SENIN, 18 JULI 2016
MAUMERE — Pemerintah kabupaten Sikka dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam hal ini dinilai lemah dan tidak memiliki kemampuan mengembangkan sektor pariwisata yang menjadi satu dari tiga sektor unggulan paket Ansar yang sedang memimpin.
![]() |
| Jonas Jansen, pegiat pariwisata di Batam yang merupakan putra asli kabupaten Sikka. |
Paket Ansar lewat bupatinya Drs. Yoseph Ansar Rera dan wakil bupati Drs. Paolus Nong Susar dinilai hanya menghamburkan uang saja dan tidak fokus dengan tiga program unggulannya meski jabatan keduanya akan berakhir tahun 2018.
“Pemda Sikka tidak mempunyai sistem yang baik dan benar serta berkesinambungan dalam mengelola pariwisata dan terindikasi hanya melakukan pesta pora dengan uang rakyat sementara rakyat Sikka masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan,” tegas Jonas Jensen kepada Cendana News, Senin (18/7/2016).
| Festival Pantai Koka yang diselenggarakan dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sikka. |
Jensen seorang pelaku wisata di Batam yang juga merupakan putra asli Sikka ini lewat press releasenya menyoroti beberapa persoalan yang sedang diberitakan media terkait pariwisata di Sikka.
Dicontohkan pengusaha pariwisata ini, usai Festival Pantai Koka, destinasi wisata ini tidak diurus. Hal ini sebutnya terbukti dengan tidak adanya lahan parkir yang baik serta WC dan kamar mandi yang dibangun di tempat ini.
![]() |
| Festival Tenun Ikat yang memecahkan rekor Muri. |
Hal ini kata Jensen, membuktikan bahwa pemda Sikka (dinas terkait) tidak punya kreasi dan membangun destinasi pariwisata yang baik dan benar. Maka dari itu lanjutnya, terindikasi pemda Sikka hanya melakukan pesta sesaat dengan menggunakan uang rakyat yang tidak sedikit nilainya.
“Pemda Sikka hanya pesta pora saja menghamburkan uang rakyat tanpa ada manfaat bagi pariwisata dan masyarakat Sikka,” ungkapnya.
Adapun hal yang sangat meresahkan bagi setiap pengunjung ke pantai Koka adalah adanya pungutan liar. Kejadian ini beber Jensen pernah dialaminya saat membawa rombongan wisatawan berjumlah 40 orang saat berkunjung ke pantai Koka pada tanggal 20 Septemer 2015.
Dirinya juga menyoroti penyelenggaraan Festival Tenun Ikat yang notabene memecahkan rekor Muri dengan penenun ikat terbanyak. Namun setelah itu gaung rekor Muri tersebut hilang ditelan bumi.
“Para penenun tidak merasakan dampaknya. Ini kan akhirnya hanya sekedar kegiatan saja tanpa ada tindak lanjutnya agar para penenun bisa mendapatkan manfaatnya,” pungkasnya.(Ebed de Rosary)
