Satu Keluarga Beda Usaha, Saling Mendukung dan Ciptakan Lapangan Kerja

RABU, 26 OKTOBER 2016

LAMPUNG — Sederet toko yang berada di sepanjang ruas Jalan Raden Inten II Desa Kampung Baru Kecamatan Penengahan Lampung Selatan terlihat selalu ramai dikunjungi pelanggan. Beberapa diantaranya mencari perlengkapan untuk pernak-pernik hiasan kendaraan roda dua atau motor, sebagian mengganti jok, membuat plat nomor kendaraan, sebagian hanya sekedar mencari perlengkapan untuk bergaya dengan topi atau akesesoris saat berkendara. 
Toko yang merupakan tempat usaha tersebut saling berhimpitan dengan masing masing barang yang dijual berbeda namun saling melengkapi terutama untuk keperluan kendaraan roda dua yang dicari oleh masyarakat sekitar. Letak yang saling berdekatan memudahkan pengunjung mendapatkan barang yang diinginkan tanpa harus pergi jauh karena toko berada saling bersebelahan.
Toko toko tersebut merupakan milik satu keluarga, ayah dan anak yang memiliki usaha dalam bidang perlengkapan kendaraan terutama berkaitan dengan perlengkapan pendukung saat berkendara. Mustofa (50) sang ayah awalnya hanya berjualan bensin eceran, oli bekas, solar yang dikenal saat belum ada sistem penjualan dengan alat ukur bensin diantaranya jenis Pertamini. Letak yang strategis membuat insting bisnis laki laki yang memiliki beberapa anak laki laki ini selanjutnya menambah barang dagangan berkaitan dengan keperluan kendaraan roda dua diantaranya stiker, sarung tangan, tutup pentil, serta perlengkapan lain.
“Saya awalnya hanya berdagang bensin tapi selanjutnya ada peluang untuk mengembangkan usaha, karena hanya ada satu di sepanjang jalan ini pelanggan makin banyak dan semakin dikenal,”ungkap Mustofa yang selalu memanggil pelanggannya dengan ramah seperti dialami Cendana News saat berkunjung ke toko penjualan aksesoris motor miliknya, Rabu (26/10/2016).
Setelah usahanya berkembang, ia mengaku melihat sang anak masih belum memiliki tempat usaha sehingga ia meminta sang anak untuk mencoba membuka usaha reparasi jok kendaraan roda dua, mapras jok, membuat plat nomor kendaraan, lis motor, aksesoris dan lain lain. Keberadaan tempat reparasi jok kendaraan roda dua tersebut semakin membuat toko tersebut dikunjungi oleh sebagian masyarakat pecinta kendaraan roda dua terutama anak muda yang menyukai pemasangan stiker dan aksesoris kendaraan roda dua. Dalam sehari Mustofa memgaku mendapatkan omzet yang cukup lumayan meski merahasiakan nominalnya namun ia memastikan pelanggan selalu datang bahkan hingga jam 22:00 WIB malam.
Sang anak kedua, Sibli (23) bahkan tak kalah kebanjiran order memperbaiki jok kendaraan roda dua bagi pemilik kendaraan yang bagian joknya sudah rusak atau perlu diganti baru. Dalam sehari dirinya sibuk mengerjakan perbaikan jok sebanyak 4-5 unit dengan proses pengerjaan terbilang singkat dengan tingkat kerumitan tinggi memakan waktu sekitar 45 menit sementara jika mudah dapat dikerjakannya dalam waktu sekitar 30 menit. Proses melepas jok, mengganti jok dikerjakannya dengan mesin manual diantaranya mesin jahit, perekat dengan lem serta straples yang dipergunakan untuk melekatkan kulit jok dengan matras.
“Modelnya banyak sekali tergantung selera pelanggan dengan kualitas ketebalan yang berbeda beda dan harga yang bervariasi tapi rata rata tak melebihi harga di atas 50 ribu,”ungkap Sibli.
Pelanggan pun tak pernah kecewa dengan pekerjaan tangan Sibli yang memiliki usaha persis di sebelah toko sang ayah yang menjual aksesoris kendaraan bermotor hingga mobil. Selain dikerjakan dengan rapi dan cepat lokasi yang strategis di jalan antar kecamatan membuat toko yang menjadi sumber mata pencahariannya banyak dikunjungi orang. Upah pemasangan berikut membeli bahan untuk jok dengan variasi harga Rp25-Rp45ribu pun masih terjangkau oleh warga yang sebagian merupakan petani dan pekebun. Selain itu dirinya masih memberi garansi kepada pemilik kendaraan untuk memperbaiki jok yang perlu diperbaiki ulang jika mengalami kerusakan.
Sejalan dengan sang kakak, berada di dekat toko sang kakak dan sang ayah, Ismat (20) juga memiliki usaha jual beli perlengkapan berkendara diantaranya sal, balaklava, penutup muka, slayer serta berbagai perlengkapan pecinta motor touring atau hanya sekedar untuk bergaya (style). Perlengkapan lain yang dijual diantaranya topi anak anak, topi orang dewas hingga pernak pernik lainnya yang dipergunakan saat berkendara. Ismat mengaku menekuni usaha tersebut disamping sang kakak dan ayah atas saran keduanya. Kesulitan dalam mencari pekerjaan tidak memupuskan harapan keluarga tersebut dengan melakukan usaha saling mendukung dan memudahkan pelanggan mencari perlengkapan yang akan dicari.
“Awalnya sempat pesimis tapi ini seperti menjadi jalan rejeki bagi keluarga kami, misal saat ada yang membeli aksesoris motor di toko bapak ada yang sekaligus melihat dan membeli topi, sal di toko saya dan besoknya ganti jok di toko milik kakak,”ungkapnya.
Satu keluarga yang merantau dari Serang Banten ke Lampung puluhan tahun lalu tersebut sepakat membuka usaha yang saling melengkapi dan masih bisa saling menjaga silaturahmi. Sebab sang anak yang pernah bekerja di luar daerah harus terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) saat bekerja membuat penghasilan tidak menentu dengan biaya hidup yang semakin tinggi. Kemauan dan ketekunan yang berbuah manis bagi keluarga tersebut sekaligus menjadi mata pencaharian sekaligus mengurangi angka pengangguran di tengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan.
“Kami memang dididik untuk kreatif sejak kecil dan seperti umumnya di desa ini banyak warga yang kreatif diantaranya menekuni bisnis jual beli hasil pertanian dengan sistem pengepul, selain menambah lapangan kerja baru juga memutar perekonomian di desa ini,”ungkap Ismat.
Usaha dengan menciptakan lapangan kerja baru ungkap Ismat akan semakin membuat pemuda pemuda di desa tersebut memiliki banyak penghasilan. Di sebelahnya bahkan sang keponakan membuka usaha bengkel atau reparasi kendaraan yang ramai dikunjungi oleh para pelanggan yang akan memperbaiki kondisi kendaraan roda dua. 
Selain menambah lapangan kerja baru, kondisi desa tersebut semakin bergeliat dengan banyak warganya memiliki sektor usaha informal namun cukup menghasilkan dengan lapangan lapangan kerja baru. Selain itu peluang usaha baru menjadi motivasi warga lainnya untuk tidak menjadi pengangguran.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...