KAMIS 22 DESEMBER 2016
BANDUNG—Koreografer tentu memiliki tugas agar pertunjukan tari memiliki alur hingga menjadi pola gerakan yang indah dan pas dengan tempo musik. Lantas bagaimana cara koregrafer mengarahkan penari yang memiliki keterbatasan pendengaran?Koreografer sekaligus pembimbing di Smile Motivator, Eneng Subartin (32) menyampaikan memang ada perbedaan ketika mengajarkan penari umum dengan tunarungu.
![]() |
| Eneng Subartin, membimbing Penari Tunarungu dengan Isyarat. |
“Kalau yang umum kan mereka mendengar arahan dan musik, kalau mereka (penari penyandang tunarungu) hanya dengan perasaan untuk menyatu dengan irama,” kata Eneng.
Disampaikan, selama pertunjukan pandangan mata dengan koreografer pun menjadi acuan para penari tunarungu untuk bergerak. Andaikata koreogefer dan penari tidak konsentrasi jelas akan fatal.
“Permainan mata lebih kuat, kalau saya salah saja sedikit tidak fokus mereka langsung melotot karena takut salah,” ujarnya.
Biasanya Eneng membimbing dengan gerakan tangan saat para penarinya pentas, itu membantu mengingat pola gerakan. Hanya saja, disampaikan Eneng, kedekatan antara penari dan koreografer pun harus terbina sekalipun di luar pentas.
Agar lebih klop, biasanya Eneng mengadakan agenda kumpul dan berbincang-bincang dengan anak-anak latihnya. Dan dia tidak memposisikan sebagai guru melainkan teman.
“Saya tidak merasa mereka sebagai murid dan mereka juga tidak menganggap saya sebagai guru. Saya teman mereka jadi tidak ada jarak. Itu yang menjadi kesatuan saat kita pentas,” pungkasnya.
Jurnalis: Rianto Nudiansyah/Editor; Irvan Sjafari