Kantor Balai Karantina Ikan Lampung Pantau Sejumlah Tambak di Pesisir Barat

JUMAT, 29 JULI 2016

LAMPUNG — Kantor balai karantina ikan, pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan kelas I Lampung wilayah kerja Bakauheni melakukan pemantauan (monitoring) ke sejumlah lokasi budidaya tambak khususnya budidaya udang jenis Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei). Menurut salah satu anggota tim pemantauan dan pengawasan tersebut, Catur S Udiyanto yang juga wakil kepala kantor balai karantina ikan, pemantauan dilakukan di sejumlah tambak milik perseorangan maupun perusahaan yang berada di Kabupaten Pesisir Barat Lampung.

Pemantauan dan monitoring di tempat karantina ikan
Catur mengungkapkan kegiatan pemantauan tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilakukan untuk melakukan pemantauan atau monitoring terhadap  HPI/HPIK (Hama Dan Penyakit Ikan / Hama dan Penyakit Ikan Karantina) di wilayah Pesisir Barat yang berhadapan dengan Samudera Indonesia dan sebagian besar memelihara jenis udang vannamei ( Litopenaeus vannamei).
Sebelumnya pemantauan juga dilakukan oleh tim dari balai karantina ikan di sejumlah tambak udang di Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Lampung Selatan dan bulan ini dilakukan pemantauan di Kabupaten Pesisir Barat.
Catur S Udiyanto salah satu anggota tim pemantauan dan pengawasan
“Pemantauan dilakukan untuk memeriksa dan mengantisipasi komoditas perikanan khususnya udang dari jenis hama,virus dan bakteri karena udang tersebut umumnya akan dilalulintaskan ke luar Lampung atau luar Sumatera menuju Pulau Jawa” ungkap Catur S Udiyanto kepada media Cendana News, Jumat (29/7/2016)
Pemantauan tersebut lanjut Catur melibatkan tim yang juga membawa peralatan pengambilan sampel yang akan dibawa ke laboratorium diantaranya kualitas air serta pengaruh bagi udang budidaya yang hasilnya akan diketahui oleh masing masing pemilik tambak sepekan sesudah pengambilan sampel dilakukan.
Selama pemantauan,sejauh ini Catur mengungkapkan belum menemukan hama,virus atau bakteri yang membahayakan udang tambak jenis vaname di area tambak di Pesisir Barat. Namun ia menghimbau kepada petambak untuk mewaspadai berbagai jenis penyakit yang menyerang udang dalam masa pemeliharaan.
“Kondisi cuaca dan penanganan yang kurang maksimal tentunya akan berpengaruh pada hasil udang yang dibudidayakan sehingga petambak harus rajin melakukan pengecekan areal tambak”ungkapnya.
Ia menjelaskan,beberapa virus yang kerap menyerang komoditas udang di tambak diantaranya jenis white spot syndrome virus (WSSV) atau yang dikenal dikalangan petambak sebagai virus bintik putih atau panu. Selain itu taura syndrome virus (TSV) juga kerap menghantui para petambak udang. Langkah memutus mata rantai virus tersebut dapat dilakukan dengan melakukan deteksi dini melalui metode polymerase chain reaction (PCR) atau reaksi rantai polimerase.
“Tentunya semua pemeriksaan tersebut tak hanya dilihat secara kasat mata terutama pemeriksaan kadar air yang hasilnya baru bisa dilihat setelah dilakukan uji laboratorium”ungkap Catur.
Kegiatan rutin pemantauan ke sejumlah areal tambak di wilayah Provinsi Lampung ungkap Catur merupakan tugas pengawasan Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan terhadap komoditas yang akan dilalulintaskan dari Pulau Sumatera melalui Pelabuhan Bakauheni. Berdasarkan data karantina ikan selama ini distribusi serta lalu lintas udang asal wilayah Provinsi Lampung dominan dikirim ke Pulau Jawa untuk konsumsi domestik dan sebagian di ekspor melalui Tanjung Priok. Pengendalian mutu telah dilakukan sejak udang masih berada di tambak untuk melindungi konsumen yang akan membeli komoditas perikanan di pasaran.(Henk Widi)
Lihat juga...