Modus Gerakan PKI : Kegagalan Pengkhianatan dan Intimidasi Laskar Penelikung

RABU, 20 JULI 2016

JAKARTA — Bangsa Indonesia benar-benar sudah kenyang dengan aksi-aksi para pengkhianat Bangsa yang coba merebut pemerintahan sekaligus mengganti asas negara Pancasila dengan ideologi lainnya. Salah organisasi politik yang paling banyak melakukan gerakan pengkhianatan adalah Partai Komunis Indonesia atau dikenal dengan sebutan PKI.

Gudang bekas tempat penahanan orang-orang yang akan dibunuh massal oleh PKI di Bukit Tirtomoyo, Wonogiri
Dari mengintimidasi Angkatan bersenjata RI, melakukan teror terhadap rakyat jelata, menghasut rakyat yang masih awam terhadap ideologi Komunis, melakukan tindakan-tindakan anarkis sepihak yang ilegal terhadap pejabat-pejabat pemerintahan, membunuh secara sadis tokoh-tokoh nasional dan putera daerah yang berjasa kepada Bangsa dan Negara RI, sampai menempuh cara laknat menginjak-injak Kitab Suci Al-Qur’an demi menyebarkan rasa takut dikalangan alim ulama dan santri pesantren yang adalah penentang faham Komunisme di Indonesia.
Berikut adalah beberapa peristiwa penting yang berhasil dihimpun Cendana News dari Museum Pusat Sejarah TNI di Monumen Lubang Buaya dan Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya Jakarta timur, dimana dalam rangkuman peristiwa-peristiwa atau tragedi berikut banyak menunjukkan sebagian modus-modus PKI dalam menelikung pemerintahan RI yang sah justru disaat Bangsa dan Negara ini sedang berkonsentrasi mengusir Kolonialis Belanda, Jepang, dan Inggris dari Bumi Indonesia.
Peristiwa Tiga Daerah 
(4 November 1945)
Sesudah Proklamasi kemerdekaan maka kelompok-kelompok Komunis bawah tanah mulai muncul. Mereka melakukan penetrasi kedalam organisasi-organisasi massa dan pemuda seperti API (Angkatan Pemuda Indonesia), dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia). Dengan menggunakan organisasi-organisasi tersebut PKI (Partai Komunis Indonesia) memimpin aksi penggantian para pejabat pemerintah di tiga kabupaten keresidenan Pekalongan yang meliputi Kabupaten Brebes, Tegal, dan Pemalang. Usaha untuk meredam gerakan mereka dilakukan oleh KNI (Komite Nasional Indonesia) daerah Tegal namun gagal. 
Pada tanggal 8 Oktober 1945 AMRI Slawi dibawah pimpinan Sakirman tokoh Komunis bawah tanah, dan AMRI Talang dipimpin oleh Kutil melakukan Teror. Mereka menangkapi pejabat pemerintah dan melakukan pembunuhan mengerikan di jembatan Talang. Tanggal 4 November 1945 pasukan AMRI dan massa yang mereka pengaruhi melancarkan penyerbuan ke Kota Tegal. Mereka menyerang kabupaten dan markas TKR (Tentara Keamanan Rakyat) namun berhasil digagalkan. Setelah gerakan di Tegal gagal, tokoh-tokoh Komunis bawah tanah membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah yang dipimpin oleh K.Mijaya dengan sebuah rencana besar menyerang Keresidenan Pekalongan.

Aksi Teror Gerombolan Ce’Mamat
(9 Desember 1945)
Ce’Mamat tokoh Komunis tahun 1926 yang terpilih sebagai Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) menuduh pemerintah RI di Banten sebagai kelanjutan dari pemerintah kolonial. Rakyat mulai dihasut untuk tidak mempercayai pejabat pemerintah. Pada tanggal 17 Oktober 1945 ia membentuk Dewan Pemerintahan Rakyat Serang dan merebut pemerintahan keresidenan Banten. Selanjutnya ia menyusun pemerintahan model Uni Soviet.
