Musim Hujan, Pembukaan Lahan di Kawasan Hutan Selatan Lombok Memprihatinkan

MINGGU, 30 OKTOBER 2016

LOMBOK —- Meski Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah membentuk tim terpadu bersama antara Dinas Kehutanan, Kepolisian, TNI dan sejumlah Lembaga dan instansi hukum lain, aksi perambahan dan pembukaan lahan baru di kawasan hutan sebagai lahan bercocok tanam masih marak dilakukan masyarakat.
Kondisi kawasan hutan dan perbukitan Pulau Lombok bagian selatan yang sudah mulai gundul, karena dirambah warga
Di kawasan hutan Lombok Tengah (Loteng) bagian selatan misalkan, hampir sebagian besar kawasan hutan dan perbukitan yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan, akibat aktivitas masyarakat yang membuka lahan untuk keperlun bercocok tanam.
Mulai dari bawah hingga puncak hutan sudah gundul, berbagai jenis pepohonan yang tumbuh di kawasan hutan, sudah banyak yang ditebang dan dibabat secara membabi buta tanpa pengendalian.
“Kondisi tersebut tentu sangat mengkhawatirkan, baik bagi kelangsungan populasi pepohonan yang tumbuh di kawasan hutan maupun bagi kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan,” kata H. Isnaini, tokoh masyarakat Desa Mekar Sari, Lombok Tengah kepada Cendana News, Minggu (30/10/2016).
Ia itu hal yang paling membahayakan akibat gundulnya hutan adalah terjadi bencana tanah longsor dan tentu yang paling terancam adalah warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Apalagi memasuki musim hujan seperti sekarang, bencana tanah longsor termasuk banjir bisa saja terjadi sewaktu dan mengancam warga, karena kayu penyangga tanah dan air hujan sudah banyak hilang akibat ditebang.
“Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian hutan, termasuk tindakan hukum yang lemah membuat aksi perambahan dan penebangan kayu di kawasan hutan sebagai tempat bercocok tanam tidak terkendalikan,” tutupnya.

Jurnalis : Turmuzi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi

Lihat juga...