Ibu Penyemai Bibit dan Ibu Pembuat Kerupuk Kemplang Lampung Selatan

RABU 21 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Upaya menambah penghasilan bagi keluarga tidak selalu  dikerjakan kaum laki laki terutama di sektor informal pedesaan di Lampung.   Banyak dari kaum ibu di Lampung Selatan  mencari nafkah untuk membantu suami, rela meninggalkan anak anaknya saat bersekolah dan bahkan sembari mengajak untuk bekerja merupakan pekerjaan harian yang menghasilkan tambahan untuk mengepulkan asap dapur.
Kesibukan menyemai berbagai jenis bibit di Persemaian permanen Desa Karangsari Lampung Selatan.
Para ibu ini bekerja sebagai buruh harian pekerjaan tersebut ditekuni dengan penuh kesungguhan hati di sela sela aktivitas harian  mengurus suami dan anak anak. Pekerjaan yang dilakukan para kaum perempuan yang didominasi kaum hawa tersebut di antaranya dilakukan oleh warga Dusun Siring Dalem Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang sebagai penyemai bibit dan Desa Klaten Kecamatan Penengahan sebagai pembuat kerupuk kemplang.
Kaum Ibu  di Persemaian Bibit Permanen Karangsari
Bagi kaum ibu di wilayah Dusun Siring Dalem Des Sripendowo yang berada di kawasan tanah register I Way Pisang Lampung Selatan bertani merupakan mata pencaharian utama. Masa tanam jagung, masa petik jagung merupakan sumber penghasilan yang ditekuni oleh kaum ibu di wilayah tersebut dengan menjadi buruh petik, buruh tanam jagung dengan sistem upah harian. Selain buruh tanam, buruh petik, buruh pupuk untuk proses pemupukan tanaman jagung juga menjadi sumber penghasilan yang bisa digunakan untuk menambah penghasilan bagi keluarga.
Salah satu ibu di Dusun Siring Dalem, Mistinah (36) mengaku menjadi buruh tanam, petik dan memupuk merupakan pekerjaan musiman yang memberikan penghasilan disamping pekerjaan utama sebagai ibu rumah tangga (IRT) sekaligus memelihara tanaman pertanian yang dilakukan di lahan pertanian yang mereka miliki. Selain memiliki pekerjaan musiman yang dilakukan setiap kurun tiga hingga empat bulan sekali tersebut bahkan perempuan di wilayah tersebut memiliki pekerjaan tambahan sebagai penyemai bibit dan memelihara bibit di pusat persemaian permanen milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih dan Way Sekampung (BPDASWSS) di Kecamatan Ketapang.
“Kalau sehari hari kami tetap mengerjakan tugas tugas harian sebagai ibu rumah tangga setelah beres sekitar jam 8 pagi kami berangkat ke persemaian untuk bekerja menyemai bibit yang dibayar dengan sistem upah harian,”ungkap Mistinah saat berbincang dengan Cendana News di lokasi persemaian permanen di Desa Karangsari Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, Rabu (21/12/2016).
Menyemai bibit pohon cemara untuk ditanam pada media semai cetak sebelum dibesarkan untuk bibit reboisasi.
Tugas sebagai buruh harian para perempuan tersebut seperti mencampur adonan tanah untuk persiapan media persemaian, memasukkan bakal bakal benih berusia sekitar dua minggu ke media semai cetak (MSC) yang telah disiapkan di nampan nampan khusus. Sementara beberapa perempuan lain bertugas membersihkan bibit bibit dalam polybag dengan membersihkan rumput yang mengganggu dalam media semai cetak yang sudah berusia sekitar 3 minggu atau lebih. Mistinah mengaku sebagai pekerja harian lepas dirinya mendapat upah sekitar Rp50 ribu perhari atau Rp300 ribu per minggu untuk mengerjakan pekerjaan yang ditelateni kaum perempuan tersebut.
Sekitar 8-10 kaum ibu yang bekerja di persemaian permanen tersebut rata rata merupakan warga sekitar yang rela meninggalkan keluarga untuk menjadi buruh harian. Selain berada dekat dengan lokasi tempat tinggal pekerjaan yang terbilang sederhana tersebut menjadi salah satu penyokong tersedianya jutaan bibit berbagai jenis tanaman untuk reboisasi di wilayah Lampung dan sekitarnya. Setiap media semai cetak yang dipergunakan untuk pembibitan rata rata mampu menampung sebanyak 40-50 bibit yang selanjutnya ditempatkan di rak rak khusus hingga bibit tersebut bisa dipindah ke polybag khusus.
Selain Mistinah,pekerja lain yang juga seorang ibu rumah tangga, Juminah (50) mengakui sejak pusat pembibitan permanen tersebut dibangun empat tahun lalu dirinya sudah mulai melakukan beragam pekerjaan berkaitan dengan persemaian. Selain menyiapkan media tanah , pupuk kompos, saat saat tertentu Juminah mengaku bertugas merawat tanaman dengan cara melakukan penyiangan tanaman pengganggu diantaranya rumput yang ikut tumbuh di polybag. Selain itu tugas lain d iantaranya menyiram bibit tanaman yang membutuhkan perawatan khusus dengan jumlah mencapai jutaan batang.
Juminah mengungkapkan sebagian besar perempuan yang jumlahnya bisa mencapai puluhan tersebut bekerja sebagai buruh harian lepas meski persemaian permanen tersebut memiliki beberapa karyawan tetap. Penggunaan tenaga buruh harian tersebut menurut Juminah dilakukan saat persemaian permanen harus menyediakan bibit dalam jumlah banyak paska permintaan dari sejumlah wilayah meningkat sementara saat jumlah bibit masih tersedia mereka lebih memilih menjadi buruh tanam , pupuk serta petik jagung.
“Perempuan di wilayah ini sebagian memang bekerja sebagai buruh upahan, dibayar setelah bekerja dan terkadang karena bersamaan banyak pemilik lahan pertanian yang tidak mendapat tenaga kerja dan harus menunggu giliran,” ungkap Juminah.
Berbagai pekerjaan bahkan dilakukan oleh Juminah, Mistinah dan kaum perempuan di wilayah tersebut yang sebagian merupakan kaum ibu yang masih memiliki anak usai sekolah. Mereka mengakui berbagai pekerjaan akan tetap dilakukan sepanjang bisa dikerjakan dan halal dilakukan. Kaum hawa ini rela menepis rasa lelah dan  rasa malu.
Hasil keringat yang diperoleh mereka berupa  uang upahan tanam jagung, memupuk, memetik sekitar Rp50 ribu perhari dan buruh menyemai bibit dan merawatt bibit sekitar Rp50 ribu per hari dengan jatah makan dari pemberi pekerjaan merupakan hasil yang memuaskan. Uang yang dicukupkan untuk kehidupan di desa menjadi sumber penghasilan harian para kaum ibu yang berangkat sejak pukul 08.00 dan menyelesaikan pekerjaan pada pukul 15.00 tersebut.
Pembuat Kerupuk Kemplang di Desa Klaten
Kerupuk kemplang merupakan makanan ringan yang sering digunakan sebagai oleh oleh khas Lampung yang banyak dijual di tempat penjualan oleh oleh dan toko sepanjang Jalan Lintas Sumatera. Kerupuk yang dibuat secara tradisional tersebut merupakan buah ketekunan dari para perempuan yang tergabung dalam usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) Tim penggerak pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK) Desa Klaten. Puluhan perempuan tersebut dengan telaten bekerja membuat kerupuk kemplang sejak belasan tahun lalu untuk memproduksi ratusan bal kerupuk kemplang yang dijual sebagai oleh oleh.
Perempuan pembuat kerupuk kemplang di Desa Klaten.