Untuk mengukuhkan kekuasaannya, Ce’Mamat dengan pengikutnya yang disebut Laskar Gulkut melakukan teror, merampok harta benda rakyat, serta menculik dan membunuh pejabat pemerintah. Bupati Lebak R.Hardiwinangun termasuk salah seorang pejabat pemerintah yang menjadi korban. Kesempatan untuk membunuh Bupati ini terbuka ketika Presiden Soekarno beserta Wakil Presiden Moh.Hatta berkunjung ke daerah Banten. Dengan alasan atau dalih dipanggil Presiden, Ce’Mamat menjemput R.Hardiwinangun dari rumahnya di Rangkasbitung. Ternyata ia dibawa ke desa Panggarangan bukannya ke Serang. Pagi hari tanggal 9 Desember 1945, mereka membunuh Bupati Lebak R.Hardiwinangun dengan tembakan di Jembatan sungai Cimancak lalu membuang jenazahnya ke sungai tersebut.
Aksi Kekerasan Pasukan Ubel-Ubel di Sepatan, Tangerang
(12 Desember 1945)

Lokasi Mental Training Para Ulama dan Santri yang dibubarkan PKI di desa Panigoro, kecamatan Kediri
Pada tanggal 18 Oktober 1945, Badan Direktorium Dewan Pusat dibawah Pimpinan Ahmad Khairun dengan didampingi oleh tokoh-tokoh komunis bawah tanah berhasil mengambil alih kekuasaan pemerintah RI di Tangerang dari tangan Bupati Agus Padmanegara. Aparat pemerintahan dari tingkat kabupaten sampai desa dan KNI (Komite Nasional Indonesia) daerah dibubarkan. Bahkan mereka tidak mengakui pemerintah pusat RI di Jakarta.
Sebagai kekuatan pendukung, Dewan membentuk Laskar Hitam atau Laskar Ubel-Ubel karena berpakaian serba hitam dan mengenakan ikat kepala (ubel-ubel). Laskar ini dipergunakan pula oleh Dewan untuk melancarkan aksi teror seperti pembunuhan dan perampokan harta benda penduduk Tangerang dan sekitarnya, antara lain di Sepatan, Mauk, Kronjo, dan Kresek. Pada tanggal 12 Desember 1945 Laskar Hitam dibawah pimpinan Usman melakukan perampokan harta benda penduduk desa Sepatan, Tangerang serta membunuh diberbagai tempat. Di daerah Mauk, mereka berhasil membunuh seorang Tokoh Nasional Otto Iskandar Dinata dengan cara disembelih hidup-hidup.

Peristiwa Revolusi Sosial di Langkat
(9 Maret 1946)
Lahirnya Republik Indonesia belum sepenuhnya diterima oleh Kerajaan-kerajaan yang ada di Sumatera timur. Akibatnya timbul rasa tidak puas pada sebagian rakyat dan menuntut agar sistem Kerajaan dihapuskan. Situasi ini dimanfaatkan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan Pesindo untuk merebut pemerintahan dengan cara kekerasan. Maka pada tanggal 3 Maret 1946, apa yang disebut Revolusi sosial dimulai.
Revolusi tersebut bukan gerakan massa secara spontan tetapi merupakan gerakan yang terencana. Revolusi tidak hanya ditujukan untuk menghapus pemerintahan Monarki atau Kerajaan tetapi juga membunuh raja-raja dan keluarganya serta merampas harta benda kerajaan.
