Masjid Al-Muqarrabien dan Gereja Mahanaim : Wujud Nyata Pengamalan Pancasila Terancam Program Tata Kota

JUMAT, 22 JULI 2016

JAKARTA — Pasti masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan Pusat Peribadatan dimana dalam satu kompleks terletak rapih lima rumah ibadah dari lima Agama yang ada serta diakui oleh Pemerintah di Indonesia, sebut saja tempat-tempat tersebut adalah Pusat Peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua Bali, Bukit Kasih di Manado Sulawesi utara, Kompleks rumah-rumah Ibadah di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), serta bagaimana Jakarta memiliki Masjid Istiqlal yang dibangun berhadapan muka dengan Gereja Kathedral.

Tampak muka Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien di Jalan Enggano Raya Tanjung Priok Jakarta utara
Ada satu tempat yang luput dari perhatian masyarakat, yaitu Masjid Al-Muqarrabien dan Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Jemaat Mahanaim yang berdiri berdampingan, bahkan menara toa Masjid sudah sejak dahulu kala berada tepat diantara tembak pembatas keduanya. Tempat ibadah yang sudah berdiri berdampingan sejak tahun 1957 ini berada di Jalan Enggano Raya Tanjung Priok Jakarta utara.
Sejarah berdirinya kedua rumah ibadah ini diawali dari Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Jemaat Mahanaim. Para pelaut Sangihe Talaud yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok dan beragama Kristen merasa kesulitan mencari tempat ibadah di hari minggu saat kapal mereka sedang berlabuh. Akhirnya Jawatan Pelayaran kala itu (kedepannya dikenal dengan Departemen Perhubungan Laut – Deperla) mengijinkan para pelaut tersebut menggunakan sebuah gudang diatas tanah Deperla di Jalan Enggano Raya tepat didepan Pos masuk Pelabuhan.
Kegiatan masyarakat untuk beribadah di dalam Masjid Al-Muqarrabien
Semakin lama, tempat ibadah semakin penuh sesak oleh keluarga-keluarga para pelaut yang datang disekitar Tanjung priok untuk ikut beribadah sekaligus berkumpul bersama setelah lama terpisah. Melihat keadaan tersebut, maka Jawatan Pelayaran menghibahkan tanah tersebut dengan sertifikat HGB (Hak Guna Bangun) kepada Yayasan Sengkanaung (artinya ; sehati dan sejiwa) yang merupakan yayasan yang berisi paguyuban warga Sangihe Talaud di Jakarta. 
Ketua Jemaat GMIST yaitu Pdt.Beatris Manuahe-Marasut,S.Th menceritakan kepada Cendana News, pada perkembangan selanjutnya, dari Yayasan Sengkanaung meneruskan tanah hibah ini untuk dipergunakan oleh Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) yang menamakan kumpulan Jemaat tersebut dengan nama Jemaat Mahanaim.
” itulah sejarah singkat bagaimana kami ada, dan tidak lama setelah berdirinya Gereja ini, maka berdiri pula saudara kami yaitu Masjid Al-Muqarrabien,” kata Beatris Manuahe kepada Cendana News.
Melanjutkan kisah Ketua Jemaat GMIST, maka pada tahun 1958 yaitu setahun setelah berdirinya Gereja Mahanaim, maka berdiri megah disamping mereka Masjid Al-Muqarrabien oleh (Alm) Bpk.H.Abdul Aziz Ali,SH. 
Sejarah pendirian adalah sama dengan Gereja Mahanaim, yaitu Masjid Al-Muqarrabien merupakan jawaban kepedulian H.Abdul Aziz Ali akan kerinduan para pelaut yang berlabuh di pelabuhan Tanjung priok untuk dapat menunaikan sholat Jumat atau ibadah sholat lima waktu di dalam sebuah Masjid secara berjemaah. Setelah mendapatkan tanah hibah dari Jawatan Pelayaran, maka H.Abdul Aziz Ali membangun Masjid Al-Muqarrabien dibawah sebuah yayasan bernama Yayasan Masjid Al-Muqarrabien.
Ruangan ibadah Gereja Mahanaim
Istri dari (Alm) H.Abdul Aziz Ali yaitu Ibu Hajjah Aisah Abdul Aziz Ali yang ditemui Cendana News menjelaskan bahwa Masjid Al-Muqarrabien saat ini dipimpin oleh Imam Besar bernama KH.Muhammad dengan dibantu seorang Marbot bernama Sulaiman Rompas. Adapun pengelolaan Yayasan sekarang dilanjutkan oleh puteranya bernama H.Mohammad Tawaqal,SH.MM dengan tetap menjaga keharmonisan dengan Gereja Mahanaim dimana toleransi dan keharmonisan tersebut sudah sejak lama dibangun oleh H.Abdul Aziz Ali semasa hidup beliau.
” bahkan sebelum wafat, salah satu pesan Bapak adalah menitipkan sekaligus menjaga Gereja Mahanaim,” kenang Ibu Aisah.
Perjalanan Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien yang berdiri berdampingan antara bangunan dengan seisinya berikut jemaat masing-masing walau tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, namun ternyata terekam rapih oleh masyarakat Internasional. 
