BI Optimistis Ekonomi Kalimantan Selatan Tumbuh Moderat

KAMIS 22 DESEMBER 2016
 

BANJARMASIN—Bank Indonesia Wilayah Kalimantan Selatan optimistis perekonomian provinsi setempat tumbuh moderat pada triwulan pertama tahun 2017. Asumsi ini mengacu membaiknya harga komoditas batubara pararel dengan perbaikan ekspor, walapun permintaan belum kuat. Apalagi BI Kalsel meyakini Tiongkok memilih impor batubara untuk kebutuhan energinya pada 2017.   
Peserta pameran dan penjual produk kain Sasirangan saat menggelar dagangan di Gedung Mahligai Pancasila, Banjarmasin.
 “Permintaan alternatif, khususnya negawan di kawasan ASEAN dan Asia timur (Taiwan dan Korea Selatan) diperkirakan juga meningkat setelah akselerasi pertumbuhan ekonomi tertahan di tahun 2016,” ujar Kepala BI Wilayah Kalimantan Selatan, Harimurthy Gunawan lewat keterangan tertulis kepada Cendana News, Kamis (22/12/2016). 
          
Selain bertumpu serapan pasar luar negeri, Harimurthy optimis permintaan batubaran di dalam negeri bakal melonjak seiring beroperasinya sejumlah PLTU baru di Kalimantan pada 2017. Tahun ini, ia mengakui bisnis komoditas batubara memang sempoyongan. Setelah pengetatan fiskal 2016, ia berharap tren peningkatan belanja pemerintah dan investasi bisa menopang pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada 2017.
“Stabilnya tingkat inflasi akan menopang konsumsi rumah tangga,” Harimurthy melanjutkan. 
Sepuluh hari sebelum masuk tahun buku 2017, Harimurthy memprediksi angka inflasi triwulan IV-2016 ditutup menurun seiring membaiknya sektor pertanian, yang berdampak menjaga stabilitas pasokan pangan. “Akhir 2016, inflasi mungkin mengarah ke kisaran target 4±1 persen,” ujarnya.
Inflasi Kalimantan Selatan pada triwulan III-2016 tercatat turun, dari 5,88 persen (yoy) menjadi 4,74 persen. Penurunan inflasi dipicu melonggarnya tekanan terhadap komponen volatile foods selepas periode bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah. Angkutan udara, kata Harimurthy, masih berkontribusi besar terhadap inflasi di Kalsel.
BI mencatat perekonomian Kalimantan Selatan  tumbuh 3,46 persen (yoy) pada triwulan III-2016. Realisasi ini sedikit melambat dibandingkan  triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,97 persen  (yoy).
Perlambatan ekonomi dipicu kontraksi konsumsi pemerintah setelah penundaan DAU, yang mendorong penghematan realisasi anggaran serta melambatnya investasi. Adapun konsumsi rumah tangga tumbuh relatif stabil seiring terjaganya daya beli.
Jurnalis: Diananta P. Sumedi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Diananta P. Sumedi
Lihat juga...