Pada hari pertama aksi teror pembunuhan terjadi di Sunggal, Tanjung Balai, Rantau Prapat, dan Pematang Siantar. Walaupun pada tanggal 5 Maret 1946 kerajaan Langkat secara resmi dibubarkan dan ditempatkan dibawah pemerintah RI di Sumatera timur, namun SUltan Langkat beserta keluarganya tidak luput dari kekerasan PKI dan ormas-ormas pendukungnya. Pada malam hari tanggal 9 Maret 1946 massa PKI dibawah pimpinan tokoh PKI Usman Parinduri dan Marwan, menyerang istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura sehingga malam itu juga istana diduduki oleh massa PKI. Sultan beserta keluarga di tawan dan dibawa ke Batang Sarangan. Namun beberapa orang anggota keluarga Sultan dibunuh ditempat.
Pemogokan Buruh SARBUPRI dan SOBSI di Delanggu
(23 Juni 1948)
Salah satu usaha PKI untuk menjatuhkan wibawa pemerintah RI, adalah mengacaukan perekonomian melalui aksi pemogokan buruh. Pada tanggal 23 Juni 1948, lebih kurang 15.000 orang buruh pabrik goni dan 7 perusahaan perkebunan kapas milik pemerintah di Delanggu, Klaten melancarkan aksi mogok total. Mereka adalah anggota Serikat Buruh Perkebunan Indonesia (SARBUPRI) yaitu organisasi buruh dibawah naungan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), yang adalah organisasi massa bentukan PKI.
Aksi mogok mereka terkait isu pengajuan tuntutan kenaikan upah. Hal ini sulit untuk diterima oleh pemerintah sebab negara sedang mengalami kesulitan ekonomi yang parah. Dalam masa mogok itu, salah seorang pimpinan SOBSI bernama Maruto Darusman berpidato bahwa SOBSI menyetujui aksi itu bahkan menghasut kaum buruh untuk melanjutkan pemogokan sampai tuntutan mereka berhasil. Aksi mogok yang sangat merugikan negara itu berakhir pada tanggal 18 Juli 1948 setelah partai-partai politik pada tanggal 14 Juli 1948 mengeluarkan pernyataan menyetujui Program Nasional.

Pemberontakan PKI di Madiun
(18 September 1948)

Pernyataan Muso di Harian Merdeka tentang Indonesia dan Rusia
Setelah gagal menjatuhkan kabinet Hatta melalui cara parlementer, maka organisasi-organisasi yang berhaluan komunis menghimpun diri dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR). Mereka melakukan aksi-aksi politik dan tindak kekerasan. Aksi-aksi tersebut meningkat saat Musso kembali dari Moskow dan mengambil alih kepemimpinan PKI(Partai Komunis Indonesia). Musso menuduh Soekarno-Hatta menyelewengkan perjuangan Bangsa Indonesia. Ia pun turut mengajukan thesis berjudul : Jalan Baru Untuk Republik Indonesia.
Pada saat pemerintah dan Angkatan Perang memusatkan perhatian untuk melawan kedegilan para Kolonial Belanda, PKI justru menelikung Negara dan Bangsa Indonesia dengan berkhianat. Didahului dengan kampanye-kampanye menyerang politik pemerintah, aksi-aksi teror, mengadu domba kekuatan bersenjata, dan sabotase di bidang ekonomi melalui sayap-sayap organisasi buruh binaan PKI. AKhirnya pada dini hari tanggal 18 September 1948 ditandai dengan 3 (tiga) kali letusan pistol maka PKI mengawali Pemberontakan mereka di Madiun.
Pasukan seragam hitam segera bergerak menguasai obyek-obyek vital di dalam Kota. Sejumlah tokoh militer, pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat serta alim ulama dibunuh secara sadis. Gedung Keresidenan Madiun diduduki dan dari situ Musso dan PKI mengumumkan berdirinya “Soviet Republik Indonesia” serta pembentukan Pemerintahan Front Nasional.
