BANDUNG — Indonesia terkenal sebagai negara penghasil jenis kayu keras yang berkualitas. Sebut saja kayu mahoni yang kerap disebut mahogany juga sonokeling atau dikenal pula dengan istilah rosewood.
Salah satu warga Kota Bandung, Dadan Hamdani (31) memanfaatkan kedua jenis kayu ini untuk dijadikan barang yang memiliki nilai jual. Lantas produk apa yang ia hasilkan dari kedua jenis kayu ini?
Dadan tahu betul, di negeri ini penikmat rokok cukup banyak, mengingat Indonesia memang penghasil tembakau kelas dunia. Akhir tahun 2015 lalu ia memiliki ide membuat bungkus rokok dari bahan kayu mahoni dan sonokeling.
“Tapi pada awalnya saya hanya memanfaatkan kayu sisa saja,” ungkap Dadan, kepada Cendana News, Minggu (24/7/2016).
Lulusan Fakultas Seni Musik Universitas Pasundan (Unpas) ini memang memiliki bengkel pembuatan alat musik ukulele, di Jalan Tamansari, Kota Bandung. Tak ingin bahan sisa menjadi sampah, ia memikirkan cara bagaimana agar tidak terbuang.
“Soalnya kalau ukulele kan ukurannya lebih kecil dari gitar pada umumnya jadi otomatis menyisakan bahan. Jadi saya manfaatkan dipotong-potong awalnya jadi asbak dulu,” ungkap lulusan Fakultas Seni Musik Universitas Pasundan (Unpas) ini.
Jangan kira bungkus rokok buatannya yang diberi merek Wokkay_id tersebut hanya seperti kotak kayu biasa. Agar lebih memiliki nilai seni, bungkus rokok tersebut dilukis menggunakan laser engrave.
“Grafisnya sesuai pesanan pembeli pengennya seperti apa. Rata-rata ada yang pengen gambar pahlawan, foto orang, logo dan macam-macam,” ucapnya.
Saat hendak dikomersilkan, Dadan merasa perlu melakulan riset terlebih dahulu agar produknya tidak memalukan. Ia tak ingin mendapat keluhan dari konsumen, karena itu dari mulai ketahanan, dan penampilan pun harus oke.
Tak hanya itu, Dadan juga memperhatikan betul apakah produknya akan merubah kenikmatan rokok atau tidak.
“Awalnya saya coba simpan rokok di dalam produk saya ini, tapi baru satu jam rasanya sudah berubah. Diperbaiki lagi apa yang dirasa kurang, saya beli semua jenis rokok yang ramai dipasaran, dicoba lagi risetnya dan hasilnya ya seperti sekarang ini,” bebernya.
Sejauh ini Dadan hanya mengandalkan marketing digital, menjual lewat jejaring sosial Instagram di @wokkay_id. Tak hanya di Kota Bandung, ia mengaku ada pula yang membeli dari Bali, Kalimantan dan Pekanbaru.
“Ada teman saya juga dari Medan membawa bungkus rokok wokkay ini ke Eropa,” ucapnya.
Ia membanderol setiap produknya Rp. 120-150 ribu, tergantung desain grafir yang diinginkan oleh pembeli. Sedangkan dalam satu hari, Dadan hanya bisa memproduksi empat bungkus rokok.
“Kalau ada yang bantu, bisa sampai 10 produk satu hari. Karena kan bahannya itu dari ketebalan 3 sentimenter, harus dibuat tipis sampai 0,8 (cm),” tukasnya. (Rianto Nudiansyah)