Puluhan pekerja perempuan tersebut bekerja sejak pukul 08:00 pagi saat anak anak sedang sekolah dan pekerjaan rumah tangga sebagai ibu rumah tangga dibereskan. Selain itu industri pembuatan kerupuk yang dimiliki oleh Sulityono dan sang isteri Ratna Yunianti. Industri rumahan dengan pemberdayaan kaum perempuan di Dusun Karanganyar tersebut bahkan terus bertahan dengan pengerjaan dominan dilakukan oleh perempuan.
“Nyaris semua dilakukan oleh perempuan dan hanya mengadon tepung tapioka yang dilakukan oleh suami saya, “ungkap Ratna Yunianti.
Selama hari biasa proses pembuatan kerupuk kemplang diakuinya membutuhkan tenaga kerja perempuan sebanyak 6 orang meliputi pekerjaan merebus, membakar, menjemur hingga proses membungkus kerupuk kemplang yang sudah selesai dibakar. Cuaca panas yang mendukung proses penjemuran membuat proses pengerjaan kerupuk kemplang bisa diselesaikan dalam waktu dua hari dan lebih lama saat musim hujan.
Ratna mengaku sebagian kaum ibu yang membantunya merupakan warga sekitar yang mendapat upah puluhan ribu setiap harinya. Selain digunakan sebagai tabungan untuk kebutuhan harian keluarga sebagian perempuan tersebut sengaja menjadi pekerja di tempat pembuatan kerajinan kemplang karena tidak memiliki pekerjaan sampingan.
“Suami kerja dan di rumah kami tidak memiliki pekerjaan sampingan kalau musim tanam jagung ya jadi buruh tanam dan kalau lagi sepi kami ikut membuat kerupuk kemplang,” ungkap Yuni salah satu anggota UP2K TP PKK Desa Klaten kepada Cendana News.
Yuni mengaku jarak yang dekat dengan rumah membuatnya nyaman bekerja meski sebagai seorang ibu, lokasi sekolah bagi sang anak memungkinkannya mengawasi sang anak dan saat pulang sekolah sang anak bisa bermain di lokasi dekat tempat dirinya bekerja. Proses pekerjaan selama satu hari dengan pembuatan rata rata 50 kilogram bahan tepung tapioka merupakan pekerjaan sehari hari untuk membuat kerupuk kemplang. Permintaan yang banyak menjelang arus liburan tahun baru 2017 bahkan membuat permintaan hingga ratusan ball kerupuk kemplang menjadikan kaum perempuan tersebut sibuk bekerja.
“Suami kerja jadi buruh dan kami juga jadi buruh, hasilnya lumayan ini kan sedang liburan nanti uangnya bisa untuk membeli keperluan anak sekolah di tahun ajaran baru,”ungkap Yuni yang memiliki anak yang duduk di kelas 5 Sekolah Dasar.
Pada minggu kedua ini, Ratna sang pemilik usaha mengaku kebutuhan akan tenaga kerja perempuan mencapai puluhan sebab permintaan kerupuk kentang pada akhir tahun meningkat. Pemesannya adalah penjual oleh oleh di terminal dan pelabuhan. Kondisi tersebut membuat peranan perempuan yang ikut membangtu proses pembuatan kerupuk kemplang tersebut menjadi penyokong usaha rumahan kerupuk kemplang yang juga menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat pedesaan.
Ratna mengungkapkan penggunaan tenaga kaum ibu yang ada di desanya sekaligus upaya melakukan pemberdayaan perempuan terutama saat tidak memiliki pekerjaan sampingan dan selesai masa tanam dan panen di lahan pertanian. Selain bisa menambah penghasilan usaha kerupuk kemplang tersebut ikut menghidupkan perekonomian kaum perempuan di desanya dengan memiliki penghasilan tambahan sebagai seorang ibu, perempuan yang ikut menyokong perekonomian keluarga d isamping sang suami yang mencari nafkah.
Proses pembakaran kerupuk kemplang.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...