Pembantaian di Dungus
(1 Oktober 1948)
Dengan perkiraan bahwa Madiun tidak mungkin dipertahankan, maka sebelum pasukan TNI memasuki kota Madiun pada tanggal 30 September 1948, tokoh-tokoh PKI dan pasukannya mengundurkan diri ke daerah Kresek, kecamatan Wungu, Kawedanan Dungus, sebelah tenggara Kota Madiun. Rupanya daerah ini sudah persiapkan oleh PKI sebagai basis pertahanan terakhir jika pemberontakan mereka gagal di Madiun. Dalam usaha mereka mengundurkan diri ke daerah Dungus, PKI turut membawa serta seluruh tawanan yang mereka culik di Madiun yaitu beberapa Perwira TNI, Anggota Polisi, Pejabat pemerintahan, Tokoh masyarakat, dan Alim ulama setempat.
Namun setiba mereka di Dungus, sebelum PKI berkonsolidasi, siang hari tanggal 1 Oktober 1948, Kresek sudah diserang oleh Kompi Sampurno yang bergerak maju dari arah Sawahan, lereng timur Gunung Willis. Pada hari itu juga, TNI berhasil menguasai Dungus. Dalam keadaan terdesak ditambah kekecewaan akan kegagalan pemberontakan mereka, PKI melampiaskan amarahnya dengan mengeksekusi hampir seluruh tawanan dengan cara disembelih hidup-hidup maupun ditembak. Hal itu mereka lakukan di sebuah rumah milik penduduk setempat dan beberapa titik sekitar rumah tersebut. Mayat para korban pembunuhan sadis tersebut dikubur massal oleh PKI dalam satu lubang besar yang dangkal serta ada sebagian yang dibuang begitu saja di sungai.
Pembunuhan Massal di Tirtomoyo
(4 Oktober 1948)
Setelah Madiun dikuasai sepenuhnya oleh TNI, tentara PKI terus melanjutkan kekejaman terhadap lawan-lawan yang dianggap sebagai musuh abadi atau lawan politiknya. Dalam pelarian mereka ke Wonogiri, PKI menculik pejabat pamong praja setempat antara lain Bupati, Wedana, Anggota Polisi, dan Alim Ulama sebagai tokoh masyarakat. Para tawanan yang berjumlah 212 orang disekap dan ditawan didalam sebuah ruangan bekas laboratorium dan gudang dinamit di Bukit Tirtomoyo.
Sejak tanggal 4 Oktober 1948, para tawanan dibunuh secara bertahap. Ada yang langsung disembelih hidup-hidup, ditusuk dengan bambu runcing atau bayonet, sampai penyiksaan hingga mati dengan cara menjerat leher tawanan menggunakan kawat. Bahkan ada sebagian tawanan yang dieksekusi dengan cara diikat tangan serta kakinya lalu dilempari batu sampai mati. 
Namun Tuhan tidak ingin PKI terus melanjutkan kebrutalannya, disaat tawanan yang dieksekusi sudah menginjak angka 56 orang, PKI disergap oleh Batalyon Nasuhi dan Kompi S dari Militaire Academy (MA) di sore hari tanggal 14 Oktober 1948. Sergapan pasukan TNI diawali oleh gerakan tiga orang kadet Kompi S Military Academy yang melumpuhkan para penjaga tahanan. Sergapan ini membuat pasukan TNI terkejut dan panik ketakutan lalu melarikan diri. 
Peristiwa Tanjung Morawa
(16 Maret 1953)
Pada tahun 1953 pemerintah RI Keresidenan Sumatera timur berencana untuk mencetak sawah percontohan di bekas areal perkebunan tembakau di desa Perdamaian, Tanjung Morawa. Akan tetapi areal perkebunan itu sudah ditempati oleh para penggarap liar. Diantara para penggarap liar tersebut banyak terdapat imigran-imigran gelap asal Tiongkok. 
