BERITA FOTO — Isu keberlanjutan lingkungan masih menjadi isu stretegis dalam pembangunan di segala bidang di masyarakat meski belum banyak pihak yang memanfaatkan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari hari. Jenis penerapan produksi berkelanjutan tersebut masih terus dilakukan oleh sebagian masyarakat terutama yang peduli terhadap penyediaan tanaman untuk digunakan sebagai bibit seperti yang dilakukan oleh Ngatman, petugas di lokasi persemaian permanen milik Badan Pengelolaan daerah Aliran Sungai Way Seputih Sekampung (BPDAS-WSS) yang terletak di kawasan register I Way Pisang Lampung. Keberlanjutan lingkungan yang dilakukan oleh Ngatman dan petugas lain di tempat tersebut diantaranya dalam skala besar dengan menyediakan jutaan bibit tanaman kayu, tanaman perkebunan, tanaman buah dan tanaman reboisasi.
Keberlanjutan lingkungan yang diemban oleh persemaian permanen diantaranya menopang penyediaan bibit yang bisa digunakan masyarakat secara cuma cuma sehingga persoalan lingkungan bisa terbantu dengan penyediaan bibit. Penggunaan sistem persemaian permanen diantaranya menggunakan pola media semai cetak (MSC) yang bisa dipergunakan secara berulang ulang berbeda dengan pola penggunaan plastik polybag yang menyisakan sampah plastik. Selain itu penggunaan media cetak yang bisa digunakan kembali menjadi upaya penerapan penggunaan media berkelanjutan tanpa menyisakan sampah atau residu yang tak berguna. Selain itu pemanfaatan sisa sisa sampah plastik kemasan diantaranya botol air mineral juga digunakan sebagai media semai yang menghasilkan ribuan bibit dari sisa sisa barang bekas pakai.
Perkembangan lanjutan dari upaya menerapkan lingkungan keberlanjutan dilakukan oleh persemaian permanen dengan pemanfaatan sisa hasil pertanian. Sisa hasil pertanian dan perkebunan yang dimanfaatkan diantaranya sabut kelapa yang sudah berbentuk butiran halus atau dikenal dengan cocopeat. Selain itu jerami sisa hasil penggilingan padi menjadi media yang bisa dimanfaatkan meski di masyarakat residu hasil pertanian tersebut hanya dibakar atau dibuang. Pemanfaatan terbaru dalam upaya memanfaatkan barang sisa pakai diantaranya pemanfaatan kotoran (feses) hewan yang dilindungi dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur yakni Gajah.
Feses atau kotoran gajah tersebut menjadi sebuah barang bermanfaat untuk digunakan sebagai media semai cetak untuk menghasilkan jutaan bibit. Kotoran gajah yang telah diperlakukan sedemikian rupa dengan berbagai campuran residu hasil pertanian diantaranya sekam, cocopeat menjadi bahan media pembibitan yang sangat subur di samping pemanfaatan limbah kotoran yang sudah terbuang di alam tersebut. Hasilnya tak tanggung tanggung, pemanfaatan berbagai residu hasil pertanian, limbah dan sisa barang bekas yang bisa dipergunakan lagi tersebut menghasilkan jutaan bibit. tercatat sepanjang tahun 2015-2016 diantaranya lokasi pembibitan permanen di kawasan register 1 Way Pisang tersebut mampu menghasilkan sebanyak 2.400.000 batang bibit dengan perincian 1.769.750 batang tanaman kayu dan 630.250 juta lebih bibit tanaman buah.
Permintaan secara cuma cuma dari masyarakat, instansi pemerintah, instasi swasta dalam penyediaan bibit tersebut membuktikan pemanfaatan residu hasil pertanian dan pemanfaatan bahan bekas lain menjadi cara pemanfaatan yang menerapkan isu lingkungan berkelanjutan. Berbagai wilayah di Provinsi Lampung bahkan telah memanfaatkan dan mengaplikasikan bibit yang diperoleh dari persemaian permanen yang menyediakan jutaan bibit meski sebagian disemai dalam media barang bekas dan pemanfaatan residu hasil pertanian. Penerapan konsep lingkungan berkelanjutan yang bisa menjadi contoh bagi pemerhati lingkungan dimanapun. Proses pemanfaatan sisa sisa kotoran gajah dan bahan bahan lain untik media persemaian tersebut terekam dalam lensa Cendana News berikut: