CATATAN KHUSUS—Silahkan kalian membuka seluruh saluran media sosial (Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, Whatssapp dan sebagainya), lalu mengetik kata kunci Demontrasi Anti Ahok. Pastinya, jutaan status berupa foto, video, dan tulisan akan menyajikan rentetan aksi demonstrasi anti Ahok di puluhan Kota dan Kabupaten (baik besar maupun kecil) seluruh Indonesia.
![]() |
| Sumber foto : Eko Sulestyono |
Sementara, di media massa mainstream, kisah demonstrasi Ahok yang diduga telah menistakan agama, sama sekali tidak menjadi porsi utama. Barangkali, bagi media massa legendaris sekelas Tempo atau Kompas, demonstrasi Anti Ahok tidak lebih penting dari berita pakaian seronok yang dikenakan Dewi Persik saat naik panggung di Sambas, Kalimantan. Media massa mainstream, mendadak bisu menanggapi demonstrasi Anti Ahok.
Bukan tidak mungkin, jika hal semacam ini terus terjadi, maka tidak akan ada lagi yang percaya dengan media massa besar. Para kios koran akan bangkrut karena tak ada yang membeli korannya. Ibu rumah tangga akan lebih percaya kepada facebook di Android-nya daripada menonton berita televisi.
Keterangan yang disampaikan oleh Ari Dono tersebut, tidak membuat berbagai elemen masyarakat yang mengecam ucapan Ahok, tinggal diam. Justru, berbagai rencana aksi Demonstrasi hari Jumat tanggal 28 Oktober 2016 akan dilangsungkan di berbagai kota besar (utamanya di kota pelajar Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai barometer gerakan nasional), dan akan disusul oleh demonstrasi Nasional di DKI Jakarta yang akan dilangsungkan tanggal 4 November 2016.
Yang paling mengkhawatirkan dari situasi ini, masyarakat akan semakin tidak percaya dengan penegakan hukum di Indonesia. Sungguh mengerikan jika masyarakat tidak percaya lagi dengan Kepolisian Republik Indonesia sebagai pengemban amanat rakyat untuk melakukan penegakan hukum dan pengabdian penuh kepada masyarakat.
Kita sangat takut, masyarakat menggunakan hukum agamanya masing-masing. Bahkan, masyarakat bisa saja melakukan tindakan sesukanya seperti hukum rimba raya.
Jusuf Kalla mengecam, Ahok tidak boleh mengatakan, minoritas itu tidak dipilih. Bagi Jusuf Kalla, kalimat Ahok ini sangat berbahaya. Bagi JK, toleransi itu bukan hanya diperuntukan bagi mayoritas saja, namun juga pihak minoritas. Jangan hanya menuntut mayoritas menghormati minoritas, minoritas juga harus menghormati mayoritas.
Namun, tanpa dinyana, seorang pemuda dari kota Surabaya, bernama Hasyim Yahya, pemuda berusia 37 tahun, nekad menuju Jakarta, pada suatu hari di bulan Juli 1974. Berbekal tekad bulat dan keberanian serta kecerdikan, Hasyim mendatangi rumah pengurus DGD.
Bagaimanapun, seluruh rakyat Indonesia tak menginginkan, Ahok yang dikecam tak mengalami nasib seperti Eric Constable yang ditikam. Semua rakyat Indonesia ingin, persaudaraan antar umat beragama terjalin erat dalam bingkai Pancasila.