Usaha pemerintah memindahkan para penggarap liar dengan kompensasi ganti rugi serta penyediaan lahan pengganti dihalang-halangi oleh BTI (Barisan Tani Indonesia) yang adalah organisasi massa PKI. Setelah gagal bermusyawarah akibat hasutan BTI kepada para penggarap serta imigran-imighran gelap Tiongkok tersebut, maka pemerintah mengambil langkah tegas dengan cara mentraktor areal tersebut dalam kawalan sepasukan Polisi.
BTI langsung bereaksi dengan mengumpulkan massa yang sudah mereka hasut dari berbagai tempat disekitar Tanjung Morawa. Mereka melawan petugas dengan brutal. Tembakan peringatan Polisi ke udara tidak diindahkan, bahkan massa BTI bersama penggarap liar lainnya termasuk imigran-imigran asal Tiongkok tersebut berusaha merebut senjata Polisi. Dalam suasana kacau, banyak jatuh korban meninggal dan luka-luka.
Peristiwa Kanigoro
(13 Januari 1965)
PKI terus melakukan intimidasi terhadap partai-partai politik dan organisasi-organisasi massa Islam, akan tetapi selalu saja PKI gagal melumpuhkan pengikut-pengikut organisasi massa dan partai-partai politik tersebut. Cara para pengikut partai dan organisasi Islam untuk mengantisipasi pengaruh Komunisme dari PKI adalah dengan selalu memperkuat Keislaman serta ketaqwaan para anggotanya.
Usaha penguatan keagamaan dan ketaqwaan diantaranya dilakukan oleh PII (Pelajar Islam Indonesia) di Jawa timur, Desa Kanigoro, Kediri. Mereka mengadakan pelatihan mental di bulan Januari 1965. Ketika pelatihan sedang berlangsung, dini hari tanggal 13 Januari 1965 Kompleks Pesantren tempat diadakannya pelatihan diserang oleh dua organisasi binaan PKI yaitu BTI (Barisan Tani Indonesia) dan PR (Pemuda Rakyat).
Massa Komunis melakukan penganiayaan terhadap para ulama dan santri yang sedang mengikuti acara tersebut. Tidak sampai disitu saja, massa PKI yaitu BTI dan PR menginjak-injak Kitab Suci Al-Qur’an sambil meneriakkan umpatan-umpatan mendiskreditkan Agama Islam. Para santri dan ulama disiksa dalam tingkatan diluar batas-batas peri kemanusiaan oleh saudara sebangsanya sendiri yang sudah terpengaruh ajaran sesat PKI yaitu Komunisme.
Massa PKI semakin brutal dengan menawan Pria, anak-anak, hingga wanita yang mengikuti acara tersebut dengan tujuan akan dilakukan eksekusi mati pada saat yang tepat. Namun sebelum semuanya terjadi, Tuhan membalikkan keadaan dengan mengirim Camat Keras beserta orang-orangnya untuk meredam kebrutalan PKI sekaligus membebaskan para tawanan hari itu juga. Namun syarat yang harus dipenuhi masyarakat adalah menghentikan kegiatan kegiatan pelatihan di pesantren tersebut, dan syarat itu dipenuhi, kegiatan pelatihan mental keagamaan dihentikan.
Penyerbuan Kantor Gubernur Jawa timur
(27 September 1965)
Usaha PKI menunjukkan kekuatan tidak hanya dengan cara intimidasi, akan tetapi juga mendiskreditkan aparatur pemerintahan. Salah satunya adalah mendiskreditkan Gubernur Jawa timur yang kala itu dijabat oleh Moch.Wijono. Dengan dalih menyampaikan resolusi tuntutan penurunan harga sembilan bahan pokok, pada tanggal 27 September 1965, delegasi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang mengatasnamakan Gabungan Organisasi Wanita Surabaya, mendatangi kantor Gubernur Jawa timur.
