SABTU, 19 NOVEMBER 2016
LAMPUNG—Tangan tangan terampil dengan gesit menghaluskan kayu kayu jati yang telah dibentuk menjadi furniture,meubel serupa kursi, kayu, lemari dan benda benda seni lain terbuat dari kayu jati.

Tempat mengerjakan meubel yang telah dibersihkan tersebut menurut Yuni dimiliki oleh Riyanto yang merupakan sang bos sekaligus seorang pemborong proyek.

“Awalnya memang menjual dalam bentuk jadi namun karena bahannya terkadang cacat akhirnya bos membeli dalam keadaan setengah jadi belum diamplas, belum dicat dan diselesaikan di sini untuk selanjutnya dikirim ke pemesan,”ungkap Yati yang mengaku sang bos tengah mengerjakan proses pembuatan talu di proyek Tol Trans Sumatera, Sabtu (19/11/2016).
Beberapa meubel yang banyak dipesan oleh masyarakat untuk keperluan rumah tangga diakui Yuni diantaranya meja kursi, almari, kursi malas, kursi goyang, tempat tidur, hiasan dinding berupa jam kayu serta berbagai jenis meubel berbahan kayu jati.
Harga meubel jadi yang telah dikerjakan di lokasi tersebut dibanderol dengan harga kisaran Rp5juta-Rp15 juta. Harga Rp5juta diantaranya untuk seperangkat meja kursi lengkap dan harga Rp15 juta untuk meubel jenis lain diantaranya almari dan tempat tidur yang dilengkapi dengan ukiran ukiran yang cukup rumit.
Bekerja dengan alat alat sederhana diantaranya mesin penghalus, amplas beresiko menghirup debu dan kotoran lain namun dengan menggunakan masker khusus dijalani oleh para perempuan tersebut dengan cekatan.
Peran perempuan dalam usaha kreatif tersebut menurut Kepala Desa Kelawi Syarifudin merupakan upaya untuk menciptakan lahan kerja baru di tengah proses pembangunan jalan tol Sumatera yang sebagian menggusur lapangan usaha masyarakat.

Ia mengaku banyak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang perlu mendapat pembinaan karena masih banyak perempuan yang kerentanan terhadap ekonominya masih rendah.

Khusus di bidang kerajinan meubel, peran perempuan masih sangat diperlukan karena pada dasarnya wanita ungkap Syarifudin menyukai keindahan dan memiliki kreatifitas yang tinggi.
Bidang usaha kreatif yang masih memerlukan keterampilan tangan masih menjadi usaha pilihan sehingga perempuan masih menjadi penyokong usaha kreatif tersebut.
Saat pesanan cukup banyak terutama untuk meubel dalam jumlah banyak sekitar 9-10 orang perempuan dalam sehari pun ikut membantu melakukan proses pengerjaan meubel di tempat tersebut.
Selain berada dekat dengan tempat tinggal sehingga masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus suami, mengurus anak, lokasi kerja tak harus ditempuh menggunakan kendaraan membuat pekerjaan finishing meubel menjadi pilihan.
Peran perempuan dalam usaha kreatif lain juga masih diperlukan dalam usaha pembuatan bibit di persemaian permanen.
Pantauan Cendana News, usaha kreatif yang memanfaatkan limbah kotoran gajah, sekam, sisa sabut kelapa dipadukan dengan media semai cetal (MSC) tersebut masih mempekerjakan puluhan perempuan.

Sektor usaha kreatif tersebut hingga kini dominan disokong kaum perempuan yang ikut membantu peran para suami yang sebagian juga bekerja di bidang yang sama atau bekerja di sektor lain.
Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Sukur Patakondo/ Foto: Henk Widi