RABU, 27 JULI 2016
JAKARTA — Taman Mini Indonesia Indah berhasil membentuk sebuah destinasi kunjungan wisata budaya dari sisi kunjungan Wisatawan mancanegara (Wisman). Ada beberapa Anjungan provinsi di TMII yang masuk jajaran anjungan yang banyak menerima kunjungan wisman di TMII, diantaranya adalah anjungan provinsi Bali, Papua, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Anjungan Sulawesi Selatan.
![]() |
| Andi Satriani,S.Sos, Kepala Anjungan Sulawesi selatan Taman Mini Indonesia Indah |
Khusus untuk anjungan Sulawesi Selatan, daya tarik terbesar dari wisman adalah Tongkonan dan Liang, yaitu rumah adat suku Toraja serta kuburan batu khas Tana Toraja. Tidak dapat dipungkiri, semua tentang Tana Toraja sudah terkenal hingga ke mancanegara. Selain usaha pemerintah sejak era Presiden HM. Soeharto, hal ini turut menjadi kredensial positif dari hasil kerja keras pihak pengelola anjungan Sulawesi Selatan dengan menyentuh tiap sisi kreatifitas promosi terkait Sulawesi selatan berikut Tana Toraja yang menjadi salah satu bagian besar didalamnya.
Andi Satriani,S.Sos, Kepala Anjungan provinsi Sulawesi Selatan TMII menjelaskan kepada Cendana News bahwa upaya dirinya bersama seluruh anggota tim pengelola anjungan untuk terus meningkatkan jumlah kunjungan ke anjungan diantaranya adalah melalui media sosial dan perbaikan pelayanan kepada setiap pengunjung tanpa terkecuali.
“Wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman) kami perlakukan sama, akan tetapi untuk mengantisipasi kunjungan wisman maka kami menempatkan pemandu wisata terbaik yang mengerti budaya Sulawesi Selatan serta memiliki kemampuan bahasa asing yang baik,” terang Andi kepada Cendana News di rumah adat Tongkonan Toraja, Anjungan Sulawesi Selatan TMII.
“Dan memang benar, Tongkonan yang adalah Rumah adat Toraja merupakan daya pikat utama anjungan Sulawesi Selatan terutama bagi wisman. Oleh karena itu penunjukkan kami atas Ibu Megawati sebagai pemandu wisata adat budaya Tana Toraja sudah tepat. Beliau asli Toraja dengan latar belakang pendidikan budaya yang bagus serta memiliki kemampuan bahasa asing yang baik pula,” tambahnya.
Anjungan provinsi Sulawesi Selatan khususnya rumah adat Tongkonan selalu mendapatkan kunjungan dari tamu-tamu penting maupun pejabat-pejabat pemerintahan negara sahabat. Daya tarik budaya dan tradisi Tana Toraja diyakini menjadi magnet abadi bagi anjungan sejak awal berdirinya hingga saat ini.
” Tanggal 28 April 2016 kami baru saja menerima kunjungan Ibu Negara Serbia, Mrs. Dragica Nikolic secara protokoler. Beliau sangat terkesan dengan anjungan Sulawesi Selatan khususnya budaya Toraja yang memang sudah menjadi incaran kunjungan beliau jika ke Indonesia,” kenang Andi.
“Masih banyak lagi pejabat negara sampai atase militer negara sahabat yang khusus datang ke Indonesia untuk melihat dari dekat rumah adat Tongkonan khas Tana Toraja di anjungan Sulawesi Selatan TMII sejak dulu hingga sekarang. Bahkan tanggal 26 Mei 2016 kami baru saja menerima tamu para atase militer Singapura,” lanjutnya.
Pencapaian anjungan Sulawesi Selatan selama ini merupakan hasil tuai strategi jitu pengelola dalam menjalankan keseharian anjungan. Maksudnya adalah pengelola tidak semata mengejar target pengunjung untuk menggunakan jasa wisata ke provinsi Sulawesi Selatan akan tetapi mengedepankan bagaimana cara memperkenalkan terlebih dahulu budaya Sulawesi Selatan kepada para wisatawan baik wisman maupun wisnus. Setelah itu, barulah mereka akan mengarahkan untuk kunjungan wisata ke destinasi-destinasi wisata tertentu yang ada di provinsi Sulawesi Selatan.
“Dalam kacamata dan hemat kami, jika seseorang sudah mengenal budaya maupun seni tradisional sebuah daerah tertentu di Indonesia terlebih dahulu secara jelas maka ia akan tertarik untuk mengunjungi daerah tersebut. Kami secara psikologis memancing rasa penasaran mereka,” kata Andi lagi.
Disamping itu, strategi menempatkan budaya Tana Toraja dengan rumah adat Tongkonan dirasa efektif dalam mendongkrak kunjungan wisatawan baik ke anjungan Sulawesi Selatan TMII maupun ke provinsi Sulawesi Selatan sendiri secara langsung.
Berdasarkan persentase data kunjungan wisata ke anjungan Sulawesi Selatan, sejak Januari 2015 hingga Januari 2016 sekitar 65% wisatawan yang berkunjung adalah wisman (wisatawan mancanegara), sisanya 35% adalah wisnus (wisatawan nusantara) atau disebut juga domestik.
Untuk persentase kunjungan mulai Januari 2016 hingga Juni 2016, jika diambil dari laporan triwulan sejak Januari 2016 maka sudah berkunjung sekitar 2.000 orang wisatawan dengan persentase 75% wisman dan 25% wisnus. Ada peningkatan secara persentase dari kunjungan wisman namun ada penurunan dari kunjungan wisnus.
Menyikapi persentase kunjungan wisnus yang kurang menggembirakan ini, maka pengelola anjungan sudah mengajukan kepada pemerintah provinsi Sulawesi Selatan lewat instansi terkait untuk meminta pengiriman satu unit Kapal Layar Bugis asli dari Sulawesi Selatan. Kantor Penghubung Provinsi Sulawesi Selatan di Jakarta bersinergi dengan Pengelola anjungan Sulawesi Selatan TMII sudah mengajukan permintaan tersebut dan mendapatkan persetujuan pemerintah provinsi Sulawesi Selatan.
Dasar pemikiran keputusan mendatangkan perahu layar Bugis asli ke anjungan Sulawesi Selatan cukup sederhana. Pihak pengelola anjungan menilai bahwa mereka harus bisa memanfaatkan perilaku masyarakat Indonesia dalam penggunaan smartphone, yaitu selfie. Dan akan menjadi daya tarik tersendiri jika pengunjung terutama wisatawan lokal atau disebut wisnus diberikan kebebasan naik ke atas kapal, berkeliling ke tiap ruangan sambil mereka berfoto.
“sebenarnya bukan masyarakat Indonesia saja yang suka selfie, akan tetapi orang Indonesia itu memiliki ketertarikan lebih banyak jika selfie dengan kamera smartphone. Dan kapal layar Bugis dapat menjadi peluru andalan baru kami dari anjungan dalam upaya mendongkrak angka kunjungan wisatawan dalam negeri ke anjungan Sulawesi Selatan TMII,” jelas Andi lagi.
Dengan datangnya perahu layar Bugis tahun ini, maka kedepannya anjungan Sulawesi Selatan sudah dirasa lengkap. Karena dua sisi menarik dari provinsi ini sudah ada semuanya. Dari rumah adat Tongkonan dan liang lahat batu milik Tana Toraja, serta perahu layar Bugis yang sangat terkenal itupun akhirnya berlabuh menambatkan sauhnya abadi di anjungan Sulawesi Selatan. (Miechell Koagouw)