Namun sesuai skenario PKI, sebelum delegasi itu tiba, Comite Daerah Besar (CDB) PKI Jawa timur telah mengerahkan ribuan massa PKI ke Gubernuran.  Mereka terdiri dari anggota PR (Pemuda Rakyat), Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), dan organisasi PKI lainnya. Di kantor Gubernur mereka bertindak anarkis dengan merusak semua peralatan kantor dan berusaha untuk menangkap Gubernur Jawa timur. Hal ini bisa terjadi karena sebagian besar personil ABRI di Surabaya sedang mengadakan latihan tempur di luar kota. 
Namun apa mau dikata, sebelum mereka berhasil menangkap Gubernur, sudah datang satu kompi Pasukan pasukan bantuan TNI lengkap dengan dua kendaraan lapis baja. Massa PKI lari tunggang langgang dan usaha mereka untuk membunuh Gubernur Jawa timur Moch.Wijono tidak terjadi seperti saat mereka membunuh secara sadis Gubernur Jawa timur pertama R.M.T. Ario Soerjo yang adalah Pencetus Semangat Arek-arek Suroboyo melawan ultimatum pasukan Inggris dalam Peristiwa Heroik tanggal 10 November 1945 di Surabaya (10 November akhirnya diabadikan sebagai Hari Pahlawan oleh Pemerintah RI).
Peristiwa G30S/PKI (Gerakan 30 September/PKI)
(30 September 1965)
PKI melancarkan serangan pengkhianatan ketiga setelah 1926 dan 1948. Kali ini pada tragedi malam G30S/PKI mereka menculik 7 (tujuh) Jenderal penting TNI-AD yang difitnah telah membentuk gerakan Dewan Jenderal untuk melakukan Kudeta terhadap pemerintahan Presiden Soekarno kala itu.
Enam Jenderal berikut Satu Perwira TNI-AD yang menjadi korban pembunuhan sadis PKI dalam rangka usahanya melakukan kudeta atas pemerintahan yang sah tersebut adalah : Jenderal Ahmad Yani, LetJend R.Soeprapto, LetJend MT.Haryono, LetJend S.Parman, MayJend DI.Pandjaitan, MayJend Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Tendean.
Selain ketujuh Jenderal TNI-AD tersebut, pada malam tragedi G30S/PKI turut gugur AIP Karel Satsuitubun (KS.Tubun) seorang perwira Polisi yang bertugas jaga di rumah J.Leimena (tetangga Jenderal AH.Nasution), BrigJend Katamso Darmokusumo yang kala itu sebagai Danrem 072/Yogyakarta dan Kolonel R.Sugiyono Mangunwiyoto sebagai Kasrem, serta Ade Irma Suryani Nasution, putri Jenderal AH.Nasution yang terkena peluru nyasar pasukan PKI saat ingin menangkap Nasution di rumah kediamannya. 
AIP KS.Tubun tewas ditempat setelah tertembus peluru dalam baku tembak dengan anggota pasukan PKI yang sebenarnya bermaksud menculik Jenderal AH.Nasution (tetangga J.Leimena) namun Jenderal AH.Nasution akhirnya selamat setelah tergantikan oleh tindakan heroik ajudannya sendiri yakni Kapten Pierre Tendean. Sedangkan Brigjend Katamso dan Kolonel Sugiyono dibunuh oleh pasukan Yon L Kentungan yang sudah dipengaruhi oleh PKI dan dikubur hidup-hidup dalam satu lubang yang sama dalam peristiwa malam 30 September 1965 yang dikenal dengan Peristiwa Kentungan.
Peristiwa G30S/PKI dapat diredam berkat kesigapan Pangkostrad MayJend TNI Soeharto kala itu untuk segera mengerahkan prajurit-prajurit RP-KAD melakukan penyisiran lokasi Ibukota, merebut RRI (Radio Republik Indonesia), hingga melakukan operasi penumpasan di lokasi Lubang Buaya Jakarta timur.
