan terbawa air laut dan dimakan oleh ikan,” terangnya.
Ketua RW 9 Kampung Wuring, Jamal Warang, tak menampik saat disinggung Cendana News mengenai minimnya kesadaran warganya. Jamal membenarkan, masyarakat khususnya di dua Rukun Warga (RW) yang pemukimannya berada di atas laut sering membuang sampah di kolong rumah mereka.
“Masyarakat yang membuang sembarangan, selain itu sampah yang ada di kolong rumah merupakan sampah yang terbawa arus laut. Kalau kita perhatikan daerah yang belum direklamasi, sampahnya tidak banyak,” ujarnya.
Masyarakat Wuring, lanjut Jamal, jarang membersihkan sampah. Pemerintah yang sering melakukan pembersihan. Tahun 2016 ini saja sudah 5 kali diadakan bakti sosial membersihkan sampah. Pernah ada pengadaan tempat sampah, tapi tempat meletakkannya tidak ada, karena masyarakat juga tidak mau areal depan rumahnya dipakai untuk meletakkan tempat sampah.
Kalau motor roda tiga pengangkut sampah, Jamal akui dulu memang ada yang masuk keluar gang mengambil sampah, namun terkendala operasional akibat banyak masyarakat yang tidak memenuhi kewajiban membayar iuran sampah sebesar Rp. 2.000 Per Bulan guna membayar honor pekerjanya.
“Awalnya bagus, tapi akibat masyarakat tidak bayar iuran maka mobil sampahnya pun datang mengambil sampah sebulan sekali sehingga sampah selalu menumpuk,” ungkapnya.
Jamal menyarankan, Pemerintah bisa membiayai petugas kebersihan bersama warga, dengan kewajiban warga Wuring menanggung biaya secara swadaya sebesar 50 Persen. Setiap hari ada petugas kebersihan dan motor sampah roda tiga terus beroperasi mengangkut sampah.
Peserta aksi bersih-bersih Kampung Wuring.
“Sampah yang ada paling dibakar dan rumah yang  di atas laut sampahnya dibuang saja ke laut. Kalau tidak musim badai dan ombak besar, sampah kurang dan air lautnya jernih. Tapi, kalau musim badai, sampah pasti menumpuk di kolong-kolong rumah panggung,” ungkap Jamal.
Susi menambahkan, harus ada pengolahan sampah dari hulu ke hilir sebab pembersihan ini hanya situasional dan belum tentu sekali aksi bisa langsung bersih. Sebab, sampahnya sangat banyak sekali dan sudah menumpuk bertahun-tahun.
Selain itu, harus menyediakan wadahnya dan perlu menggandeng semua elemen untuk bekerjasama, DPRD Sikka pun pinta Susi, harus membuat peraturan daerah tentang sampah. Letakkan tempat sampah di tempat umum dan di rumah-rumah warga.
“Ada beberapa hal yang harus diperbaiki, orangnya yang handal dalam mengelola sampah, peralatannya, kebijakannya dan sistemnya, sehingga pengolahannya tidak setengah-setengah. Harus dari hulu sampai hilir diperbaiki dan dijaga terus kesinambungannya,” terang Susi.
Bank Sampah Flores akan menidak-lanjuti dengan aksi nyata setelah aksi bersih dan sudah dibicarakan dengan warga yang akan langsung ditindak-lanjuti pula di bulan Desember ini dengan memberikan pelatihan manajemen pengelolaan sampah dan daur ulang sampah.
“Kami juga mendesak Pemerintah untuk menyiapkan tempat penjualan souvenir di Wuring, sehingga kerjainan tangan dari sampah pun bisa dijual di tempat ini. Memang ada dampaknya terhadap turis, sebab bila tempatnya bersih bisa direkomendasikan dan banyak turis yang datang ke tempat ini hanya mengatakan tempatnya unik dan indah, hanya saja sampahnya sangat banyak,” pungkas Susi.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Koko Triarko / Foto : Ebed De Rosary

Lihat juga...