Mebel Kayu Lapis, Media Berkreasi Sembari Mendulang Untung

SENIN, 19 JULI 2016

YOGYAKARTA — Dengan modal patungan bersama dua teman, alumni sebuah perguruan tinggi jurusan arsitektur di Yogyakarta, Deni Yudistira (27), membuat usaha furniture atau mebel kayu lapis. Jenis usaha itu dipilih karena resiko kerugian dan modalnya yang relatif kecil, namun peluang ekonominya cukup besar. Pasalnya, dengan bahan yang murah namun berkesan modern dan ekslusif, beragam model furniture berbahan kayu lapis bisa menyasar kalangan bawah maupun menengah dan atas.

Deni Yudistira 
Beragam produk mebel berupa kursi, meja, almari dan bufet berbahan kayu lapis, selama ini dipilih karena bentuk desain dan tampilannya yang berkesan modern dan eklusive. Permukaannya yang berlapiskan bahan yang disebut High Pressure Laminate (HPL), membuat barang-barang mebel dari kayu lapis terasa halus disentuh dan licin sehingga berkesan bersih. Karenanya, beragam mebel kayu lapis sering digunakan untuk melengkapi kebutuhan furniture di sebuah perpustakaan, kafe atau sebuah kantor, bahkan juga di rumah tangga.
Dengan tampilan produk yang berkesan eklusive dan desain modern, produk mebel kayu lapis pun bisa menyasar ke berbagai kelas ekonomi. Pasalnya, harga mebel berbahan kayu lapis tergolong murah, namun sama sekali jauh dari kesan murahan. Kelebihan dan peluang bisnis itulah yang ditangkap oleh Deni Yudistira bersama dua rekannya, Gemah Titah dan Andreas Budi Susanto.

Mebel kayu lapis

Ditemui di tempat kerjanya, Dusun Mustokorejo, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Selasa (19/7/2016), Deni menjelaskan, pada awalnya usaha mebel kayu lapis itu dilakukan sebagai jalan meniti karier di dunia arsitektur. Pasalnya, merancang berbagai desain produk mebel kayu lapis yang disesuaikan dengan ruang yang tersedia atau yang diinginkan oleh pemesan itu berarti juga merancang desain interior yang merupakan bagian dari arsitektural. Karenanya, bagi Deni, membuat beragam model mebel kayu lapis merupakan media mengembangkan ide dan kreatifitas, dengan resiko dan biaya relatif murah, namun menghasilkan keuntungan.

Kendati masih berskala kecil, lanjut Deni, usaha mebel kayu lapis yang dirintisnya sejak enam bulan ini mampu menghasilkan beragam model almari, meja, kursi yang multifungsi. Misalnya, sebuah meja kerja yang bisa divariasikan dengan almari dinding sehingga bisa menjadi meja rias. Kelebihan mebel kayu lapis, kata Deni, memang pada bentuk atau desainnya yang eklusive, tidak diproduksi massal atau tidak dalam jumlah banyak, dan ringan, namun awet.
Deni mengatakan, kendati mebel kayu lapis terbuat dari multiplek dan blockboard serta HPL, namun kontruksinya diperkuat dengan kayu jati belanda atau kayu bengkirai. Dua jenis kayu tersebut, jati belanda dan kayu bengkirai, harganya juga relatif murah karena diambil dari kayu sisa. Namun demikian, Deni mengatakan, bahan HPL selama ini masih merupakan produk import. Sedangkan, HPL produk dalam negeri kurang tahan lama dan bahkan mudah rusak jika terkena panas. Karena itu, Deni tetap memilih bahan HPL dari luar negeri, untuk menjamin kualitas dan keawetan produknya.
Sementara itu berkait harga jualnya, Deni mematok harga standar untuk beragam produk almari atau sejenisnya sebesar Rp. 1-2 Juta Per Meter, dengan tinggi 2,5 Meter dan kedalaman laci 40 Centimeter. Selama ini, kata Deni, pihaknya baru bisa memenuhi pesanan dari Kota Yogyakarta dan sebagian pesanan lain dari Jakarta, dengan omset perminggu mencapai Rp. 5-7 Juta.

“Tak ada kendala dalam bisnis mebel kayu lapis ini, kecuali distribusi yang mahal karena kami belum memiliki jaringan atau rekanan di bidang ekpedisi barang”, pungkasnya. (koko)

Lihat juga...