Dari rentetan peristiwa diatas, ada beberapa hal yang dapat dicermati terkait modus-modus PKI (Partai Komunis Indonesia) dalam menelikung Bangsa dan Negara ini demi mengganti Pancasila dengan ideologi Komunis ala Lenin. Dan semuanya diawali dengan hasutan, fitnah, serta penggiringan opini yang mengatasnamakan kepentingan rakyat kecil atau rakyat jelata.
Penggunaan warna hitam, merah, lambang palu arit yang dikombinasikan dengan burung merpati putih (lambang , pembentukan sayap organisasi dengan nama-nama bernafaskan kerakyatan dan demokrasi seperti contoh : FDR (Front Demokrasi Rakyat), SARBUPRI (Serikat Buruh Perkebunan Indonesia), SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), API (Angkatan Pemuda Indonesia), AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia), BTI (Barisan Tani Indonesia), GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia), PR (Pemuda Rakyat), CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia), Laskar Hitam, serta masih banyak lagi aliansi-aliansi berikut sayap-sayap organisasi PKI dimana mereka mengadaptasi beragam istilah berbau kerakyatan untuk membius ranah kognitif masyarakat Indonesia.
Menurut salah seorang pemerhati sekaligus pelaku sejarah saksi kebengisan PKI yaitu Taufiq Ismail yang juga adalah seorang sastrawan Indonesia, tidak hanya sebatas itu saja usaha PKI dalam mempengaruhi rakyat Indonesia. Selain penggunaan atribut maupun istilah-istilah nama organisasi berbau demokrasi kerakyatan, mereka juga memiliki doktrin yang mengijinkan seluruh anggotanya menggunakan cara sadis untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan, bahkan jika menemukan kegagalanpun maka mereka disahkan untuk melakukan perlakuan sadis seperti penyiksaan dan pembunuhan.
” Ada 14 Doktrin PKI terhadap anggotanya, tiga diantaranya adalah Berbohong, Melakukan fitnah, dan Membunuh. Dan hal itu sudah dipraktekkan Musso kala berpidato di Madiun dimana ia mengaku sebagai titisan nabi Musa (nama Musso dipelesetkan menjadi Musa) sehingga masyarakat Indonesia yang adalah sangat tradisional dan relijius terbius akan kata-kata Musso,” papar Taufiq Ismail kepada Cendana News.
” Namun Musso ya Musso sedangkan Soekarno adalah Soekarno, saat mengetahui Musso melakukan pemberontakan bersama PKI di Madiun, Presiden Soekarno turun pidato di Yogyakarta dan memberi rakyat dua pilihan yaitu Soekarno atau Musso. Dan Rakyat memilih Soekarno. Akhirnya ditumpaslah Pemberontakan PKI di Madiun tersebut diikuti dengan tertembak matinya Musso di desa Semanding, kecamatan Somoroto oleh pasukan TNI,” lanjut Taufiq.
Setelah era percobaan pemberontakan tahun 1926 dan 1948, menuju pemberontakan ketiga PKI di tahun 1965, mereka banyak menggunakan cara hasutan dan penetrasi politik secara senyap melalui berbagai sisi. Namun tujuan utama mereka adalah melemahkan kekuatan Angkatan Bersenjata RI dan meruntuhkan pengaruh tokoh-tokoh masyarakat dalam hal ini Alim Ulama. Namun tetap saja, Bangsa ini memiliki filter yang kuat menghadapi mereka, yaitu Pancasila terutama Sila Pertama yakni ” Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Tidak ada Agama manapun di dunia ini yang mengajarkan pembunuhan massal. Dan tidak ada Kitab Suci manapun dari berbagai Agama di dunia ini yang menghalalkan segala cara bagi umat manusia dalam menggapai keinginan-keinginannya. Filter inilah yang berhasil menyaring manuver-manuver PKI untuk menjejalkan faham Komunisnya di Indonesia.