Menurut Marbot Sulaiman Rompas, Masjid Al-Muqarrabien banyak disambangi oleh para pelancong dari berbagai belahan dunia, diantaranya Filipina, Kroasia, Vietnam, Qatar, dan banyak lagi negara-negara baik dari Eropa maupun Asia serta Timur tengah.
” ada kejadian berkesan dimana saat pelaut-pelaut Filipina berlabuh di Tanjung priok, mereka melihat Masjid dan Gereja yang berdampingan ini. Lalu mereka berduyun-duyun datang menemui saya sambil bertanya tentang asal-usul sampai bisa berdiri berdampingan,” kenang Sulaiman.
Sedangkan kunjungan masyarakat Internasional yang paling berkesan bagi Gereja Mahanaim adalah kunjungan stasiun TV Al-Jazeera, Qatar ke Gereja Mahanaim pada tahun 2014. Stasiun TV ternama berbahasa Arab dan Inggris tersebut memang khusus datang untuk meliput salah satu wujud keharmonisan antar umat beragama yang terjadi di Indonesia.
” yang membuat kami terharu adalah mereka (stasiun TV Al-Jazeera) datang, menunggu kami selesai melaksanakan ibadah rutin hari minggu, lalu mewawancarai kami terlebih dahulu sebelum mereka berkunjung ke Masjid Al-Muqarrabien. Buat sebagian orang mungkin tidak memperhatikan detil sekecil ini, tapi bagi media Internasional seperti mereka hal tersebut adalah wujud toleransi mereka. Dan perlakuan mereka membuat kami merasa dihargai,” papar Pdt. Beatris Manuahe-Marasut kepada Cendana News.
” dan saat mereka bertanya mengapa Gereja kami bisa berdampingan dengan Masjid, jawaban kami adalah karena Pancasila, azas negara Republik Indonesia. Pancasila yang mempersatukan kami Bangsa Indonesia dalam keragaman Agama yang kami miliki,” pungkasnya.
Namun saat ini, baik Gereja Mahanaim maupun Masjid Al-Muqarrabien sedang memperjuangkan sesuatu yang cukup besar dan pelik. Berdasarkan cetak biru tata kota Pemprov DKI Jakarta, maka Jalan Raya Enggano Tanjung Priok Jakarta utara hanya diperuntukkan bangunan perkantoran dan bisnis lainnya bukanlah rumah peribadatan. Bahkan Gereja Mahanaim masuk dalam jalur hijau tata kota Pemprov DKI Jakarta.
Ada rencana pelebaran jalan Enggano Raya sepanjang 8-20 meter, sehingga jika hal itu terjadi maka seluruh halaman Masjid maupun Gereja harus di bongkar. Ditambah letak Gereja Mahanaim yang berada di jalur hijau tata kota DKI Jakarta, maka jika Pemprov DKI harus membangun jalur hijau sesuai cetak biru tata kota tersebut maka Gereja Mahanaim akan dibongkar separuh dari bangunannya.
Wakil Sekretaris harian Gereja Mahanaim, Merry Dauhan mengatakan saat ini pihak manajemen Gereja Mahanaim sudah melakukan lobi intensif dengan pejabat Pemprov sejak era Gubernur Joko Widodo, namun sampai sekarang sudah digantikan oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama belum ada perkembangan yang menggembirakan.
” Pak Ahok itu orangnya tegas jika sudah berbenturan dengan peraturan daerah. Semoga beliau memberikan Masjid dan Gereja ini dispensasi khusus, mengingat kami berdua adalah tempat peribadatan dengan catatan sejarah yang cukup panjang,” harap Merry Dauhan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu Hajjah Aisah Abdul Aziz Ali yang sekarang meneruskan tongkat estafet kepengurusan Masjid Al-Muqarrabien dari mendiang suaminya H.Abdul Azis Ali.
” semoga Allah memberikan kelembutan hati kepada Bapak Gubernur Ahok agar tetap memberikan Gereja dan Masjid ini kesempatan untuk terus memiliki bangunan kami sekaligus melayani para jemaah kami masing-masing dalam menunaikan peribadatannya,” ucap Ibu Hajjar Aisah kepada Cendana News.
Bahkan Marbot Sulaiman Rompas yang sudah sejak tahun 1960 menjadi pengurus Masjid Al-Muqarrabien memberikan sebuah pernyataan membangun moril yang mengharukan.
” membongkar salah satu dari kami (Masjid dan Gereja) sama halnya memisahkan antara jiwa dan raga seorang manusia. Mohon Pak Gubernur mempertimbangkan dengan hati sebelum bertindak,” pungkas Sulaiman.
Betapa kenyataan yang membanggakan bagi seluruh rakyat Indonesia mengetahui bahwa diantara keragaman yang dimiliki Bangsa ini, tetap bisa hidup berdampingan dengan saling menjaga keharmonisan. Sejarah mencatat bagaimana Masjid Al-Muqarrabien dan Gereja Mahanaim berhasil mewujudkan apa yang digagas oleh para founding father yang dengan susah payah merumuskan azas negara Pancasila.
Harapan semua pihak kedepannya, Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabien sebagai wujud nyata bagaimana pengamalan Pancasila dilakukan oleh masyarakat Indonesia tetap ada dengan utuh. Semoga harapan-harapan kecil dari Masjid Al-Muqarrabien dan Gereja Mahanaim bisa didengar oleh para pembesar Pemprov DKI Jakarta, bahkan oleh Pembesar dari Pemerintah Republik Indonesia.(Miechell Koagouw)
Lihat juga...