Padepokan Pencak Silat Indonesia : Konsep Sentralisasi Seni Bela Diri Indonesia dari Ibu Tien Soeharto
SENIN, 18 JULI 2016
JAKARTA, TMII — Berawal pada tahun 1993, Ketua umum Yayasan Harapan Kita, Almarhumah Ibu Hajjah Siti Fatimah Suhartinah Soeharto yang akrab disapa Ibu Tien Soeharto, menganugerahkan tanah seluas 53.656 meter persegi untuk dibangunnya sebuah tempat bernama Padepokan Pencak Silat Indonesia.

Berada tepat di Jalan Raya Taman Mini Indonesia Indah Jakarta timur, Padepokan Pencak Silat Indonesia yang berada satu kawasan dengan area wisata budaya Taman Mini Indonesia Indah merupakan wadah utama sentralisasi pelestarian, pengembangan, serta memasyarakatkan Pencak silat sebagai salah satu unsur budaya Bangsa Indonesia.
Dana pembangunan padepokan digalang oleh Bpk. Bambang Trihatmodjo dari Bimantara Group beserta berbagai unsur atau elemen pencinta Pencak silat dari seluruh Indonesia. Desain bangunan dirancang oleh PT ASPAC Consultindo dengan memadukan seluruh unsur budaya nusantara, untuk kemudian diterjemahkan dalam bentuk pembangunannya oleh PT.Duta Graha Indah.
Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 27 November 1994 oleh Menteri Negara Urusan Pemuda dan Olahraga Hayono Isman, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro, Menteri Perumahan Rakyat Akbar Tanjung, Gubernur DKI Jakarta Soerjadi Soedirdja, beserta Ketua Umum KONI Pusat berikut jajarannya, Ketua Harian Yayasan Harapan Kita, dan Dewan Pertimbangan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI).
Padepokan Pencak Silat Indonesia TMII diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia ke-2 yaitu HM.Soeharto pada tanggal 20 April 1997. Selain sebagai wadah pelestarian, pengembangan, dan memasyarakatkan Seni Beladiri Pencak silat, Padepokan Pencak Silat Indonesia juga memiliki fungsi sebagai pemusatan latihan dan sentra informasi serta seluruh kegiatan Pencak silat baik di Indonesia maupun warga Pencak silat dunia. Oleh sebab itu, tidak heran jika padepokan dibangun berskala Internasional dengan mengambil format suasana tenang, sejuk penuh pepohonan hijau agar pemusatan latihan atlit Pencak silat maupun masyarakat yang ingin menggali informasi mengenai Pencak silat itu sendiri dapat terjaga dengan baik.
Pendopo utama merupakan kawah candradimuka pembentukan sekaligus pematangan teknis pesilat dengan program latihan yang di pantau langsung oleh pengurus masing-masing perguruan serta pengurus wilayah dibawah naungan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI).
Pondok Gedeh, adalah Gelanggang unjuk gigi pesilat dalam menuai prestasi. Fasilitas ini dilengkapi dengan tribun 3.000 tempat duduk permanen, dua set kursi panggung VIP, toilet, serta sistem pengolahan suara dalam ruangan berikut lampu penerangan dimana semua disesuaikan dengan standar Internasional. Sebagai suntikan moral untuk para atlet, maka di depan Pondok Gedeh diletakkan sebuah Monumen persembahan warga Pencak silat se-dunia mengenang Ibu Tien Soeharto bahwa betapa bimbingan dan sumbangsih beliau mampu memberikan inspirasi bagi Indonesia dalam mengembangkan Pencak silat.

