Grup Seni Tambua Tansa PPSB, Angkat Kearifan Lokal Minang di Jakarta

MINGGU, 11 DESEMBER 2016

JAKARTA — Festival Jajanan Minang yang diadakan di Lapangan Banteng, 10-11 Desember 2016, selain dimeriahkan dengan panggung hiburan dan beragam warung kuliner khas Minang, juga diisi penampilan Grup Kesenian Tambua dari Sungai Batang, Sumatera Barat.
Penampilan Grup Kesenian Tambua Tansa PPSB di tengah kerumunan pengunjung Festival Jajanan Minang di Lapangan Banteng, Jakarta.
Sebuah organisasi kepemudaan dan seni yang menamakan diri Persatuan Pemuda Sungai Batang (PPSB), menurunkan hampir seluruh anggotanya untuk memainkan Kesenian Tambua menghibur para pengunjung Festival Jajanan Minang di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Ketua PPSB, Arnando, menerangkan, nama yang disematkan dalam kelompok seni pemuda yang dipimpinnya memang mewakili asal dari para anggota, yakni dari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.
“Sejak PPSB berdiri di awal tahun 1970, keanggotaan kami tidak terbatas. Jadi, sampai hari ini sulit mengetahui ada berapa anggota aktif. Namun, jika ada undangan penampilan Kesenian Tambua, hampir semua anggota pasti dengan sukarela menyisihkan waktunya,” sambung Arnando.
Kesenian Tambua sama dengan seni memukul tambur atau gendang. Namun, untuk Kabupaten Agam, khususnya di Sungai Batang, nama kesenian ini biasa disebut dengan Tambua Tansa. Tambua adalah alat musik pukul khas Minangkabau yang terbuat dari tabung kayu berukuran besar dengan tinggi 40-50 sentimeter, dan memiliki garis tengah 35-45 sentimeter. Ketebalan kayu untuk Tambua biasanya berukuran 1,5 Centimeter, agar bunyi yang dikeluarkan sesuai dengan bunyi-bunyian yang diinginkan. Penutup atas maupun bawah Tambua menggunakan kulit kambing dengan lilitan tali kuat untuk mengencangkannya.
Sedangkan Tansa adalah alat musik pukul berupa sebuah bejana berbentuk kuali besar berdiameter 14 Inci. Tansa biasanya terbuat dari alumunium dengan permukaan yang ditutup kulit tipis. Sekilas, Tansa menyerupai alat musik dalam marching band bernama snare. Namun, Tansa tidak memiliki tabung. Bunyi yang dikeluarkan dari Tansa lebih nyaring dari
Tambua serta menjadi komando dalam memainkan lagu.
Tambua.
Tambua Tansa biasa digunakan untuk menarik kerumunan massa dalam sebuah acara besar-besaran di Sumatera Barat. Misalnya, acara pernikahan, alek nagari dan beberapa acara lainnya yang dihadiri pengunjung dalam jumlah besar.
Antara Tambua dan Tansa harus tercipta harmoni. Ketukan demi ketukan tabuhan Tambua dan Tansa harus serasi dan selaras membentuk irama, baik cepat maupun lambat. Dan, dalam pesta pernikahan, Kesenian Tambua Tansa biasanya untuk mengiringi mempelai pria menuju rumah kediaman mempelai wanita. Namun bisa pula untuk mengiringi perjalanan kedua mempelai menuju ke suatu tempat dalam iring-iringan besar. Busana yang dikenakan oleh para pemain Tambua Tansa adalah busana tradisional Minangkabau, lengkap dengan tutup kepala.
Dalam penampilan Grup Kesenian Tambua Tansa PPSB di Lapangan Banteng, Sabtu (10/12/2016), terdengar jelas harmonisasi alunan irama Tambua Tansa bergemuruh mengumpulkan kerumunan pengunjung dalam satu lingkaran besar selayaknya sebuah pesta rakyat. Bahkan banyak pengunjung masyarakat Minang di Jakarta, pria maupun wanita, tanpa segan ikut menari di tengah para pemain Tambua Tansa ini.
“Sebenarnya, Kesenian Tambua atau Tambua Tansa ini banyak dipentaskan di Jakarta. Namun, masih sebatas acara-acara pesta pernikahan maupun acara komunitas warga Sumatera Barat saja. Karena itu, kedatangan kami dari Sungai Batang untuk bergabung dengan rekan-rekan di Jakarta demi lebih memperkenalkan kesenian ini agar bisa dinikmati oleh semua warga Jakarta,” ujar Arnando.
Arnando, Ketua PPSB, berdiri kenam dari kiri.
Kesenian Tambua Tansa biasa dimainkan dengan jumlah personil ganjil. Minimal 5 orang pemain, terdiri dari 4 pemain Tambua dan 1 pemain Tansa. Agar penampilan bisa lebih ramai, jumlah pemain bisa ditambah menjadi 7-9 orang, bahkan lebih dari jumlah itu dengan syarat tetap dalam jumlah ganjil.
“Kalau ditanya mengapa harus ganjil, kurang tahu juga, karena sudah turun-temurun kesenian ini dimainkan dengan jumlah pemain yang ganjil,” pungkas Arnando.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Koko Triarko / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...