YOGYAKARTA — Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional (LAPAN) tengah menyiapkan berbagai langkah untuk segera mewujudkan pembangunan Bandara Antariksa. Posisi Indonesia yang strategis karena dilewati garis ekuator dan semakin banyaknya sampah antariksa, membuat kebutuhan akan bandara antariksa tersebut mendesak.
Selain itu, Indonesia yang dilewati garis ekuator membuat negara-negara peluncur roket mengincar posisi untuk membangun sebuah bandara antariksa di wilayah Indonesia. Karenanya, pembangunan bandara antariksa semakin urgen untuk segera dilakukan. Di samping itu, pembangunan bandara antariksa juga merupakan amanat Undang-undang Nomor 21 Tahun 2013, tentang keantariksaan.
Demikian dikatakan Kepala LAPAN, Thomas Djamaludin saat menghadiri seminar nasional bertema pengembangan kebijakan dan regulasi nasional penerbangan dan antariksa, problema dan tantangan, di Kampus III Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Kamis (20/10/2016).
Thomas mengatakan, pihaknya menargetkan 25 tahun ke depan Indonesia harus sudah memiliki Bandara Antariksa. Saat ini, pun pihaknya tengah mengkaji dua lokasi calon dibangunnya bandara antariksa tersebut, yakni Morotai di Maluku Utara dan Biak Numfor di Papua.
Sebelumnya, kata Thomas, pilihan lain juga ada di Bengkulu di kawasan Samudra Hindia dan menghadap ke barat. Namun, daerah tersebut kemudian diketahui rawan gempa sehingga dibatalkan.
Sementara itu, dua lokasi lain yaitu Morotai dan Biak ditargetkan pada tahun ini salah satunya sudah bisa ditetapkan. Menurut Thomas, dua lokasi tersebut sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai lokasi bandara antariksa.
Di Biak, katanya, dari segi infrastrukturnya cukup bagus. Namun, jumlah penduduknya sudah cukup padat sehingga menyulitkan untuk melakukan relokasi. Sedangkan, di Morotai jumlah penduduknya masih relatif sedikit, namun infrastrukturnya belum memadai.
“Keputusan untuk memilih lokasi bandara antariksa nanti juga bukan keputusan LAPAN. Namun akan menjadi keputusan nasional”, jelasnya.
Setelah ditetapkan lokasinya, lanjut Thomas, LAPAN akan melakukan studi kelayakan lebih lanjut, dan menggandeng mitra internasional yang sudah berpengalaman membangun bandara antariksa. Saat ini, katanya, hanya ada dua negara yang telah memiliki bandara antariksa, yaitu Brasil dan Perancis.
“Meluncurkan roket satelit besar membutuhkan stasiun yang besar dan aman, agar jika satelit jatuh tidak menimpa pemukiman. Sedangkan Stasiun LAPAN yang saat ini ada di Garut, Jawa Barat, hanya untuk meluncurkan roket kecil saja,”,ungkapnya.
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko