Ratoh Jaroe, Semangat dan Kekuatan yang Berbalut Keanggunan

MINGGU, 30 OKTOBER 2016

TMII, JAKARTA — Indonesia kaya akan khasanah budaya dan kesenian rakyat, mulai ujung barat hingga ujung timur nusantara. Salah satunya adalah Tari Ratoh Jaroe. Ide tarian ini pertama kali dicetuskan oleh seorang seniman muda asli Aceh bernama D’Gam pada tahun 2000 di Jakarta.
Salam yang dilakukan diawal pembukaan Tari Ratoh Jaroe
Sekilas Ratoh Jaroe memiliki kemiripan dengan Tari Saman. Akan tetapi walaupun ada istilah kembar untuk keduanya namun tidak identik. Tari Ratoh Gayo dimainkan oleh perempuan dengan jumlah penari genap. Tari Ratoh Gayo dilengkapi penyair (syahi) dengan menggunakan bahasa Aceh sambil menabuh gendang tradisional Aceh bernama rapai.
Secara harafiah, Ratoh Jaroe berasal dari dua kata yakni Ratoh yang artinya menari dan Jaroe yang berarti jari jemari, sehingga jika digabungkan menjadi jemari yang menari. Untuk bisa melakukan tarian ini memang dibutuhkan kekompakan dan semangat yang tinggi dari para penarinya.
” Banyak versi jika menyangkut arti tarian Ratoh Jaroe, tapi kalau secara harafiah bisa menggunakan arti Jemari yang Menari,” tutur Evi, seorang penari Ratoh Jaroe sekaligus pelatih Tari Ratoh Jaroe di beberapa sekolah maupun perguruan tinggi di Tangerang selatan saat ditemui Cendana News disela-sela kesibukannya sebagai syahi dalam Festival Tari Ratoh Jaroe 2016 di anjungan Provinsi Aceh, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (30/10/2016).
Busana tari Ratoh Jaro menggunakan kain polos berwarna warni dengan dominasi dasar merah, kuning, hijau, berpadu dengan songket Aceh. Selain itu, sebagai penutup kepala maka digunakan hijab polos dengan ikat kepala untuk menjaga kerapatan hijab tersebut saat penari melakukan gerakan-gerakan Ratoh Jaroe yang meledak-ledak dalam kecepatan yang bervariasi.
Syahi atau pelantun syair dalam Tari Ratoh Jaroe
Tari Ratoh Jaroe mengandung berbagai pesan atau nasihat islami yang dilantunkan oleh syahi sambil menabuh rapai. Disamping itu, para penari juga harus menyesuaikan irama tabuhan gendang seorang syahi dengan gerakan-gerakan yang mereka lakukan. Bahkan para penari juga kerap melantunkan syair untuk membalas syair dari syahi. Biasanya hal itu dilakukan diawal, pertengahan, dan penutupan tari.
Namun begitu karena tarian ini sangat meledak-ledak dalam tempo dan semangat tinggi, maka ada keunikan tersendiri juga. Penari diberikan keleluasaan mengekspresikan semangat dan konsentrasi mereka dalam bentuk teriakan-teriakan kecil.
” Hal itu tidak dilatih, tapi spontanitas dan luar biasanya adalah spontanitas itu bisa dilakukan bersama-sama serta dalam waktu yang bersamaan pula, sehingga orang pasti akan menyangka bahwa itu dilatih padahal tidak,” ungkap D’Gam pencetus ide sekaligus pelatih Tari Ratoh Jaroe ketika ditemui Cendana News di anjungan Aceh, TMII.
Melihat belasan perempuan menari Ratoh Jaroe, pastinya mengingatkan semua orang akan semangat para wanita Aceh sejak zaman perjuangan dahulu kala. Pantang menyerah, pantang mundur, pemberani, militan, dan sangat kompak antara satu dengan yang lainnya. Itulah salah satu pesan tersirat dari Tari Ratoh Jaroe, bahwa tarian ini dapat dikatakan representasi semangat dan keanggunan.
Semangat dari para wanita Aceh yang sudah dikenal sejak dahulu kala, serta keanggunan perempuan Aceh yang berbalut busana khas berwarna-warni. Setiap gerakan yang kompak maupun teriakan yang meledak-ledak dalam Tari Ratoh Jaroe adalah ekspresi dari semangat dan tekad kuat perempuan Aceh.
Gerakan-gerakan yang dilakukan dalam Tari Ratoh Jaroe
Saat ini, Tari Ratoh Jaroe mulai sering dipertunjukkan sebagai bagian dalam acara penyambutan kedatangan tamu penting maupun tamu kenegaraan yang berkunjung ke Provinsi Aceh.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...