SENIN, 25 JULI 2016
LAMPUNG — Sebuah bangunan terbuat dari papan dan beratapkan asbes menjadi lokasi belajar bagi puluhan anak-anak yang berada di Desa Giri Mulyo Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur. Dari pusat kota Sribawono menuju desa tersebut memakan waktu sekitar satu jam melewati jalan berbatu dan perkebunan sawit, perkebunan singkong dan kelapa. Meski berada di wilayah pedalaman dan menempati sebuah bangunan sederhana tidak menyurutkan sekitar 40 siswa yang sebagian merupakan siswa tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Gagasan membangun rumah baca bernama “Suluh Harapan Insani” tersebut diungkapkan Lusia Yuli Hastiti (27) selaku penggagas bermula dari keprihatinannya melihat siswa siswa tingkat SD dan SMP belum memiliki lokasi untuk berkumpul dan membaca. Pada saat berdirinya rumah baca pada tahun 2014 ia mencoba mengumpulkan puluhan buku hingga kini memiliki ratusan buku yang digunakan anak anak usia SD dan SMP di desanya saat pulang sekolah.
“Awalnya siswa yang datang ke rumah belajar ini hanya beberapa namun akhirnya mulai bertambah seiring kesadaran anak-anak di sini yang berminat untuk belajar,” terang Lusia Yuli Hastiti saat ditemui media Cendana News, Minggu sore (24/7/2016).
Pilihan nama Suluh menurutnya sebagai simbol bahwa rumah baca yang dibangunnya akan memberi terang bagi anak anak dan harapan bagi para orangtua yang ada di desa yang cukup jauh dari kota tersebut. Puluhan siswa tersebut diantaranya merupakan siswa yang belajar di SD dan SMP yang ada Desa Giri Mulyo mulai dari siswa dari kelas 1 SD sampai jenjang kelas 3 SMP bahkan terkadang ikut serta di dalamnya beberapa siswa TK.

“Jika dikumpulkan semua anak yang belajar di rumah baca ini jumlahnya mencapai 40 siswa namun pada hari tertentu ada siswa yang mengikuti kegiatan esktrakurikuler di sekolah masing masing” terang Lusia.
Proses pembangunan rumah baca berukuran 3 x 5 meter menurut Lusia, merupakan swadaya warga dan dibangun di samping rumah sang orangtua meski hanya beratapkan asbes dan papan beberapa meja dan kursi belajar berikut papan tulis dan sebuah rak buku. Proses pembuatan rumah baca bermula dari ruang tamu yang digunakannya sudah tak mampu menampung semakin banyaknya anak yang belajar bahasa Inggris, membaca serta pelajaran tambahan lain yang diajarkan di sekolah.
Kegiatan belajar di rumah baca miliknya terbilang fleksibel menyesuaikan kegiatan anak-anak usia sekolah di desanya sebab sebagian siswa masih membantu orangtua di kebun dan sawah. Bagi anak yang memiliki waktu di rumah belajar Lusia mulai melakukan kegiatan belajar sejak pukul 16:00 WIB hingga jam 20:00 WIB.

Selain menekuni mengajar di rumah baca Suluh Harapan Insani, gadis yang sempat mengenyam pendidikan di salah satu universitas negeri di Lampung tersebut juga sehari-hari sibuk mengajar di sebuah sekolah swasta tingkat SMP di Kecamatan Marga Sekampung.
Kepedulian akan semangat literasi wanita tersebut bahkan menggerakkan Yayasan Transformasi Bangsa yang berasal dari Jakarta dengan memberikan bantuan puluhan buku buku bacaan dan buku tulis serta makanan ringan. M.Supriyanto dan Hindar yang langsung memberikan bantuan buku bacaan mengaku tergerak dengan semangat Lusia untuk membangun rumah baca.
“Tahap awal kita berikan buku tulis bagi semua anak anak di rumah baca ini dan sekaligus buku bacaan untuk memotivasi mereka agar semangat belajar meski berada di pedalaman” ungkap Hindar.
Sebelum mendapatkan buku-buku bacaan dan buku tulis, seperti program rumah baca sebelumnya selain memberikan pelajaran dan kursus pelajaran Lusia mengaku memberikan tambahan makanan bergizi berupa bubur kacang hijau. Pemberian tambahan nutrisi tersebut dilakukan untuk memberikan tambahan kesehatan bagi anak-anak yang belajar di rumah baca miliknya.
Ia berharap masih bisa menambah buku-buku bacaan berikut rak-rak buku serta ruangan yang lebih besar dengan semakin banyaknya anak-anak yang beminat belajar di rumah baca Suluh Harapan Insani. Meski berada di pedalaman ia berharap pendidikan dan semangat belajar siswa di tingkat SD dan SMP terpacu dengan semakin bertambahnya buku-buku bacaan.(Henk Widi)