Di era demokrasi dan reformasi sekarang ini banyak tragedi maupun peristiwa janggal yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, sebut saja aksi teror di Yogyakarta dari orang tak dikenal terhadap wanita, penembakan orang tak dikenal, sampai aksi-aksi demonstrasi anarkis yang berkedok membela kepentingan rakyat. 
Namun di jaman sekarang boleh dikatakan tidaklah mungkin para simpatisan PKI yang mencoba melakukan gerakan propaganda bawah tanah akan melakukan pembunuhan massal, karena banyak sekali faktor yang akan menjadi pertimbangan mereka. Modus mereka jika dicermati tetap menggunakan modus lama akan tetapi lebih menggunakan pendekatan humanis yang menghargai Hak Asasi Manusia dengan nama Komunis Gaya Baru atau disingkat KGB. Bahkan di era sekarang ini, bukan tidak mungkin PKI akan “berdamai” dengan salah satu musuh besarnya yaitu Islam. Kemungkinan ini masih sebuah konstruksi prematur akan tetapi hal itu yang harus dilakukan PKI jika ingin bangkit kembali di Bumi Indonesia, Hanya saja permasalahannya sekarang adalah tidak akan mungkin Islam mau berdamai dengan ideologi Komunis yang sudah jelas-jelas berdasarkan asas Anti-Tuhan, walaupun pada kenyataannya ada aliran Komunis yang mengijinkan para anggotanya memeluk agama sesuai keinginan masing-masing.
” aliran Komunis yang mengakui Tuhan dan Agama itu ada, contohnya adalah dulu saat Tan Malaka keluar dari PKI karena berselisih pendapat dengan Musso terkait rencana pemberontakan tahun 1926, ia kemudian masuk Partai Murba. Dan Murba itu adalah Partai berasas Komunis Leninisme namun mengakui eksistensi Tuhan dan Agama,” jelas Taufiq Ismail lagi.
” tapi jangan khawatir, Indonesia punya TNI dengan Sapta Marga mereka yang begitu kuat mengakar di dalam diri setiap prajuritnya. Lalu Indonesia punya Pancasila dan orang-orang yang tidak ingin masa kelam Komunisme bangkit di bumi pertiwi. Lagi pula jika memang Indonesia lemah maka sudah sejak lama Negara ini menganut sistim Komunis,” pungkas Taufiq Ismail mengakhiri pembicaraannya dengan Cendana News.
Indonesia Negara kuat yang berisi rakyat yang taat akan Tuhan melalui ajaran-ajaran Agamanya masing-masing. Tidak mungkin faham komunis akan eksis di Bumi Pertiwi, hanya saja perlu mewaspadai pergerakan mereka. Salah satu kewaspadaan Bangsa Indonesia adalah jangan sampai pengikut-pengikut PKI di era demokrasi dan reformasi ini berhasil untuk memperjuangkan tiga tuntutan mereka yaitu :
1. Pencabutan TAP MPR/MPRS No.25/1966 tentang larangan Partai Komunis Indonesia
2. Pencabutan UU No.27/1999 tentang makar dan larangan penyebaran ajaran komunisme/marxisme dan leninisme
3. Usaha rekonsiliasi sepihak dengan tujuan agar Pemerintah RI meminta maaf kepada PKI terkait Peristiwa G30S/PKI dimana PKI menuding mereka adalah korban fitnah sehingga melanggar Hak Asasi mereka sebagai manusia merdeka.
Sejarah telah mengajarkan Bangsa Indonesia akan banyak hal. Dan Bangsa ini harus belajar dari sejarah serta jangan sampai melupakan sejarah bahwa bangsa ini pernah termutilasi selama bertahun-tahun oleh usaha PKI untuk mengganti Pancasila. Jangan sampai terperosok lagi ke jurang yang sama.(Miechell Koagouw)
Sumber : Pusat Sejarah TNI Monumen Lubang Buaya dan Museum Pengkhianatan PKI Lubang Buaya Jakarta timur.
Lihat juga...