Tiro Kemie Permainan Tradisional Anak-Anak Flores Timur yang Hampir Punah

SENIN, 18 JULI 2016

LARANTUKA — Sore itu langit cerah, Minggu (17/7/2016). Satu per satu anak-anak usia SD dan SMP mendatangi tanah lapang di ujung kampung desa Lewokluok kecamatan Demon Pagong. Kemiri (Kemie) tak lupa dibawa serta.

Kemiri pun disusun di tanah berjejer memanjang dua baris sebuah bambu bulat diletakan di tengah. Anak-anak berkumpul melakukan Hompimpa. Hompimpa adalah sebuah cara untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dengan menggunakan telapak tangan yang dilakukan oleh minimal tiga peserta. 
Secara bersama-sama, peserta mengucapkan kata hom-pim-pa. Ketika mengucapkan suku kata terakhir (pa), masing-masing peserta memperlihatkan salah satu telapak tangan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke bawah atau ke atas. 
Pemenang adalah peserta yang memperlihatkan telapak tangan yang berbeda dari para peserta lainnya. Ketika peserta lainnya sudah menang, peserta yang kalah ditentukan oleh dua peserta yang tersisa dengan melakukan suten (suit).
Tiro Kemie menurut Mariatmo Lein merupakan permainan anak-anak yang dahulu sering dimainkan.Desa Lewokluok merupakan daerah penghasil kemiri dan biasanya permainan ini dimainkan di desa-desa yang memiliki pohon kemiri.
Usai hom-pim-pa dan didapat peserta yang harus bermain pertama dan seterusnya,permainan Tiro Kemie pun dilanjutkan.Pemain berdiri berjejer sejauh ± 4 meter berhadapan dengan kemiri dan bambu.Satu per satu pemain mulai melempar bambu.
“Jika bambu yang dilempar tidak jatuh maka permainan dilanjutkan dengan melempar kembali dari sisi sebelahnya. Urutan pelempar dimulai dari peserta yang kemirinya berada paling jauh,” terangnya.
Namun jika kemiri yang dilempar beber Mariatmo mengenai salah satu kemiri yang disusun maka pelempar berhak mengambil kemiri yang terkena lemparan dan semua kemiri yang disusun di bawahnya.
Permainan terus dilanjutkan hingga semua susunan kemiri habis. Biasanya pemenang sebut Maritmo ditentukan dari peserta yang paling banyak memperoleh kemiri yang disusun dalam permainan ini. Permainan Tiro Kemie bukan saja diikuti oleh anak laki-laki namun perempuan pun boleh memainkannya. Pesertanya pun terang Mariatmo tidak dibatasi dan tergantung kesepakatan.
“Semakin banyak peserta yang terlibat tentu permainannya lebih meriah. Meski jarang dimainkan namun di desa Lewokluok permainan ini masih bisa ditemui,” ungkapnya.
Di tengah gempuran teknologi modern dan aneka permainan tradisional yang mulai hilang, Tiro Kemie bisa menjadi salah satu alternatif permainan yang menghibur anak-anak desa.
Mariatmo berharap agar pemerintah bisa menggali dan memperkenalkan aneka permainan tradisional dengan mengajarkannya di sekolah dasar. Dengan demikian permainan tradisional tetap ada meski ada sedikit perubahan disesuaikan dengan tuntutan jaman.(Ebed de Rosary)
Lihat juga...