Bantuan Kapal Mangkrak Kelompok Nelayan Minta Jenis Kapal Dikaji Ulang

SELASA 6 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Sejumlah bantuan kapal untuk kelompok nelayan di wilayah Lampung Selatan yang hingga kini tidak dioperasikan akibat tidak cocok untuk perairan di Lampung Selatan. Kondisi tersebut dibenarkan oleh Sadide salah satu pembina kelompok nelayan di wilayah Muara Piluk Bakauheni Lampung Selatan. Beberapa kapal yang kini tidak dioperasikan tersebut di antaranya kapal nelayan KM. Inka Mina 590 yang dibiarkan bersandar di dermaga Keramat Kecamatan Ketapang, KM.Inka Mina 839 di dermaga Muara Piluk Bakauheni dan beberapa kapal bantuan yang tidak dioperasikan oleh kelompok nelayan. 
Kapal jenis bagan dominan digunakan nelayan Lampung Selatan.
Bantuan yang diberikan ke sejumlah kelompok usaha bersama (KUB) nelayan tersebut bahkan disandarkan di dermaga tanpa pernah digunakan hingga kini meski diberikan sejak beberapa tahun lalu.  Sadide mengungkapkan kapal dengan spesifikasi berukuran 30 GT yang diberikan pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung tersebut kurang cocok digunakan di wilayah perairan Lampung Selatan yang memiliki pola penangkapan ikan menggunakan bagan congkel, kapal cumi dengan ukuran 130 GT ke atas. 
Sementara kapal jenis Inka Mina selama ini memiliki kemampuan jelajah yang terbatas dengan biaya operasional yang tinggi dan dirasa kurang menguntungkan sehingga tidak digunakan oleh nalayan.
“Nelayan sudah melakukan berbagai percobaan diantaranya dengan melakukan kegiatan penangkapan ikan menggunakan kapal tersebut namun hasilnya kurang maksimal, bahan bakar tak sebanding dengan perolehan selama melaut dan cenderung merugi,”terang Sadide selaku pembina kelompok nelayan sekaligus anggota DPRD Lampung Selatan dari partai PDIP tersebut saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (6/12/2016).
Sadide mengakui kondisi kapal tersebut cukup bagus namun pemberian bantuan kapal ke nelayan setempat harus mmperhatikan kearifan lokal, pola tangkap nelayan serta kondisi perairan wilayah setempat. Sadide yang mengaku berasal dari wilayah Sulawesi Selatan tersebut bahkan mengaku kapal jenis inka mina sangat cocok digunakan di wilayah perairan Timur Indonesia. Alasan tersebut menurutnya sesuai dengan pengalaman dan aktivitas nelayan yang ada di wilayah Lampung Selatan yang sebagian besar menggunakan kapal jenis bagan congkel dan kapal cumi.
Banyaknya nelayan yang menggunakan kapal jenis bagan congkel tersebut terlihat dari dominannya nelayan memiliki perahu bagan. Berdasarkan data kelompok nelayan Muara Piluk,jenis jenis kapal yang bersandar di dermaga Muara Piluk di antaranya terdiri dari jenis kapal bagan ukuran 5 GT sebanyak 60 kapal, non GT sekitar 200 kapal lebih dari 130 GT belasan kapal dan ratusan lainnya berupa kapal tradisional jenis ketinting yang masih menggunakan perahu dayung. Selain sarana kapal yang sudah cukup memadai sebagian kapal juga dilengkapi dengan alat pendingin ikan (cold storage) sehingga nelayan bisa melakukan aktivitas melaut selama berminggu minggu dan menepi di dermaga saat hasil tangkapan sudah cukup banyak terutama pada musim cumi.
Ke depan ia mengungkapkan kepada pemerintah daerah untuk mengkaji ulang pemberian bantuan yang tepat dan cocok untuk nelayan sesuai dengan wilayah tangkap yang selama ini digeluti oleh para nelayan. Sebagian nelayan bahkan mengungkapkan dengan biaya pembuatan kapal yang nyaris sama untuk pembuatan dua kapal jenis inka mina tersebut bisa dialihkan untuk pembuatan kapal cumi dengan ukuran 130 GT sehingga bisa digunakan kelompok nelayan untuk melaut selama hampir dua pekan sementara kapal jenis inka mina memiliki kemampuan melaut terbatas maksimal satu pekan di perairan sekitar Selat Sunda.
Alokasi bantuan yang harus menyesuaikan dengan kondisi nelayan setempat tersebut juga dibenarkan oleh salah satu nelayan, Aang, ia mengungkapkan di wilayah perairan Timur Lampung beberapa nelayan masih mengembangkan teknik budidaya keramba jaring apung (KJA) serta pola tangkap ikan menggunakan bagan. Aang mengungkapkan menyambut positif bentuk perhatian pemerintah yang menggulirkan program bantuan kapal untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan.
“Tapi kalau alat yang diberikan semisal kapal nelayan tidak bisa digunakan secara maksimal hasilnya juga mubazir bahkan sebagian nelayan lebih memilih kembali melaut menggunakan kapal milik sendiri meski berupa kapal tradisional,”ungkap Aang.
Meski sebagian bantuan kapal dari Kementerian KKP sebelumnya tidak digunakan namun beberapa kelompok nelayan di wilayah Kabupaten Lampung Selatan dikabarkan menerima bantuan sebanyak 12 unit kapal dan 41 unit alat tangkap. Sejumlah kapal bantuan tersebut sebagian ditambatkan di dermaga TPI Bom Kalianda dan belum diserahkan ke nelayan.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto; Henk Widi
Lihat juga...