JUM’AT, 28 OKTOBER 2016
SOLO — Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, yang berada di lereng gunung Lawu, memiliki lahan pertanian yang subur. Berbagai potensi Agrowisata terus dikembangkan, termasuk mendorong terbentuknya kampung wisata coklat.

Dusun Deres, Desa Kadipiro, Kecamatan Jumapolo, yang didaulat menjadi lokasi untuk pengembangan kampung wisata coklat. Dengan memiliki perkebunan coklat yang cukup luas, kampung ini tengah dikembangkan menjadi salah satu Agrowisata yang ada di Bumi Intan Pari tersebut. “Saat ini yang masih menjadi kendala adalah pemasaran hasil panen masih konvensional, yakni ditampung oleh tengkulak,” ucap Ngadiman, salah satu petani kepada awak media, disela-sela peluncuran Rumah Pintar Petani Kakao, di Desa Kadipiro, pada Jumat (28/10/16).
Dijelaskan Ngadiman, selama ini penjualan hasil panen buah coklet masih berupa biji yang dikeringkan. Melalui sistem ini, harga biji kering petani coklat dijual kepada pengepul dengan harga Rp 25 ribu per kilogram. “Sebenarnya kalau hasil panen sudah melalui teknologi hasil yang diperoleh petani jauh lebih besar jika dibanding dengan dijual kepada pengepul. Sistem pemasaran dan sentuhan teknologi yang belum kita punyai,” ungkap Ketua Kelompok Tani Ngudi Barokah tersebut.
Sejauh ini pengelolaan buah coklat hasil panen petani masih menggunakan cara tradisional. Yakni dengan menjemur buah coklat selam 3-5 hari dan setelah kering baru diambil bijinya. Selanjutnya biji yang telah didapatkan kembali dijemur sehingga rawan akan kotor. Adanya metode fragmentasi dimungkinkan dapat mengurangi rasa pahit yang ada pada coklat. “Dengan dilakukan fragmentasi jelas lebih efisien, sehingga panen lebih maksimal,” terangnya.

Sementara itu, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Karanganyar memberikan pendampingan lebih intens, guna mengoptimalkan potensi yang ada di Desa Kadipiro. Di samping memberikan bantuan 3.500 bibit tanaman cokelat, dinas juga memberikan pendampingan penggunaan teknologi pascapanen serta menyiapkan sarana untuk penyaluran distribusi hasil panen.
“Melalui Rumah Pintar Petani Kakao kami sediakan sarana edukasi, seperti peralatan pengupas, pemecah biji dan penggiling. Kita juga tengah mengupayakan untuk alat fermentasinya. Agar Rumah Pintar menjadi media berkonsultasi petani cokelat,” imbuh Kepala Dispertanbunhut Karanganyar, Supramnaryo.
Menurut Supramnaryo, Desa Kadipiro merupakan satu-satunya daerah penghasil cokelat di Jawa Tengah yang dapat panen secara berkesinambungan. Di Desa ini terdapat 60 KK dari tujuh kelompok tani yang membudidaya tanaman cokelat. “Kalau ini berhasil, akan kita perluasa daerah cakupan penghasil coklat. Ini bisa dijadikan kampung wisata kuliner coklat,” pungkasnya.
Jurnalis : Harun Alrosid / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Harun Alrosid