Memperbaiki Tata Kelola Negara dan Kebangsaan Dengan Menegakkan Pancasila Serta Kemurnian UUD 1945

JUM’AT, 28 OKTOBER 2016

CATATN JURNALIS — Pembukaan acara Dialog Dan Seminar Nasional bertajuk Keprihatinan Nasib Anak Bangsa Indonesia yang diadakan Gema Gong Pancasila (Gerakan Masyarakat Gotong Royong Pancasila) sebagai rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2016 turut dibuka dengan pidato singkat Pimpinan Majelis Gema Gong Pancasila, Wardi Jien, SH.
Peringatan tercetusnya sumpah kebangsaan dari para pemuda Indonesia merupakan moment yang sangat krusial setiap tahunnya dan pada tahun ini berusia 88 tahun. Hal ini sama dengan peringatan kemerdekaan RI dimana bangsa ini sudah merdeka selama 71 tahun. Disini setiap pribadi akan terhenyak bahwa sejak tahun 1928 bangsa ini sebenarnya sudah berikrar untuk sebuah persatuan bahkan jauh sebelum kemerdekaan itu diproklamirkan, dengan anak-anak muda sebagai penggagasnya.
Dengan mengambil moment Sumpah Pemuda dalam rangkaiannya menuju Proklamasi kemerdekaan RI, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan terbentuknya negara ini adalah tidak bertentangan dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, tidak mengkhianati Proklamasi 17 Agustus 1945, tidak bertentangan dengan Bhinneka Tunggal Ika serta amanat pembukaan UUD 1945, dan tentunya tidak menyimpang apalagi bertentangan dengan 12 nilai-nilai yang ada dalam Pancasila.
Namun saat ini, terutama selepas era reformasi, maka permasalahan bangsa begitu menyedihkan karena sudah mengarah pada mengkhianati Proklamasi, bertentangan dengan Pancasila serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya, dan semua itu berimbas pada buruknya tata kelola negara dan tata kelola kebangsaan Indonesia itu sendiri. Jika tidak diperbaiki, maka bukan tidak mungkin usia bangsa ini tidak akan lebih dari 100 tahun.
Tata kelola kebangsaan tersebut merupakan sebuah manajemen yang mengatur, menata, dan mengelola hak serta kewajiban terhadap nasib bangsa Indonesia. Diharapkan kedepannya dengan memperbaiki tata kelola kebangsaan dan tata kelola negara maka akan turut memperbaiki nasib bangsa Indonesia untuk lebih baik lagi, lebih adil, makmur, bahagia, serta lebih kokoh sebagai sebuah bangsa yang berdaulat.
Cerminan tata kelola kebangsaan salah satu indikatornya adalah pelestarian nilai-nilai budaya dan nilai-nilai adat istiadat yang bisa dikelola dengan baik dan benar. Wujud penegakan dua belas nilai-nilai Pancasila juga dapat terlihat lewat pelestarian budaya serta adat istiadat tersebut. Posisi negara dan bangsa akan tampak jelas nantinya, yaitu bangsa Indonesia sebagai pemilik dan negara sebagai pelaksana amanat rakyat Indonesia.
Dalam hukum penciptaan berlaku bahwa antara pencipta dan yang diciptakan terjalin kerja sama yang baik dengan pihak yang diciptakan tunduk dan bertanggungjawab penuh terhadap penciptanya. Namun sekarang yang terjadi adalah, mereka yang diciptakan oleh bangsa Indonesia untuk berkuasa akhirnya kerap menyelewengkan kekuasaan itu bahkan tidak bisa mempertanggungjawabkan penyelewengan tersebut terhadap penciptanya. Bahkan jika sudah memegang kekuasaan, maka mereka akan berbuat sesuka hati diluar batas dan koridor yang seharusnya tetap dijaga batasannya.
Bangsa Indonesia menjadi jauh dari kata mandiri. Bahkan banyak kebijakan-kebijakan para penguasa yang secara tidak langsung membuat bangsa ini terus terpuruk dalam cengkeraman balas budi kepada bangsa lain suatu saat nanti. Inilah harga yang harus dibayar akibat ketidakjelasan tata kelola negara dan tata kelola kebangsaan yang tidak berpihak kepada pribumi.
Oleh karena itu, sudah saatnya bangsa Indonesia khususnya generasi muda untuk tersadar dan bangkit dengan ide-ide cemerlang untuk kembali menegakkan kedaulatan bangsa ini, meluruskan jalan bangsa ini untuk menuju pada kemandirian. Cara satu-satunya adalah menjadikan perbedaan suku, agama, dan beragam perbedaan lainnya sebagai sebuah kekuatan besar untuk bersatu seperti yang diajarkan dalam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Cermati lalu tolak semua bentuk adu domba, buang semua rasa iri, sirik, dengki, dendam, serta hal-hal lain yang bisa memunculkan kedegilan perilaku dalam berbangsa dan bernegara. Semua harus dimulai dari dalam diri sendiri dengan generasi muda sebagai pelopornya. Generasi muda dari mana? tentunya generasi muda Indonesia yang berasal dari suku berbeda, agama berbeda, etnis berbeda, serta kepentingan berbeda, namun bisa menyatukan semua itu untuk menjadi kekuatan besar yang mendorong perbaikan untuk sebuah perubahan kedepannya.
Mulailah semua dengan mengamalkan dua belas nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila, maka semua akan terbuka bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar, dan menjadi besar karena perbedaan yang ada bisa dipersatukan menjadi sebuah kekuatan dari bangsa itu sendiri.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Rayvna Lesilolo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...