Usaha Kreatif Batu Bata dan Geribik Motif Batik Pencaharian Warga Sukabaru

MINGGU, 30 OKTOBER 2016

LAMPUNG — Usaha sebagai mata pencaharian untuk bertahan hidup dan mencari penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari yang semakin banyak membuat warga di Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan menciptakan berbagai lapangan pekerjaan. Sebagian wilayah yang berada di tanah kawasan Register 1 Way Pisang tersebut sebagian berprofesi sebagai petani pisang, jagung serta tanaman perkebunan. Kontur perbukitan membuat sebagian warga memanfaatkan lahan yang mereka miliki untuk menjadi pengrajin batu bata. Rumah-rumah terbuat dari atap ijuk dan daun kelapa menjadi pemandangan yang umum hampir di setiap rumah. Rumah rumah tersebut sering dikenal dengan “tobong” yang merupakan tempat membuat sekaligus membakar batu bata yang dilakukan oleh sebagian besar warga terutama di Dusun Buring, Dusun Laban Sunda dan Laban Proyek. Sebuah pekerjaan yang menjadi mata pencaharian dan menjadi pilihan warga yang kreatif menciptakan lapangan usaha bagi dirinya sendiri.
Salah satu pemilik tobong batu bata, Sopian (34) menyebutkan, ia mewarisi tobong bata dari orangtuanya. Jajaran batu bata yang sudah dicetak sebelumnya merupakan hasil pengolahan dengan dengan mesin molen atau menggunakan cara manual. Selanjutnya batu bata yang sudah dicetak akan dijemur hingga beberapa hari untuk selanjutnya ditata di dalam tobong dan dibakar sambil menunggu pemesan yang akan menggunakan batu bata yang mereka olah menjadi bahan bangunan.
Sopian mengaku hampir seluruh warga di wilayah Buring bekerja sebagai tukang pemecah batu, tukang batu bata, pembuat geribik motif batik serta sebagian menjadi petani. Mata pencaharian yang sudah berpuluh puluh tahun tersebut ditekuni warga sehingga wilayah tersebut disebut sebagai sentra pembuatan batu bata dan pemecahan batu secara manual bahkan juga sebagian pembuat geribik dari bambu petung.
“Sebagian besar batu bata yang digunakan untuk pembuatan bangunan didatangkan dari sini dan kami menjadi pengrajin sejak puluhan tahun turun temurun karena memang ini yang bisa menjadi sumber penghasilan bagi kami yang rata rata memang perantau dari Pulau Jawa disamping menjadi petani,”terang Sopian saat ditemui Cendana News di Dusun Buring Kecamatan Penengahan, Minggu (30/10/2016).
Jutaan batu bata dengan harga berkisar Rp350ribu per seribu natu bata kini bahkan menyebar ke berbagai wilayah untuk pembuatan bangunan permanen. Selain itu permintaan yang meningkat akan batu bata merupakan dampak positif dari proses pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang membuat sebagian pemilik bangunan terdampak tol harus tergusur dan membuat bangunan baru. Permintaan akan batu bata menurut Sopian bahkan meningkat sekitar 100 persen sehingga bisnis penyewaan mesin molen tanah (pengolah tanah) semakin laris manis dengan biaya sekitar Rp.300ribu per satu kendaraan L 300. Pengrajin batu bata sebagian harus bekerja cepat dengan mesin untuk memenuhi permintaan yang bersaing dengan daerah pengrajin batu bata lainnya diantaranya di wilayah Kecamatan Palas, Kecamatan Katibung dan Kecamatan Penengahan.
