Buya Syafi’i Ma’arif: Agama Untuk Meyatukan Umat

SABTU, 29 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA — Perihal dugaan penistaan agama yang dilayangkan sejumlah ormas Islam di berbagai daerah terhadap Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, memicu terjadinya unjukrasa di banyak daerah di Indonesia. Tak kecuali di Yogyakarta. Namun, tokoh besar Muhammadiyah, Buya Syafi’i Ma’arif, mengatakan, apa yang dialami Ahok itu sebenarnya adalah sebuah kecelakaan.
Bola panas tuduhan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok terus menggelinding menjadi api yang menyulut aksi unjuk rasa di berbagai daerah di Indonesia, menuntut segera diadilinya Ahok atas dugaan penistaan agama tersebut.
Namun demikian, bangsawan ulama kharismatik dan tokoh besar Muhammadiyah di Yogyakarta, Buya Syafi’i Ma’arif, saat ditemui di kediamannya, Jumat (28/10/2016), mengatakan, apa yang terjadi terkait dugaan penistaan agama oleh Ahok dalam sebuah pernyataannya ketika mengutip Ayat 51 Surat Al Maidah itu sebenarnya tidak perlu terjadi.
Buya beranggapan, sebenarnya tidak ada maksud dari Ahok untuk menistakan agama. Namun, tuduhan penistaan telah sedemikian keras diarahkan kepada Ahok, sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan para ulama juga telah berhimpitan dengan politik, sehingga menjadi situasi semakin rumit.
“Kalau tidak ada kejadian itu, Pilkada Jakarta pasti tidak akan seseram ini”, katanya. 
Sebagai acuan moral, lanjut Buya, boleh saja agama digunakan dalam kampanye. Misalnya, pemimpin yang jujur dan bertanggung-jawab itu adalah tuntutan agama. Namun, tegas Buya, jika agama diperkosa sedemikian rupa untuk kepentingan politik sesaat itu sama sekali tidak benar.
“Soal mengutip ayat atau agama untuk kepentingan tertentu itu sangat tergantung niatnya. Namun yang pasti, agama itu bukan untuk memecah-belah, melainkan untuk mempersatukan. Menggunakan agama untuk memecah-belah umat itu sama saja mengkhianati agama”, tandasnya.
Buya pun mengingatkan, kelemahan dan penyakit dari para politikus di Indonesia adalah tidak mau naik kelas menjadi negarawan. Sebagian besar politisi, kata Buya, hingga saat ini masih tetap menjadi politisi yang yang hanya berpikiran pragmatis untuk kepentingan jangka pendek seperti Pilkada. Sementara, kepentingan bangsa yang merupakan kepentingan jangka panjang dan menjadi tugas negarawan tidak pernah dipikirkan.


Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Lihat juga...