Pondok Pustaka yang berada tepat di sisi kanan pintu masuk utama padepokan adalah Perpustakaan dan Museum yang menyimpan sejarah perkembangan Pencak silat di Indonesia sampai ke seluruh dunia, dan berbagai senjata khas Pencak silat. Beragam buku tentang Pencak silat serta koleksi buku-buku umum dapat pula ditemui disini.
Untuk keperluan terkait acara-acara bersifat seremonial, diskusi organisasi, maupun acara tertentu lainnya maka Padepokan Pencak Silat Indonesia TMII dilengkapi pula dengan Pondok Serbaguna. Ruangan seluas 784 meter persegi berkapasitas maksimal 1500 orang ini dilengkapi sistem pendingin ruangan, dua kamar rias, dua toilet, dua meja penerima tamu, karpet merah selamat datang, kursi tamu elegan, dapur higienis, serta penataan suara dan pencahayaan berstandar Internasional.
Jika acara yang diadakan berdurasi lebih dari satu hari, maka pengunjung atau tamu dapat menginap di fasilitas Pondok Penginapan milik padepokan. Pondok Penginapan berlantai empat ini memiliki daya tampung 564 orang, ditambah ruang kebugaran dan dua ruang pertemuan kecil berkapasitas 20 sampai 70 orang. Selain itu, bagian fasilitas ini turut dilengkapi pula dengan Restoran yang melayani menu rombongan maupun perorangan.
Pengelolaan kegiatan sehari-hari Padepokan Pencak Silat Indonesia dipimpin seorang Kepala Personalia dan Pengawasan Padepokan, Drs. H. Mansur Sholeh, Kepala Unit Penginapan JF. Erwin Sumarsono, Supervisor Front Office, Ibu Berliana, dan Kordinator Perpustakaan dan Museum Pencak Silat Indonesia, Adi Ariyono,SE. Total seluruh karyawan yang menjalankan padepokan hingga saat ini berjumlah 115 orang. Kepala Personalia dan Pengawasan Padepokan, Mansur Sholeh mengatakan rata-rata semua karyawan yang bekerja di dalam padepokan adalah karyawan yang sudah ada sejak awal Ibu Tien Soeharto merintis pendiriannya di tahun 1996. Kesejahteraan karyawan setiap bulannya merupakan tanggungan internal manajemen tanpa menggunakan sistim outsourcing yang dianggap merugikan tenaga kerja.
” Disini kami sudah menjadi sebuah keluarga besar, dimana sejak awal berdirinya tempat ini hingga sekarang tetap terjaga dengan baik. Bahkan ada karyawan yang sudah sejak tahun 1996 masih berkerja di sini. Bahkan sejak awalpun kami banyak menyerap warga lokal sekitar padepokan untuk bekerja di sini,” jelas Mansur kepada Cendana News di ruang kerjanya.
Perputaran kegiatan sehari-hari dari Padepokan Pencak Silat Indonesia tergantung pada sektor pendayagunaan komersil beberapa fasilitas padepokan bagi masyarakat luas. Contohnya Pondok Serbaguna yang disewakan untuk resepsi pernikahan dan acara-acara diskusi di luar konteks Pencak silat lainnya.
Selain itu, Pondok Penginapan serta Restoran dibuka oleh pengelola padepokan bagi umum sama seperti penginapan atau hotel pada umumnya. Akan tetapi semua tetap ada batasannya, maksudnya adalah, jika berbenturan dengan kegiatan Pencak Silat nasional maka pihak pengelola akan mengutamakan kepentingan warga Pencak silat nasional.
“Selain subsidi Bimantara Group, kehidupan 115 orang karyawan disini juga tergantung atas pemasukan sewa beberapa fasilitas padepokan untuk masyarakat umum. Namun terkait menyewakan fasilitas padepokan untuk umum, semua tetap ada batasannya, yakni disesuaikan dengan agenda acara Pencak silat nasional. Contohnya bulan Mei setiap tahunnya menjelang HUT (IPSI) Ikatan Pencak Silat Indonesia, maka kami sudah mengosongkan jadwal sewa umum untuk seluruh fasilitas padepokan. Bulan Mei setiap tahunnya adalah milik PB IPSI,” lanjut Mansur Sholeh.
” Sejauh ini tidak ada masalah, karena semua sudah pada porsinya masing-masing dan berada dalam koridor yang jelas serta bisa dipertanggungjawabkan,” tambahnya.

Kegiatan Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) Pencak silat DKI Jakarta rutin dilakukan di Padepokan Pencak Silat Indonesia. Kepala Unit Penginapan padepokan, JF Erwin Sumarsono menerangkan bahkan untuk pemusatan latihan tim Pencak silat nasional yang sekarang diadakan di Ciloto Jawa barat, masih menggunakan fasilitas Pondok Penginapan di padepokan.
“Para atlet sebelumnya berkumpul di padepokan, konsolidasi, menaruh barang-barang di penginapan, lalu berangkat ke Ciloto. Terkait tim Pelatda silat DKI Jakarta, mereka biasanya latihan di sini pada pukul empat hingga enam sore setiap harinya,” terang Erwin.
Kendala-kendala kerap dihadapi pihak pengelola padepokan, diantaranya adalah kebutuhan mendesak terkait renovasi seluruh kamar di Pondok Penginapan, renovasi total Museum Pencak Silat Indonesia dan Perpustakaan, serta biaya perawatan area padepokan sekaligus peralatan-peralatan didalamnya yang terus naik setiap bulannya. Akan tetapi jalan keluar atau solusi selalu datang tepat pada waktunya, entah dari order sewa tempat dari masyarakat umum maupun pencairan subsidi dari penyandang dana, sehingga saat ini perbaikan kamar-kamar Pondok Penginapan sudah mulai dilaksanakan.
Terkait renovasi total Museum Pencak silat dan Perpustakaan, Koordinator Museum dan Perpustakaan, Adi Ariyono mengatakan masih menunggu persetujuan dana renovasi yang sudah diajukannya. Renovasi itu sendiri dilakukan karena atap gedung yang sudah bertahun-tahun menjadi sarang hewan kelelawar. Akibatnya, seluruh langit-langit gedung harus dibongkar demi membersihkan atap dari kotoran kelelawar sekaligus mengusir mereka keluar dari tempat tersebut.
” Ini terjadi karena ketidakpekaan pengurus Museum dan Perpustakaan sebelumnya. Bayangkan saja, setelah dibersihkan maka terkumpul sekitar 100 karung kotoran kelelawar yang bercampur dengan bangkai hewan-hewan tersebut. Dana renovasi sudah kami ajukan kepada pengelola, dan kami sangat berharap dapat segera direalisasikan mengingat Museum dan Perpustakaan merupakan bagian integral dari sejarah Pencak silat,” jelas Adi kepada Cendana News.
Harapan pengelola Padepokan Pencak Silat Indonesia TMII kedepannya adalah mereka bisa segera menyelesaikan program-program renovasi padepokan yang sudah dicanangkan. Sehingga pada akhirnya, seluruh warga Pencak silat nusantara sebagai satu kesatuan keluarga besar dapat lebih memanfaatkan fasilitas ini untuk pengembangan Pencak silat Indonesia ke tingkatan yang diinginkan bersama.
[Miechell Koagouw]