Keberadaan sungai Way Pisang yang mengalir melintasi Desa Sukabaru menjadi anugerah bagi warga yang berprofesi sebagai pembuat batu bata karena sumber kebutuhan akan air untuk pengolahan tanah menjadi batu bata sangat diperlukan. Sebagian warga bahkan melakukan sistem upahan untuk mencetak batu bata dengan cara manual sementara sebagian pemilik modal membuat batu bata menggunakan mesin pengolah batu bata. Mata pencaharian yang digeluti oleh warga tersebut menjadi sebuah sumber penghasilan yang digunakan untuk keperluan sehari hari dan keperluan lain diantaranya biaya anak sekolah dan membeli modal usaha untuk pengangkutan berupa mobil.
Selain berprofesi sebagai pembuat batu bata, geribik motif batik yang terbuat dari jenis bambu petung yang banyak terdapat di tepi Sungai Way Pisang menjadi usaha kreatif yang dikerjakan masyarakat. Keberadaan batang batang bambu tersebut sebagian dibuat geribik yang masih dimanfaatkan untuk kebutuhan konstruksi warga. Sebagian pembuat geribik juga mengkhususkan pembuatan geribik dengan motif batik dan motof tertentu yang akan digunakan untuk interior ruangan diantaranya sebagai plafon, dinding kafe, warung yang mempertahankan nuansa tradisional.
Salah satu pengrajin geribik yang masih bertahan hingga kini diantaranya, Suhardi (60) warga Dusun Laban Sunda Desa Sukabaru yang masih membuat geribik motif batik berdasarkan pesanan dan sebagian geribik tanpa pesanan. Suhardi mengaku menekuni pembuatan geribik untuk pembuatan dinding rumah sejak umurnya masih 30 tahun dan kini masih dilakukannya. Ia mengaku sejak tahun 1990 ia mengaku permintaan akan geribik bambu masih memiliki peminat yang cukup banyak. Namun sejak tahun 2000 seiring dengan banyaknya warga yang membangun rumah dengan permanen menggunakan batu bata membuat permintaan akan geribik menurun.
“Sejak geribik ditinggalkan orang untuk menjadi dinding rumah permintaan akan geribik menurun namun untuk geribik motof batik tetap saya layani karena digunakan untuk plafon atau dinding artistik,”ungkapnya.
Geribik tanpa pola yang hanya digunakans ebagai dinding rumah warga di pedesaan ungkapnya dijual dengan harga Rp100ribu per dua meter dengan sistem lembaran. Sementara khusus untuk geribik dengan motif batik dijualnya dengan harga Rp150ribu per meter. Perbedaan tersebut selain dari sisi bahan pembuatan juga lamanya proses pengerjaan. Khusus geribik untuk didinding rumah ia mengaku cukup mudah dan cepat dibuat sehingga harganya murah sementara untuk geribik motif batik lebih lama proses pembuatan dan menggunakan kulit bambu khusus.
Sulitnya membuat geribik bambu motif batik membuat usaha kreatif yang ditekuni oleh Suhardi masih dilirik orang. Sebagian pemilik warung makan, restoran bahkan sengaja memesan geribik dari bambu dengan alasan lebih awet dan memiliki nilai seni dibanding menggunakan bahan lain terutama saat diaplikasikan menjadi plafon ditengah banyaknya plafon sintetis yang beredar. Usah kreatif yang ditekuni Suhardi pun diungkapkannya terus dilakukan hingga usianya tak lagi muda dan ia tetap menggunkan alat manual untuk mengerjakan pembuatan geribik motif batik tersebut.
Berbagai usaha kretif warga diantaranya sebagai pemecah batu, pembuat batu bata, geribik motif batik dari bambu menjadi sumber penopang perekonomian warga. Meski demikian dengan banyaknya usaha kreatif tersebut Suhardi mengaku belum mendapat pembinaan atau pendampingan dari pemerintah daerah untuk pemasaran yang lebih luas dan bantuan permodalan bagi pengrajin kecil seperti yang mereka tekuni. Meski demikian sebagian besar warga terus menggantungkan usaha kreatif tersebut untuk digunakan sebagai sumber penghasilan yang bahan bakunya masih bisa diperoleh di sekitar desa.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...